RSS

GENERAL KNOWLEDGE

24 Jun

A.    PENDAHULUAN

Bab ini akan membahas sifat latar belakang pengetahuan kita, yaitu pengetahuan yang menginformasikan dan mempengaruhi proses-proses kognitif seperti memori dan kognisi ruang. Kita akan membahas dua topik utama: memori semantik dan skema.

Memori semantik adalah pengetahuan terorganisir kita mengenai dunia. Kita akan melihat empat  kategori teori yang menjelaskan bagaimana semua informasi ini dapat disimpan dalam memori semantik. Teori ini saling mempengaruhi satu sama lain, tetapi menekankan aspek yang berbeda dari memori semantik. Misalkan Anda sedang berusaha memutuskan apakah sebuah benda dalam toko bahan makanan adalah buah apel. Model perbandingan ciri mengusulkan agar Anda memeriksa daftar dari ciri-ciri yang diperlukan seperti warna, ukuran, dan bentuk untuk menentukan apakah itu apel. Pendekatan prototipe menganjurkan agar anda memutuskan apakah benda itu apel melalui pembandingannya dengan apel yang diidealkan (idealized apple) yang paling tipikal dari kategori itu. Pendekatan eksemplar menekankan agar anda memutuskan apakah ia apel melalui pembandingannya dengan sejumlah contoh spesifik apel yang sangat anda kenal (seperti apel McIntosh, Ida Red, dan Fuji).  Ketiga teori ini memberi perhatian mengenai keanggotaan kategori. Di pihak lain, model-model jaringan yang dijelaskan dalam bab ini menekankan interkoneksi di antara item-item terkait; contohnya, sebuah apel dapat dikaitkan dengan item-item lain seperti merah, mengandung biji, dan pear. (Secara sepintas, anda sudah mempunyai latar belakang tertentu mengenai model jaringan yang paling menonjol, yakni pendekatan pemprosesan terdistribusi paralel).

Skema dan skrip berlaku pada kelompok-kelompok pengetahuan yang lebih besar. Skema adalah jenis pengetahuan yang digeneralisasi mengenai situasi dan peristiwa. Satu jenis skema dinamakan skrip (naskah); skrip menggambarkan rangkaian peristiwa yang diperkirakan. Contohnya, sebagian besar orang mempunyai “skrip restoran” yang dirumuskan dengan baik, yang menspesifikasi semua peristiwa yang mungkin terjadi ketika anda makan malam di restauran. Skema mempengaruhi memori anda selama empat proses: pemilihan bahan yang ingin kita ingat, penyimpanan makna dari pesan verbal, penginterpretasian bahan, dan pembentukan satu representasi terpadu dalam memori. Skema dapat menyebabkan ketidakakuratan selama tahap-tahap ini, tetapi kita sering lebih akurat dari yang dikemukakan oleh teori skema.

Di bawah ini akan dijelaskan sifat pengetahuan umum, memori semantik, skema, dan teori-teori yang melatar belakanginya.

 B.     MEMORI SEMANTIK, SKEMA, DAN SKRIP

1.      STRUKTUR MEMORI SEMANTIK

Memori semantik merupakan pengetahuan terorganisir mengenai dunia. Hal ini berbeda dengan memori episodik yaitu memori yang memuat informasi mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kita. Umumnya memori semantik merujuk pada pengetahuan atau informasi; tidak menyebut bagaimana informasi itu diperoleh. Contohnya: “Tegucigalpa adalah ibu kota Honduras”. Sedangkan, memori episodik menekankan kapan, di mana, atau bagaimana peristiwa itu terjadi. Contohnya: “Pagi ini saya mengetahui bahwa Tegucigalpa adalah ibu kota Honduras”.

Para psikolog menggunakan istilah memori semantik  dalam pengertian luas dari percakapan normal (Moss & Tyler, 1995). Contohnya, memori semantik mencakup pengetahuan ensiklopedia (misalnya, “Martin Luther King, Jr., lahir di Atlanta, Georgia). Ia juga mencakup pengetahuan leksikal atau pengetahuan bahasa (misalnya, “Kata salju terkait dengan kata hujan”). Selain itu, memori semantik mencakup pengetahuan konseptual (misalnya, “Bujur sangkar mempunyai empat sisi”). Seperti ditunjukkan oleh para peneliti dalam disiplin itu, memori semantik mempengaruhi sebagian besar dari kegiatan kognitif kita. Contohnya, bentuk memori ini diperlukan untuk memecahkan sebuah masalah, menentukan lokasi, dan membaca kalimat (Choben, 1992).

Kategori dan konsep adalah komponen-komponen penting dari memori semantik. Kategori adalah kelas objek-objek yang masuk bersama-sama. Contohnya, beragam objek mewakili sebuah kategori perabot tertentu, semua objek ini dapat dinamakan meja. Psikolog menggunakan istilah konsep untuk merujuk pada representasi mental dari sebuah kategori. Misalnya, Anda mempunyai konsep “meja”, yang merujuk pada representasi mental anda  dari kategori itu. (Secara sepintas, dalam bab ini saya akan mengikuti tradisi dalam psikologi kognitif dalam hal penggunaan huruf miring untuk nama-nama kata aktual, dan tanda kutipan untuk kategori dan konsep).

Memori semantik memungkinkan kita mengkodekan objek-objek yang ada disekitar kita, dengan menggabungkan beragam objek serupa ke dalam konsep yang sama. Proses pengkodean ini mengurangi ruang penyimpanan, karena banyak objek dapat disimpan dengan  label yang sama.  Konsep-konsep juga memungkinkan kita untuk membuat inferensi ketika kita menghadapi contoh-contoh baru dari sebuah kategori. Contohnya, seorang anak mungkin mengetahui bahwa satu anggota dari kategori “meja” mempunyai atribut “Anda dapat menempatkan benda-benda di atas.” Ketika dia menemukan meja baru, dia membuat inferensi (biasanya secara tepat) bahwa anda dapat menempatkan benda-benda di atas meja ini (E.E. Smith, 1995). Seperti kita catat sebelumnya, inferensi-inferensi ini memungkinkan kita untuk bergerak di luar informasi tertentu itu, yang sangat memperluas pengetahuan kita.

Psikolog biasanya mempelajari dua jenis konsep, yaitu konsep natural merujuk pada konsep yang terjadi dalam alam, seperti apel, harimau, dan lengan manusia dan artifak merujuk pada objek yang telah dibentuk oleh manusia seperti meja, jaket, dan buku.  Konsep natural dan artifak disimpan dalam memori semantik.

Terdapat empat pendekatan memori semantik, yaitu model perbandingan ciri, pendekatan prototip, pendekatan eksemplar, dan model jaringan.

1)      Model Perbandingan Ciri

Menurut model perbandingan ciri, konsep-konsep disimpan dalam memori menurut sebuah daftar ciri-ciri atau karakteristik yang diperlukan. Menurut Smith, dkk (1974):

Komponen-komponen structural dari model perbandingan ciri. Pertimbangkan konsep kucing sejenak. Kita dapat menyusun sebuah daftar ciri yang sering relevan pada kucing:

a.       Mempunyai bulu

b.      Tidak menyukai air

c.       Mempunyai empat kaki

d.      Berbunyi meong

e.       Mempunyai ekor

f.       Mengejar tikus

Gambar 7.1

Model perbandingan ciri dari memori semantik.

Sumber: Didasarkan pada Smith, 1978.

 Menurut gambar di atas ada tiga keputusan yang mungkin yaitu: pada Tahap 1. Pertama, term subjek dan term predikat bisa menunjukkan kesamaan rendah dan karena itu orang dengan cepat menjawab “salah” pada pertanyaan itu. Contohnya, pernyataan “kucing adalah pensil” mempunyai kesamaan kecil di antara kedua term sedemikian sehingga anda akan segera menjawab “salah.” Dalam situasi kedua, term subjek dan term predikat bisa menunjukkan kesamaan tinggi, yang mendatangkan jawaban cepat “benar”. “Kucing adalah binatang” mendatangkan jawaban segera “benar”. Tetapi juga term subjek dan term predikat menunjukkan kesamaan antara (intermediate), keputusan memerlukan perbandingan Tahap 2. Contohnya, anda mungkin membutuhkan perbandingan Tahap 2 untuk pernyataan seperti “burung adalah mamalia.” Seperti dapat anda bayangkan, keputusan-keputusan ini membutuhkan waktu yang lebih lama. Perhatikan demonstrasi berikut ini:

Demonstrasi 7.1

Teknik Verifikasi Kalimat

Untuk masing-masing dari item di bawah, jawab secepat mungkin “benar” atau “salah”.

1.      Poodle adalah anjing.

2.      Tupai adalah binatang

3.      Bunga adalah batu

4.      Wortel adalah sayuran

5.      Mangga adalah buah

6.      Petunia adalah pohon

7.      Robin adalah burung

8.      Rutabaga adalah sayuran

Smith, dkk menyatakan bahwa ciri-ciri yang digunakan dalam model perbandingan ciri adalah ciri-ciri penentu atau ciri-ciri khas. Ciri-ciri penentu  adalah ciri-ciri yang perlu untuk makna dari item. Contohnya, ciri-ciri penentu dari seekor robin mencakup bahwa ia hidup dan mempunyai bulu  dan dada merah. Ciri-ciri Khas adalah ciri-ciri yang deskriptif tetapi tidak esensil. Contohnya, ciri-ciri khas dari seekor robin mencakup bahwa ia terbang, bertengger di pohon, tidak diternakkan, dan berukuran kecil.

Riset mengenai model perbandingan ciri. Teknik verifikasi kalimat adalah salah satu alat utama yang digunakan untuk meneliti model perbandingan ciri. Dalam Teknik Verifikasi kalimat orang melihat kalimat sederhana, dan mereka harus menggunakan pengetahuan semantik mereka yang tersimpan untuk menentukan apakah kalimat itu benar atau salah. Demonstrasi 7.1 menunjukkan jenis-jenis item yang disajikan dalam teknik verifikasi kalimat. Umumnya orang sangat akurat pada tugas ini, sehingga peneliti tidak perlu membandingkan angka kesalahan di seluruh kondisi eksperimen. Melainkan mereka mengukur waktu-waktu reaksi. Dua kondisi eksperimen bisa menghasilkan waktu-waktu reaksi yang berbeda sebesar sepersepuluh detik.

Satu temuan umum dalam riset yang menggunakan teknik verifikasi kalimat adalah efek typicality. Dalam efek typicality, orang mencapai keputusan lebih cepat bila sebuah item adalah anggota tipikal dari sebuah kategori, bukan anggota luar biasa. Contohnya, dalam Demonstrasi 7.1, anda akan memutuskan dengan cepat bahwa wortel adalah sayuran, tetapi anda mungkin membutujhkan waktu lama untuk memutuskan bahwa rutabaga adalah sayuran. Dalam sebuah studi representatif, Katz (1981) menyajikan kalimat-kalimat typicality tinggi seperti “bumi bundar” dan kalimat-kalimat  rendah seperti “tong bundar”. Waktu reaksi adalah sekitar 0,3 detik lebih cepat untuk item tipikal dibanding untuk item atipikal, suatu perbedaan yang signifikan secara statistik di antara kedua kondisi.

Model perbandingan ciri dapat menjelaskan hasil-hasil ini. Contohnya, wortel adalah anggota tipikal dari kategorinya, sehingga ciri-ciri wortel dan sayuran sangat serupa. Orang-orang cepat menjawab pertanyaan “Apakah wortel merupakan sayuran?” karena mereka hanya memerlukan pemprosesan Tahap 1 dalam model. Tetapi rutabaga adalah contoh dari sayuran atipikal.  Orang-orang memerlukan jauh lebih lama untuk menjawab pertanyaan “Apakah rutabaga merupakan sayuran?” karena keputusan itu memerlukan pemprosesan Tahap 2, dan juga pemprosesan Tahap 1.

Riset mengenai aspek lain dari model perbandingan ciri jelas kontradiksi dengan model tersebut. Secara spesifik, sebuah masalah utama dengan perbandingan ciri adalah bahwa sangat sedikit dari konsep yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari dapat ditangkap oleh sebuah daftar ciri-ciri yang perlu (Hahn & Chater, 1997). Contohya, Sloman dkk (1998) meminta sejumlah mahasiswa untuk membuat pertimbangkan mengenai beberapa konsep natural (contohnya, “Robin”) dan artifak (contohnya, “sekitar”). Dalam studi ini, mahasiswa disuruh untuk menilai apakah mereka dapat membayangkan satu contoh dari konsep yang tidak mempunyai sebuah karakter tertentu. Dalam kenyataannya, mereka dapat membayangkan seekor Robin yang tidak terbang, tidak makan, tidak mempunyai bulu, dan tidak mempunyai dada merah! Maka perhatikan bahwa mereka tidak yakin bahwa suatu ciri tertentu mutlak perlu untuk dimiliki seekor robin; berbeda dengan teori, kategori “Robin” ini tidak benar-benar mempunyai semua ciri esensil. Sloman dkk juga menemukan bahwa artifak tidak memiliki ciri-ciri penentu yang esensil.

Kesimpulan mengenai perbandingan ciri. Kita telah melihat bahwa perbandingan ciri dapat menjelaskan efek typicality. Tetapi riset tidak mendukung ide bahwa keanggotaan kategori didasarkan pada sebuah daftar dari ciri-ciri yang perlu.

Masalah lainnya dengan perbandingan ciri adalah asumsinya bahwa ciri-ciri individual independen satu sama lain. Dalam kenyataannya, untuk konsep-konsep natural, ciri-ciri cenderung berkorelasi. Contohnya, objek-objek yang mempunyai daun tidak mungkin mempunyai kaki atau bulu. Di pihak lain, objek-objek yang mempunyai bulu sangat mungkin mempunyai kaki. Terakhir, perbandingan ciri tidak menjelaskan bagaimana para anggota kategori terkait satu sama lain (Barselou, 1992).

 2)      Pendekatan Prototip

Menurut Eleanor Rosch, kita mengorganisir masing-masing kategori atas dasar prototip, yaitu item yang diidealkan yang paling prototip dari kategori (Hampton, 1997a; Rosch, 1973).

Menurut pendekatan prototip, kita memutuskan apakah sebuah item masuk pada sebuah kategori dengan membandingkan item itu dengan sebuah prototip. Jika item serupa dengan prototip, anda memasukkan item itu dalam kategori tersebut. Contohnya, anda menyimpulkan bahwa robin adalah seekor burung karena ia cocok dengan prototip ideal anda untuk seekor burung. Tetapi jika item yang sedang anda nilai cukup berbeda dari prototip, anda menempatkannya dalam kategori lain di mana ia lebih mirip dengan prototip kategori itu.

Prototip dari sebuah kategori tidak benar-benar perlu ada (Hahn & Chater, 1997. Markman, 1999). Contohnya, jika saya meminta anda untuk menggambarkan seekor hewan prototipikal, anda mungkin memberitahu kepada saya mengenai seekor mahluk berkaki empat dengan bulu, ekor, dan ukuran yang masuk di antara anjing besar dan sapi—sesuatu yang tidak percis mirip dengan suatu mahluk di bumi.  Jadi prototip adalah contoh abstrak dan yang diidealkan.

Perhatikan bahwa pendekatan prototip tidak memberi perhatian pada rincian yang membuat masing-masing item dalam sebuah kategori unik (Haberlank, 1999). Contohnya, pendekatan ini tidak memberi perhatian pada fakta bahwa pisang mempunyai jenis kulit yang berbeda dari jeruk atau nenas. Semua ketiga item adalah contoh yang sangat baik dari kategori “buah”.

Rosch juga menunjukkan bahwa anggota-anggota dari sebuah kategori berbeda dalam hal prototypically mereka, atau sejauh mana mereka protipikal. Robin dan burung pipit adalah burung-burung yang sangat tipikal, sementara burung unta dan penguin non prototip. Pikirkan sebuah prototip, atau anggota yang paling tipikal, untuk sekelompok tertentu mahasiswa di kampus anda, barangkali mahasiswa dengan jurusan tertentu. Juga pikirkan sebuah nonprototip (“maksud anda dia adalah jurusan seni? Dia tidak tampak sama sekali seperti itu!”). Sekarang pikirkan prototip untuk professor, buah, dan kendaraan; lalu pikirkan non prototip untuk masing-masing kategori. Contohnya, tomat adalah buah non prototipikal, dan elevator adalah kendaraan non prototipikal.

Pendekatan prototip mewakili sebuah perspektif yang sangat berbeda dari model perbandingan ciri yang baru saja kita periksa. Menurut model perbandingan ciri, sebuah item masuk pada sebuah kategori sepanjang dia memiliki ciri-ciri yang perlu dan cukup (Markman, 1999). Karena itu perspektif perbandingan ciri mengemukakan bahwa keanggotaan kategori sangat gamblang. Contohnya, untuk kategori “bujangan”, ciri penentu adalah pria dan tidak menikah. Tetapi, apakah anda tidak berpikir bahwa saudara sepupu anda yang pria tak menikah berusia 32 tahun merupakan contoh yang lebih baik dari bujangan dibanding keponakan anda yang berusia 2 tahun atau seorang pastor Katolik yang sudah tua? Semua ketiga orang itu memang pria dan tidak menikah, karena itu model perbandingan ciri akan menyimpulkan bahwa ketiganya patut dikategorisasi sebagai bujangan. Di pihak lain, pendekatan prototip akan mengemukakan bahwa tidak semua anggota kategori “bujangan” diciptakan sama. Melainkan, saudara sepupu anda adalah bujangan yang lebih prototipikal dibanding keponakan anda atau pastor.

Eleanor Rosch dkk, dan juga peneliti lain, telah melakukan banyak studi mengenai karakteristik prototip -prototip. Riset mereka menunjukkan bahwa semua anggota kategori tidak diciptakan sama (Hampton, 1997b; Whittlesea, 1997). Melainkan, sebuah kategori cenderung mempunyai struktur bertingkat (graded structure), yang mulai dengan anggota-anggota yang paling representatif atau prototipikal dan terus melalui anggota-anggota non prototipikal kategori itu. Marilah memeriksa beberapa karakteristik penting dari prototip-prototip. Kemudian kita akan mengulas komponen penting lainnya dari pendekatan prototip, yang berfokus pada tingkat-tingkat kategorisasi.

Karakteristik prototip. Prototip berbeda dari anggota non prototipikal kategori-kategori dalam beberapa hal.  Seperti akan anda lihat, prototip mempunyai status khusus dan diistimewakan.

1. prototip disuplai sebagai contoh dari sebuah kategori. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa orang-orang menilai sejumlah item sebagai contoh-contoh yang lebih baik dari sebuah konsep dibanding sejumlah item lain. Dalam sebuah studi, misalnya, Mervis, Catlin, dan Rosch (1976) melihat beberapa norma kategori yang telah dikumpulkan. Norma-norma itu telah dibentuk dengan meminta orang-orang untuk memberikan contoh dari delapan kategori, seperti “burung”, “buah”, “olah raga”, dan “senjata”. Mervis, dkk meminta satu kelompok lain orang-orang untuk memberi rating prototip untuk masing-masing dari contoh-contoh ini. Sebuah analisis statistic menunjukkan bahwa item-item yang dinilai paling prototipikal ternyata adalah item-item yang sama yang diberi orang-orang paling sering dalam norma-norma kategori.

2. Prototip berfungsi sebagai titik acuan. Demonstrasi 7.2, yang mengillustrasikan bagaimana prototip dapat berfungsi sebagai titik acuan. Demosntrasi ini didasarkan pada penelitian Rosch (1975a), di mana orang-orang melihat pasangan-pasangan angka, warna, dan garis. Untuk pasangan-pasangan angka, satu anggota dari masing-masing pasangan adalah prototip-yakni, sebuah perkalian dari 10 yang mesti relevan dalam sistem bilangan desimal kita (contohnya, 10, 50, atau 100). Anggota lainnya dari pasangan itu adalah sebuah angka yang mempunyai ukuran kira-kira sama, tetapi bukan perkalian dari 10 (contohnya, 11, 48, atau 103). Untuk pasangan-pasangan warna, satu anggota adalah prototip (merah, kuning, hijau, dan biru), dan yang lainnya adalah non prototip (contohnya, merah keungu-unguan). Untuk pasangan-pasangan garis, satu anggota adalah garis dalam posisi “standar” (tepat horizontal, tepat vertical, atau diagonal 45o), dan yang lainnya adalah garis dalam posisi yang diputar 100 dari salah satu posisi standar. Dalam masing-masing kasus, Rosch ingin menentukan anggota pasangan mana berfungsi sebagai titik acuan-yakni, stimulus yang bisa digunakan untuk membandingkan anggota lain.

Hasil-hasil Rosch (1975a) menunjukkan bahwa prototip cenderung berfungsi sebagai titik acuan. Contohnya, orang-prang lebih mungkin mengatakan “11 pada dasarnya adalah 10”, dari pada “10 pada dasarnya adalah 11”. Periksa jawaban anda dalam Demonstrasi 7.2. Apakah prototip-prototip, yang merupakan perkalian dari 10, terdapat kedua dalam kalimat, seolah-olah mereka adalah standar yang digunakan untuk membandingkan semua anggota lain?

DEMONSTRASI 7.2

Prototip sebagai titik acuan

Pasangan-pasangan item dicantumkan di bawah, diikuti dengan kalimat yang memuat dua blanko. Pilih satu item untuk mengisi blanko pertama, dan tempatkan item lain dalam blanko kedua. Gunakan waktu anda, coba item-item dengan kedua cara, dan pilih cara di mana kalimat tampak paling bermakna.

1. (10.11)             ________is essentially___________

2. (103, 100)        ________sejenis/is short of________

3. (48, 50)            ________kira-kira/is roughly________

4. (1000, 1004)    ______is basically/pd dsrnya__________

 

3.Prototip dinilai lebih cepat setelah priming (penyiapan). Efek ketelitian berarti bahwa orang-orang merespon lebih cepat pada sebuah item jika item itu didahului oleh satu item serupa. Contohnya, anda akan membuat penilaian mengenai apel lebih cepat jika anda baru saja telah melihat kata buah dibanding jika anda telah baru saja melihat kata jerapah.

Riset menunjukkan bahwa ketelitian mempermudah respon pada prototip lebih dari ia mempermudah respon pada non prototip. Contohnya, bayangkan anda sedang berpartisipasi dalam studi mengenai ketelitian.  Tugas anda adalah menilai pasangan-pasangan yang mempunyai warna serupa dan untuk menjawab apakah mereka sama atau tidak. Pada beberapa kesempatan, nama warna ditunjukkan kepada anda sebelum anda harus menilai pasangan warna-warna; ini adalah percobaan-percobaan yang dipersiapkan (primed trial). Pada kesempatan lain, tidak ada nama warna diberikan kepada anda sebagai “peringatan”; ini adalah percobaan-percobaan yang tidak dipersiapkan. Rosch (1975b) mencoba setup priming ini untuk kedua warna prototip (misalnya, warna merah yang baik dan cemerlang) dan warna nonprototip (misalnya, merah buram).

Hasil-hasil Rosch menunjukkan bahwa priming sangat membantu bila orang-orang membuat penilaian mengenai warna prototipikal; mereka merespon lebih cepat setelah percobaan-percobaan yang dipersiapkan dibanding setelah percobaan-percobaan yang tidak dipersiapkan. Tetapi, priming sebenarnya menghambat penilaian untuk warna-warna nontrototipikal, bahkan setelah dua minggu latihan. Dengan kata lain, jika anda melihat kata merah, anda berharap untuk melihat warna-warna merah yang sesungguhnya dan menyala. Sebaliknya, jika anda melihat warna-warna merah yang gelap buram, priming tidak memberi keuntungan.

4. Prototip-prototip berbagi atribut-atribut bersama dalam sebuah kategori kemiripan keluarga. Kemiripan keluarga berarti bahwa tidak ada atribut tunggal sama-sama dimiliki oleh semua contoh dari sebuah konsep; tetapi masing-masing contoh mempunyai setidaknya satu atribut yang dimiliki bersama dengan contoh lain dari konsep itu (Hampton, 1997b; Withlesea, 1997). Seperti ditunjukkan oleh filsuf Wittgenstein (1953), sejumlah konsep sulit digambarkan dari segi ciri-ciri penentu spesifik. Contohnya, pertimbangkanlah konsep “permainan” (game). Pikirkanlah mengenai permainan yang anda kenal.  Apa atribut tunggal yang sama-sama mereka miliki semua?B agaimana Monopoli serupa dengan bola voli? Anda mungkin merespon bahwa dua-duanya melibatkan kompetisi, tetapi lalu bagaimana mengenai permainan anak-anak “Ring Around the Rosie”? Sejumlah permainan memerlukan keahlian, tetapi yang lainnya bergantung pada nasib baik. Perhatikan bagaimana masing-masing permainan sama-sama mempunyai beberapa atribut dengan permainan lain, namun tidak ada atribut tunggal yang sama-sama dimiliki oleh semua permainan.

Tabel 7.1.

Rating prototip untuk kata-kata dalam tiga kategori

 

Item

Kategori

Kendaraan

Sayuran

Pakaian

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

Mobil

Truk

Bus

Sepeda motor

Kereta api

Mobil Trolley

Sepeda

Pesawat udara

Perahu

Traktor

Kereta roda

Kursi roda

Tank

Rakit

Kereta luncurKacang polong

Wortel

Buncis

Bayam

Brokoli

Asparagus

Jagung

Kembang kol

Toge Brussel

Selada

Bit

Tomat

Buncis

Terung

bawangCelana panjg

Kemeja

Gaun

Rok

Jaket

Jas

Sweater

Pakaian dalm

Kaos kaki

Piama

Pakaianmandi

Sepatu

Rompi

Dasi

Sarungtangan

Sumber: Rosch dan Mervies, 1975.

 Rosch dan Mervie (1975) membahas peran prototip-prototip dalam kemiripan keluarga. Secara spesifik, mereka membahas apakah item-item yang dinilai orang-orang sebagai paling prototipikal akan mempunyai jumlah atribut terbesar yang dimiliki bersama anggota lain dari kategori itu. Pertama, mereka meminta sekelompok orang untuk memberi rating-rating prototip untuk kata-kata dalam beberapa kategori. Tabel 7.1 menunjukkan tiga dari kategori-kategori ini. Untuk kategori “kendaraan”, perhatikan bahwa mobil dinilai sebagai yang paling prototipikal, sementara kereta luncur mempunyai rating prototip rendah. Kemudian Rosch dan Mervis meminta satu kelompok baru orang-orang untuk mencantumkan atribut-atribut yang dimiliki oleh masing-masing item. Sebagai contoh, para partisipan diberitahu bahwa untuk kata anjing mereka akan mencantumkan atribut-atribut seperti mempunyai empat kaki, menggonggong, berbulu, dan sebagainya. Terakhir, dari informasi ini, para peneliti mengkalkulasi sebuah angka yang menunjukkan berapa bagian dari atribut-atribut sebuah item juga dimiliki oleh anggota lain dari kategori yang sama. Mobil menerima skor tinggi; seperti sebagian besar item lain pada daftar “kendaraan”, ia mempunyai roda, bergerak horizontal, dan menggunakan bahan bakar. Di pihak lain, kereta luncur menerima skor rendah.

Rosch dan Mervis menemukan korelasi signifikan antara kedua ukuran-rating prototip dan skor atribut-atribut yang dimiliki bersama. Dengan kata lain, sebuah item yang sangat prototipikal, seperti “mobil”—biasanya mempunyai banyak atribut yang dimiliki bersama dengan anggota kategori lain. Di pihak lain, sebuah item yang tidak prototipikal—seperti “kereta luncur”—mempunyai hanya sedikit atribut yang dimiliki bersama anggota kategori lain. Lihat apakah hubungan ini juga berlaku untuk konsep-konsep berikut: “Profesi”, “film petualangan”, dan makanan ringan”.

Sebagian besar peneliti dalam memori semantik sependapat bahwa kategori alami cenderung mempunyai struktur yang didasarkan pada kemiripan keluarga. Artinya, para anggota dari sebuah kategori biasanya mempunyai sifat-sifat yang sama dengan anggota lain dari sebuah kategori. Tetapi, tidak ada satu sifat yang berfungsi sebagai kriteria yang perlu dan cukup untuk keanggotaan dalam kategori.

Tingkat-tingkat kategorisasi. Sebuah objek bisa masuk pada banyak kategori yang berbeda-beda dan terkait.  Sejumlah tingkat kategori dinamakan kategori tingkat superordinat, yang berarti mereka adalah kategori tingkat lebih tinggi atau lebih umum. “Perabot”, “binatang”, dan “alat” semuanya adalah contoh dari tingkat kategori superordinat. Kategori tingkat dasar cukup spesifik. “Kursi”, “anjing”, dan “obeng” adalah contoh-contoh dari kategori tingkat dasar. Terakhir, kategori tingkat subordinat merujuk pada kategori tingkat lebih rendah dan lebih spesifik. “Kursi meja”, “anjing collie”, dan “obeng Phillips” adalah contoh dari kategori subordinate.

Kategori tingkat dasar mempunyai status khusus (Biederman dkk, 1999; Rosch dkk, 1976). Umumnya mereka lebih berguna dibanding kategori tingkat superordinat dan kategori tingkat subordinat. Kategori tingkat dasar sangat informatif dan berguna untuk komunikasi dalam kelompok-kelompok sosial.

1. Nama-nama tingkat dasar digunakan untuk mengidentifikasi objek. Rosch dkk (1976) meminta orang-orang untuk melihat gambar-gambar dan mengidentifikasi objek-objek; mereka menemukan bahwa orang-orang lebih suka menggunakan nama-nama tingkat dasar. Tampaknya nama tingkat dasar memberi informasi yang cukup tanpa terlalu dirinci. Peneliti lainnya telah menunjukkan bahwa efek ini sebagian—tetapi tidak sepenuhnya—disebabkan oleh preferensi kita untuk kata-kata yang singkat dan berfrekuensi tinggi. Lebih lanjut, orang menghasilkan nama-nama tingkat dasar lebih cepat dibanding nama-nama superordinat atau subordinate. Dengan kata lain, tingkat dasar memang mempunyai status khusus dan diistimewakan.

2. Anggota-anggota kategori tingkat dasar mempunyai atribut-atribut bersama. Rosch, dkk (1976) menemukan bahwa orang-orang mencantumkan sejumlah besar atribut yang dimiliki bersama oleh para anggota dari sebuah kategori tingkat dasar. Contohnya, untuk kategori tingkat dasar “obeng”, seseorang mungkin mencantumkan atribut-atribut seperti mempunyai tonjolan logam, mempunyai gagang berpunggung, dan panjangnya sekitar 4 sampai 10 inci. Di pihak lain, orang-orang mencantumkan sangat sedikit atribut yang dimiliki bersama oleh para anggota dari sebuah kategori tingkat superordinat, seperti, “alat”. Lantas seberapa banyak atribut dapat anda suplay yang akan benar untuk semua alat yang dapat anda sebut? Rosch, dkk juga menemukan bahwa orang-orang tidak menyediakan lebih banyak atribut untuk item-item tingkat subordinat dibanding untuk item-item tingkat dasar. Lagi-lagi, ini masuk akal. Untuk kategori tingkat subordinat “obeng Phillips”, kita tidak dapat menambahkan banyak atribut pada daftar yang kita bentuk untuk “obeng”. Temuan-temuan serupa dilaporkan oleh Tversky dan Hemenway (1984).

3. Nama-nama tingkat dasar menghasilkan efek priming. Para anggota dari kategori tingkat dasar yang sama memiliki bentuk umum yang sama. Contohnya, para anggota dari kategori “kursi” tampak kira-kira sama. Karena itu kita akan berharap bahwa bila orang-orang mendengar kata kursi, mereka akan membentuk satu citra mental yang akan mirip dengan sebagian besar kursi.

Citra mental relevan karena Rosch, dkk (1976) ingin melihat apakah priming dengan nama-nama tingkat dasar akan membantu. Dalam sebuah variasi dari teknik priming, eksperimenter memberi nama objek, dan para partisipan memutuskan apakah dua gambar yang menyusul sama seperti satu sama lain. Contohnya, anda mungkin mendengar kata apel dan melihat gambar-gambar dari dua apel yang identik.  Agaknya priming efektif karena presentasi kata itu memungkinkan anda untuk membuat citra mental dari kata ini, yang membantu ketika anda membuat keputusan yang belakangan.

Bagaimanapun, hasil-hasil menunjukkan bahwa priming dengan nama-nama tingkat dasar membantu—partisipan membuat penilaian-penilaian yang lebih cepat jika mereka melihat istilah tingkat dasar seperti apel sebelum menilai apel-apel itu. Tetapi, priming dengan nama-nama superordinat (seperti buah) tidak membantu. Tampaknya, ketika anda mendengar kata buah, anda menciptakan sebuah representasi agak umum dari buah, bukan representasi yang cukup spesifik untuk menyiapkan anda untuk menilai apel-apel. Ketika anda ingin memperingatkan orang-orang bahwa sesuatu sedang terjadi, peringatan mereka dengan istilah tingkat tinggi—teriakkan “Kebakaran!, bukannya istilah superordinat, “Bahaya!”

4. Tingkat Kategorisasi yang berbeda-beda mengaktifkan bagian yang berbeda-beda dari otak. Riset  Neuro-science dengan menggunakan PET Schan telah memeriksa apakah istilah-istilah tingkat dasar, superordinat dan subordinat diproses di bagian yang berbeda-beda dari otak. Kosslyn, Alpert dan Thompson (1995) menyajikan  gambar dari sebuah item, disertai dengan sebuah kata bahasa Inggris. Dalam beberapa kasus, kata itu adalah istilah tingkat dasar (misalnya, doll). Dalam kasus lainnya, kata itu adalah istilah superordinat (misalnya, toy) atau istilah subordinat (misalnya, rag doll). Dalam masing-masing kasus, para partisipan disuruh untuk menilai apakah kata itu cocok dengan gambar yang disajikan. Sementara itu, sebuah PET Scan merekam kegiatan otak. Kemudian para peneliti dapat membandingkan PET scan untuk istilah-istilah tingkat dasar dengan PET scan  untuk dua jenis istilah lainnya. Perbandingan ini akan memungkinkan para peneliti untuk melihat bagian-bagian tambahan mana dari otak diaktifkan ketika orang-orang membuat jenis-jenis kategorisasi yang lebih canggih, di luar tingkat dasar.

Hasilnya menunjukan bahwa istilah-istilah superordinat lebih mungkin dibanding istilah-istilah tingkat dasar untuk mengaktifkan  sebagian dari prefrontal cortex. Bagian  cortex ini memproses bahasa dan memori assossiatif, sehingga penemuan logis. Untuk menjawab apakah gambar doll (boneka) memenuhi syarat sebagai toys (mainan anak-anak), anda harus memeriksa memori anda mengenai keanggotaan kategori. Di pihak lain, istilah-istilah subordinate lebih mungkin dari pada istilah-istilah tingkat dasar untuk mengaktifkan bidang-bidang otak yang dilibatkan ketika kita menggeser perhatian visual.

5. Para pakar menggunakan kategori subordinate secara berbeda-beda. Sejauh ini  kita telah melihat bahwa orang-orang menggunakan nama-nama tingkat dasar untuk mengidentifikasi objek-objek, bahwa para anggota dari kategori tingkat dasar sama-sama memiliki atribut yang sama, dan bahwa nama-nama tingkat dasar menghasilkan efek priming. Kita juga telah melihat bahwa nama-nama tingkat dasar kurang mungkin dibanding nama-nama lain untuk memperoleh pengaktifan bagian-bagian tambahan dari cortex. Tetapi sejauh ini kita hanya mempertimbangkan kinerja  orang-orang baru, orang-orang yang tidak mempunyai keahlian dalam topik yang sedang dipelajari. Riset menunjukkan bahwa kategori tingkat dasar memang bisa mempunyai status khusus jika anda  bukan ahli dalam suatu bidang. Tetapi jika anda memang mempunyai keahlian, kategori yang lebih terspesialisasi mungkin  juga mempunyai status “diistimewakan”.

Marilah mempertimbangkan riset  oleh Kathy Johnson dan Carolyn Mervis (1997), yang mempelajari individu-individu dengan tingkat keahlian yang berbeda-beda dalam pengidentifikasian burung penyanyi. Dari rangkaian studi-studi mereka, marilah secara khusus mengulas riset mengenai pemproduksian nama-nama untuk burung-burung ini. Johnson dan Mervis menempatkan 12 ahli tingkat lanjutan mengenai burung—yang telah menyebabkan banyak perjalanan lapangan pengamatan burung—dan juga delapan pakar tingkat menengah (intermediate).  Selain itu, mereka mempelajari 12 mahasiswa undergraduate yang merupakan orang baru berkenaan dengan nama-nama burung. Kepada masing-masing partisipan  ditunjukkan serangkaian foto berwarna burung-burung, dan juga item-item yang tidak relevan seperti buah dan ikan.

Orang-orang baru secara seragam menyediakan istilah tingkat dasar burung, seperti yang kita perkirakan. Ahli tingkat menengah jarang memberi istilah tingkat dasar. Melainkan, mereka memberi istilah tingkat subordinat (seperti burung pengicau pada 55% dari percobaan dan istilah sub-subordinat (seperti burung pengicau berparuh kuning) pada 34 dari percobaan. Pakar tingkat lanjutan jarang menghasilkan istilah tingkat dasar atau istilah tingkat subordinate. Melainkan, Pada 87% dari percobaan mereka memberi istilah sub-subordinat.

Kesimpulan mengenai pendekatan prototif. Keuntungan dari pendekatan prototif  adalah bahwa ia dapat menjelaskan kemampuan kita untuk membentuk konsep-konsep untuk kelompok-kelompok yang terstruktur secara longgar. Contohnya, kita dapat menciptakan sebuah konsep untuk stimuli yang hanya  berbagi satu kemiripan keluarga pada satu sama lain, seperti permainan. Seperti ditunjukkan oleh Barsalou (1992b), model-model prototif bekerja sangat baik bila para anggota dari kategori  tidak mempunyai satu karakteristik bersama-sama.

Pendekatan prototif juga menjelaskan bagaimana kita dapat mereduksi semua informasi mengenai beragam stimuli ke satu abstraksi yang diidealkan.  Kita tidak perlu mempertahankan sejumlah besar informasi mengenai sejumlah besar anggota kategori.

Tetapi realitasnya adalah bahwa kita memang sering menyimpan informasi spesifik mengenai contoh-contoh individual dari sebuah kategori ini. Karena itu model ideal dari memori semantik perlu mencakup satu mekanisme untuk penyimpanan informasi spesifik ini, dan juga prototif-prototif abstrak. Model prototif ideal juga harus mengakui bahwa konsep-konsep dapat tidak stabil dan variabel.

Kekurangan dalam pendekatan prototif adalah bahwa ia menunjukkan bahwa kategori-kategori mempunyai batas-batas kabur. Tetapi, sebagian besar orang sangat yakin bahwa sejumlah kategori memang mempunyai batas-batas gamblang, bukan batas-batas kabur (Komatsu, 1994). Contohnya, kita merasakan dengan kuat bahwa Pomeranian adalah anjing dan mesti dikategorisasi  dengan anjing herder, bukan dengan kucing Persia berbulu lebat yang secara fisik mirip dengan mereka.

Untuk menjelaskan kompleksitas dari konsep-konsep  yang kita simpan  dalam memori semantik, sebuah teori ideal harus menjelaskan bagaimana kita kadang menyimpan informasi spesifik mengenai anggota kategori spesifik.  Teori ini juga harus menjelaskan bagaimana konsep-konsep dapat diubah oleh factor-faktor spesifik keahlian dan konteks. Lebih lanjut, teori ideal ini harus menjelaskan intuisi kita bahwa kategori kadang tampak ditentukan oleh batas-batas yang gamblang. Teori prototif dengan jelas mempertimbangkan sejumlah fenomena seperti kemiripan keluarga.

 3)      Pendekatan Eksemplar (The Exemplar Approach)

Pendekatan ini menyatakan bahwa kita pertama-tama mempelajari beberapa contoh spesifik dari sebuah konsep;  kemudian kita menggolongkan masing-masing stimulus baru dengan memutuskan seberapa dekat ia mirip dengan contoh-contoh spesifik tersebut. Masing-masing dari contoh yang disimpan dalam memori dinamakan eksemplar.

Studi representatif mengenai pendekatan eksemplar. Demonstrasi 7.3, yang didasarkan pada penelitian Evan Heit dan Laurence Barselou (1996). Para peneliti ini ingin menentukan apakah pendekatan eksemplar dapat menjelaskan struktur dari beberapa kategori superordinat, seperti kategori “binatang”. Mereka meminta mahasiswa undergraduate untuk memberi contoh pertama yang muncul ke otak untuk masing-masing dari ketujuh kategori tingkat dasar dalam Bagian A dari Demonstrasi 7.3. kemudian kelompok undergraduate kedua menilai  tipikalitas  dari masing-masing contoh tersebut, berkenaan dengan kategori superordinat “binatang”. Kelompok kedua itu juga menilai ketujuh kategori tingkat dasar.

Demonstrasi 7.3

Eksemplar dan Tipikalitas

Sumber: Sebagian didasarkan pada studi oleh Heit dan Barsalaou, 1996.

A.     Untuk bagian pertama dari demonstrasi, ambil selembar kertas dan tuliskan angka 1 sampai 7 dalam sebuah kolom. Kemudian, di samping angka yang tepat, tuliskan contoh pertama yang muncul ke pikiran untuk masing-masing dari kategori berikut:

1.      Amfibi

2.      burung (unggas)

3.      Ikan

4.      Serangga

5.      Mamalia

6.      Mikroorganisme

7.      Reptil

B.     Untuk Bagian kedua dari demonstrasi, lihat pada masing-masing item yang anda lihat pada lembar kertas. Nilai seberapa tipikal masing-masing item untuk kategori  “binatang”. Gunakan skala di mana 1 = tidak tipikal sama sekali, dan 10 = sangat tipikal. Contohnya, jika anda menulis barracuda pada daftar, berikan sebuah angka antara 1 dan 10 untuk menunjukkan sejauh mana barracuda tipikal dari seekor binatang.

C.      Untuk bagian terakhir dari demonstrasi ini, nilai masing-masing dari ketujuh kategori dalam Bagian A, dari segi seberapa tipikal masing-masing kategori untuk kategori superordinat “binatang”. Gunakan skala rating yang sama seperti dalam Bagian B.

 

Pendekatan prototip menunjukan bahwa kategori-kategori kita hanya mempertimbangkan item-item yang paling tipikal.  Jika usulan ini benar, maka kita dapat lupa mengenai item-item yang kurang tipikal, dan kategori-kategori kita tidak akan berubah secara dasar. Dalam bagian lain dari penelitian mereka, Heit dan Barselaou (1996) berusaha menghilangkan eksemplar yang kurang tipikal dari persamaan. Korelasi antara tipikalitas yang diprediksi dan tipikalitas actual menurun secara signifikan. Temuan ini mempunyai sejumlah implikasi menarik.  Misalkan kepada anda  diajukan pertanyaan seperti “seberapa tipikal seekor serangga, berkenaan dengan kategori  ‘binatang’?” Untuk membuat penilaian itu,  anda tidak hanya memperhitungkan serangga yang sangat prototipikal-barangkali  kombinasi dari seekor lebah dan seekor lalat. Melainkan, anda juga mencakup sejumlah informasi mengenai ulat, belalang, dan mungkin bahkan lebah Jepang.

Membandingkan Pendekatan Eksemplar dengan Pendekatan lain. Pendekatan eksemplar mirip dengan pendekatan prototip dalam satu hal penting: Untuk membuat keputusan mengenai keanggotaan kategori, kita membandingkan kejadian baru yang baru-baru ini sedang kita pertimbangkan terhadap representasi  tersimpan tertentu dari kategori itu (Marman, 1999). Jika kesamaan cukup kuat,  kita menyimpulkan bahwa item baru ini memang tidak masuk pada kategori tersebut. Tetapi, pendekatan prototip mengatakan bahwa representasi tersimpan ini  adalah anggota tipikal dari kategori tersebut. Di pihak lain, pendekatan eksemplar mengatakan bahwa representasi tersimpan adalah campuran dari banyak anggota spesifik kategori tersebut.

Pendekatan eksemplar menghindari satu  masalah penting yang terkait dengan pendekatan perbandingan ciri-bahwa orang-orang biasanya tidak dapat menciptakan sebuah daftar  dari ciri-ciri yang perlu dan memadai untuk sebuah kategori. Pendekatan eksemplar mengusulkan bahwa kita tidak memerlukan suatu daftar ciri, karena semua informasi yang perlu tersimpan dalam eksemplar-eksemplar spesifik.

Menurut pendekatan eksemplar, orang-orang tidak perlu melakukan suatu jenis proses abstraksi. Pendekatan eksemplar mengemukakan bahwa penciptaan daftar karakteristik atau penciptaan orang ideal akan memaksa anda untuk membuang data spesifik yang berguna mengenai kasus-kasus individual.

Sebagaimana yang mungkin anda bayangkan pendekatan eksemplar mungkin lebih cocok ketika mempertimbangkan sebuah kategori yang mempunyai relatif sedikit anggota. Contohnya, pendekatan eksemplar  mungkin beroperasi untuk kategori “buah tropis”, kalau anda tidak kebetulan hidup di kawasan tropis dunia. Di pihak lain, pendekatan prototip bisa lebih cocok ketika mempertimbangkan kategori yang mempunyai banyak anggota. Contohnya, sebuah prototip bisa merupakan pendekatan yang paling efisien untuk sebuah kategori besar seperti “buah” atau “binatang”.

Arah Baru Dalam Pendekatan Eksemplar. Ahli Psikologi sosial telah mulai menerapkan pendekatan eksemplar untuk pembentukan stereotip. Contohnya, Sherman (1996) menunjukkan bahwa kita tidak menyimpan representasi abstrak kelompok tertentu, seperti  kategori “profesor Hitam”. Melainkan, kita menyimpan eksemplar dari anggota-anggota kelompok, dan kita mendapatkan kembali (retrieve) semua atau beberapa dari eksemplar tersebut ketika kita berpikir mengenai kategori itu.

Kemungkinan lainnya adalah bahwa ada perbedaan-perbedaan individual  yang cukup besar dalam cara orang-orang mengkategorisasi item-item. Barangkali sejumlah orang menyimpan informasi mengenai eksemplar  tertentu, terutama untuk kategori-kategori di mana mereka mempunyai keahlian. Orang lain mungkin membentuk kategori-kategori yang tidak mencakup informasi mengenai eksemplar spesifik. Orang-orang ini mungkin membentuk kategori-kategori yang didasarkan pada prototip yang lebih umum.

Dalam kenyataannya pendekatan prototip dan pendekatan eksemplar bisa berdampingan, sehingga kita tidak harus memilih satu teori dan menolak yang lainnya. Nyatanya, satu kemungkinan adalah bahwa otak menggunakan pengolahan prototip dan pengolahan eksemplar,  tetapi masing-masing ditangani oleh bagian otak yang berbeda. Secara spesifik, bagian otak kiri bisa menyimpan prototip dan bagian otak kanan menyimpan eksemplar. Lebih lanjut, berbagai jenis kategori mungkin memerlukan strategi yang berbeda-beda untuk pembentukan kategori (Smith dkk, 1998). Orang-orang dalam kenyataannya bisa menggunakan suatu kombinasi dari strategi prototip dan strategi eksemplar ketika mereka membentuk kategori dalam kehidupan sehari-hari (Ross & Martin, 1999).

4)      Model Jaringan (Network Models)

Model perbandingan ciri, pendekatan prototip, dan pendekatan eksemplar semuanya menekankan apakah sebuah item masuk ke dalam sebuah kategori. Hal ini berbeda dengan teori jaringan yang kurang memperhatikan kategorisasi tetapi lebih memperhatikan interkoneksi di antara item-item yang terkait.

Sejak 1985, para ilmuwan kognitif di Princeton University telah membentuk sekumpulan jaringan, yang didasarkan pada hubungan-hubungan di antara kata-kata dalam bahasa Inggris (Miller, 1999). Sejak 1999, jaringan ini yang dinamakan WordNet telah memasukkan 122.000 bentuk kata. Jaringan besar ini telah dibayangkan oleh model-model jaringan yang paling awal, dan desain dasar dari WordNet mempunyai implikasi untuk semua model jaringan.

Buku ini akan membahas model jaringan yang dikembangkan oleh Collins dan Loftus (1975), serta teori ACT dari Anderson (1983, 1990). Pendekatan ini mengemukakan bahwa proses-proses kognitif dapat dipahami dari segi  jaringan-jaringan yang menghubungkan unit-unit yang menyerupai neuron (Masson, 1995).

Model Jaringan Collins dan Loftus. Collins dan Loftus (1975) mengembangkan sebuah teori dimana makna ditunjukkan oleh jaringan-jaringan hipotetis. Model Jaringan Collins dan Loftus menyatakan agar memori semantik diorganisir dari segi struktur menyerupai jaringan, dengan banyak interkoneksi; ketika kita  memanggil informasi, aktivasi menyebar ke konsep-konsep terkait.

Dalam model ini, masing-masing konsep dapat ditunjukkan sebagai  sebuah node (simpul), atau lokasi dalam jaringan. Masing-masing  link (mata rantai) menghubungkan satu node tertentu dengan node konsep lainnya.  Kumpulan node dan link membentuk satu jaringan. Gambar 7.2  menunjukkan sebagian kecil  dari jaringan yang mungkin mengitari konsep “apel”. Hal ini dapat digambarkan seperti di bawah ini.

Gambar 7.2.

Contoh dari Sebuah Struktur Jaringan Untuk Konsep “Apel”, seperti dalam model jaringan Collins dan Loftus.

 

Misalkan anda mendengar kalimat “McIntos adalah buah.” Model ini mengusulkan bahwa aktivasi akan menyebar dari “McIntos” dan “Buah” ke node “apel”. Pencarian memori mencatat perpotongan kedua pola aktivasi ini.  Akibatnya,  kalimat “McIntos adalah buah” patut mendapatkan jawaban “Ya”. Tetapi, misalkan anda mendengar kalimat “apel adalah mamalia”. Aktivasi menyebar dari “apel” dan “mamalia”, tetapi tidak ada perpotongan dapat ditemukan. Kalimat ini patut mendapatkan  jawaban “tidak”.

Collins dan Loftus (1975) juga mengusulkan  bahwa link yang sering digunakan mempunyai kekuasaan lebih besar. Akibatnya, aktivasi melakukan perjalanan lebih cepat di antara node-node. Karena itu mudah untuk menjelaskan efek tipikalitas,  di mana orang-orang mencapai keputusan lebih cepat bila sebuah item adalah anggota tipikal dari sebuah kategori. Secara spesifik link antara “sayuran” dan “wortel” lebih kuat dibanding link antara “sayuran“ dan “rutabaga”. Konsep aktivasi penyebaran  adalah konsep yang sangat kuat. Dalam kenyataannya, variasi-variasi konsep ini telah diterapkan pada bidang-bidang psikologi kognitif, di luar memori semantik (Neath, 1998). Tetapi, model Collins dan Loftus telah digantikan oleh teori-teori yang lebih kompleks yang berusaha menjelaskan aspek-aspek lebih luas dari pengetahuan  umum. Dua teori yang telah menggantikan model Collins dan Loftus adalah teori ACT dari Anderson dan pendekatan pemprosesan terdistribusi parallel.

Teori ACT dari Anderson. John Anderson dari Carnegie Universitas Mellon telah membentuk serangkaian model jaringan, yang dia namakan ACT. ACT, singkatan dari “adaptive control of though” (control pemikiran adaptif), berusaha menjelaskan semua kognisi. Model-model yang telah kita pertimbangkan sejauh ini mempunyai satu tujuan terbatas: Untuk menjelaskan bagaimana kita mengorganisir konsep-konsep kognitif kita. Di pihak lain, ACT dan desain variasinya untuk menjelaskan memori, pembelajaran,  kognisi ruang, bahasa, penalaran, dan pengambilan keputusan.

Model ACT juga menekankan bahwa proses-proses kognitif kompleks kita dapat dijelaskan  melalui akumulasi sederhana dan pemantapan banyak unit kecil pengetahuan. Ketika kita mempelajari konsep baru atau memecahkan sebuah masalah yang menantang, kita tidak membuat lompatan-lompatan  besar pemahaman. Kita juga tidak mereorganisasi  atau mengubah bidang-bidang besar pengetahuan. Sebagaimana Anderson menjelaskan  perspektifnya, “keseluruhan tidak lebih banyak dari jumlah bagian-bagiannya, tetapi ia mempunyai banyak bagian” (Anderson, 1996). Jelas, teori yang berusaha menjelaskan  semua dari kognisi  sangat kompleks. Anderson membuat pembedaan dasar di antara pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan mengenai fakta-fakta dan hal-hal (dengan kata lain, esensi dari bab sekarang). Di pihak lain, pengetahuan prosedural adalah pengetahuan mengenai bagaimana melakukan tindakan (Anderson & Lebiere, 1998). Ciri penting ketiga dari teori Anderson adalah memori kerja, yang merupakan bagian aktif dari sistem memori deklaratif. Anderson mengemukakan bahwa memori kerja mempunyai kapasitas terbatas (Anderson, dkk, 1996).

ACT digunakan untuk melihat bagaimana pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural, dan memori kerja bisa berkolaborasi pada sebuah tugas kognitif tipikal (Black, 1984). Misalkan anda sedang berusaha menyetel waktu pada jam digital baru anda, dengan menggunakan brosur petunjuk. Pertama, anda mengaktivasi tujuan dari keinginan menyetel jam; karena itu tujuan tersebut berada dalam memori kerja. Tujuan penyetelan jam akan mengaktivasi prosedur seperti “jika tujuan adalah menyetel jam, maka lihat  brosur petunjuk”. Melihat pada brosur petunjuk akan mengaktivasi prosedur pemprosesan bahan verbal dan gambar-gambar dalam brosur. Kemudian anda memahami bahan, sehingga isi brosur  disimpan dalam jaringan deklaratif.  Jaringan deklaratif memuat satu kumpulkan proposisi yang saling berhubungan (misalnya, “jam mempunyai tiga tombol”), citra visual (contohnya, “tombol tanggal ada di kiri”), dan informasi mengenai urutan peristiwa (contoh, “stel tanggal pertama-tama, kemudian jam, kemudian menit, kemudian detik”).

Sekarang kita akan berfokus pada pengetahuan deklaratif, yang bertanggung jawab untuk memori semantik. Anderson mendesain sebuah model yang didasarkan pada unit-unit makna yang lebih besar. Menurut Anderson (l985, 1995), makna dari sebuah kalimat dapat ditunjukkan oleh jaringan proposisional, atau pola proposisi-proposisi yang saling berhubungan.

Proposisi adalah unit pengetahuan terkecil yang dapat dinilai benar atau salah.  Contohnya, frase kucing putih  tidak memenuhi syarat sebagai proposisi  karena kita tidak dapat mengetahui apakah ia benar atau salah tanpa kita mengetahui sesuatu lebih banyak mengenai kucing putih. Model itu mengusulkan bahwa masing-masing dari ketiga pernyataan berikut adalah proposisi:

1.       Susan memberi seekor kucing kepada Maria.

2.       Kucing itu putih

3.       Maria adalah ketua club

Ketiga proposisi ini dapat tampak tersendiri, tetapi mereka juga dapat digabung ke dalam sebuah kalimat, sebagai berikut:

Susan memberi seekor kucing putih kepada Maria yang merupakan ketua club.

Gambar 7.3

Jaringan proposisional yang menunjukkan kalimat “Susan memberi seekor kucing putih kepada Maria, yang merupakan ketua club.”

Gambar 7.3 menunjukkan bagaimana kalimat ini dapat diwakili oleh sebuah jaringan proposisional. Seperti dapat kita lihat, masing-masing dari ketiga proposisi dalam kalimat diwakili oleh satu node,  dan link diwakili oleh tanda panah. Perhatikan juga bahwa jaringan proposisional mewakili hubungan-hubungan penting dalam ketiga proposisi, tetapi tidak susunan kata-kata persis. Proposisi-proposisi abstrak; tidak mewakili  satu kumpulan tertentu.

kemudian Anderson mengemukakan bahwa masing-masing dari konsep-konsep dalam proposisi  dapat juga diwakili oleh sebuah jaringan. Gambar 7.4 menggambarkan hanya sebagian kecil dari representasi kata kucing dalam memori. Cobalah membayangkan akan tampak seperti apa jaringan proposisional dalam gambar 7.3 jika masing-masing dari konsep dalam jaringan  akan diganti dengan sebuah jaringan yang diperluas yang menunjukkan kekayaan makna-makna yang telah anda peroleh. Jelas, jaringan-jaringan ini perlu dikomplikasi untuk mewakili secara akurat sejumlah hubungan yang kita punya untuk masing-masing item dalam memori semantik (Miller, 1999).

Demonstrasi 7.4.

Pemprosesan terdistribusi parallel

Untuk masing-masing dari kedua tugas di bawah, baca kumpulkan petunjuk (isyarat), dan kemudian tebak secepat mungkin hal apa yang sedang digambarkan.

Tugas A

  1. Itu adalah jeruk.
  2. Ia tumbuh di bawah  tanah.
  3. Ia adalah sayuran.
  4. Kelinci secara karakteristik menyerupai item ini.

Tugas B

  1. Namanya mulai dengan huruf p.
  2. Ia menempati halaman gudang ternak
  3. Ia biasanya berwarna kuning
  4. Ia berbunyi “oing-oing”

 

Sebelum anda membaca lebih Demonstrasi 7.4, yang menggambarkan beberapa ciri dari pendekatan PDP. Cobalah Masing-masing dari isyarat dalam Tugas A dari Demonstrasi 7.4 barangkali mengingatkan anda mengenai beberapa calon yang mungkin. Mungkin kita memikirkan jawaban yang benar setelah beberapa isyarat, sekalipun uraian tidak lengkap. Tetapi perhatikan bahwa anda tidak melakukan pemeriksaan lengkap terhadap semua objek jeruk sebelum memulai pemeriksaan kedua terhadap semua objek di bawah tanah, kemudian semua sayuran, kemudian semua item yang didukung kelinci. Dengan kata lain, anda tidak melakukan pencarian serial untuk wortel, dengan memproses masing-masing atribut pada satu waktu. Sedangkan kita menggunakan pencarian parallel, untuk semua atribut secara serentak. Kata parallel direfleksikan dalam nama pemprosesan terdistribusi parallel. Di pihak lain, pendekatan PDP mengemukakan bahwa banyak proses kognitif terjadi secara parallel.

Memori kita juga dapat menangani dengan cukup baik, sekali pun salah satu dari isyarat tidak benar (Shanks, 1997).  Contohnya, dalam Tugas B anda memeriksa mahluk yang tinggal di halaman  gudang ternak yang menghasilkan (bunyi) oing-oing yang namanya mulai dengan p. Kata pig (babi) muncul, terlepas dari isyarat yang menyesatkan mengenai warna kuning. Sama halnya, jika seseorang menggambarkan teman sekelas dari Saratoga Sprins yang merupakan pria tinggi dalam kursus perkembangan anak anda, anda dapat mengidentifikasi siswa yang tepat, sekalipun dia  dari Poughkeepsie.

James McClelland adalah salah satu dari pengembang utama pendekatan PDP. McClelland (1981) menggambarkan bagaimana pengetahuan kita mengenai sekelompok orang bisa disimpan melalui hubungan-hubungan yang mengaitkan orang-orang ini dengan karakteristik pribadi mereka.  Contohnya menggambarkan anggota dari  dua  komplotan penjahat kelas teri,  Jets dan Sharks. Kita akan menggunakan satu contoh yang lebih sederhana dan agaknya lebih terbiasa yang mencirikan lima mahasiswa. Tabel 7.2 mencantumkan para mahasiswa ini, bersama dengan jurusan mereka, jumlah tahun di perguruan tinggi, dan orientasi politik mereka.  Gambar 7.5 menunjukkan bagaimana informasi ini dapat ditunjukkan dalam bentuk jaringan. Perhatikan bahwa gambar mewakili hanya sebagian dari jumlah orang-orang yang mungkin dikenal seorang mahasiswa dan juga sebagian dari karakteristik yang terkait dengan masing-masing orang. Cobalah membayangkan seberapa besar lembar kertas yang akan anda butuhkan untuk menunjukkan semua orang yang anda kenal, bersama dengan semua karakteristik yang anda anggap relevan. Menurut pendekatan PDP, karakteristik masing-masing individual dihubungkan dalam jaringan yang saling berhubungan. Jika hubungan-hubungan di antara karakteristik-karakteristik ditentukan  dengan baik melalui praktek ekstensif, maka satu isyarat yang tepat memungkinkan anda untuk menempatkan karakteristik dari satu orang tertentu (McClelland, 1995; McClelland, Rumelhar, dan Hinton, 1986; Rumelhart dkk, 1986).

Bayangkan bahwa anda ingin menempatkan karakteristik Roberto, yang merupakan satu-satunya Roberto dalam sistem itu. Jika anda meng-enter sistem dengan nama Roberto, anda dapat menemukan  bahwa dia adalah jurusan psikologi,  senior, dan liberal secara politik. Tetapi, seperti kita catat sebelumnya, beberapa isyarat lebih efektif dibanding yang lain. Jika anda meng-enter sistem dengan karakteristik jurusan psikologi, pencarian anda kabur, karena anda akan menempatkan dua nama—Marti dan Roberto.

Satu keuntungan dari model PDP adalah bahwa itu memungkinkan kita untuk menjelaskan bagaimana memori manusia dapat membantu kita ketika sejumlah informasi  hilang. Secara spesifik, orang-orang dapat Membuat generalisasi spontan, dengan menarik inferensi mengenai informasi umum yang  tidak pernah mereka pelajari pertama-tama (McClelland, 1995).

Tabel 7.2

Atribut-atribut dari orang-orang representative yang mungkin dikenal oleh seorang mahasiswa.

Nama

Jurusan

Tahun

Orientasi Politik

  1. Joe
  2. Marti
  3. Sam
  4. Liz
  5. Roberto
Seni

Psikologi

Teknik

Teknik

PsikologiJunior

Tahun kedua

Senior

Tahun kedua

SeniorLiberal

Liberal

Konservatif

Konservatif

Liberal

 

Gambar 7.5

Contoh dari unit dan hubungan (koneksi) yang mewakili individu

dalam table 7.2

Model PDP mengemukakan bahwa kita tidak hanya me-retrieve sebuah memori dalam cara yang sama  di mana kita mungkin me-retrieve buku dari perpustakaan. Melainkan, kita merekonstruksi sebuah memori,  dan memori itu kadang mencakup informasi yang tidak tepat (McClelland, 1999).

Generalisasi spontan memungkinkan kita untuk membuat inferensi mengenai sebuah kategori (contohnya, kategori “mahasiswa teknik”). Model-model PDP juga memungkinkan kita untuk  mengisi informasi yang hilang mengenai orang tertentu atau objek tertentu dengan membuat tebakan terbaik; kita dapat membuat  penunjukan  default  berdasarkan informasi dari orang-orang atau objek-objek serupa. Contohnya, misalkan anda bertemu dengan Christina, yang kebetulan mahasiswa teknik. Seseorang bertanya mengenai pilihan-pilihan politik Christina, tetapi anda tidak pernah membahas politik dengan dia. Pertanyaan ini akan mengaktivasi informasi mengenai kecenderungan politik insinyur lain. Berdasarkan penunjukan default, anda akan menjawab bahwa dia barangkali konservatif.

Tetapi perhatikan bahwa generalisasi spontan dan penunjukan default dapat menghasilkan kesalahan. Contohnya, Christina mungkin benar-benar ketua dari cabang Sosialis Demokratik Amerika di Universitas anda.

Sejauh ini, ulasan kita mengenai pemprosesan terdistribusi paralel telah konkrit dan gamblang. Dalam kenyataannya, teori itu sangat kompleks, canggih, dan abstrak. Karakteristik terpenting dari pendekatan PDP mencakup:

1.      Proses-proses kognitif didasarkan pada operasi parallel,  bukan operasi serial. Karena itu, banyak pola aktivasi mungkin berlangsung secara simultan.

2.      Pengetahuan disimpan dalam assosiasi hubungan-hubungan di antara unit-unit dasar. Perhatikan bahwa pandangan ini sangat berbeda dari ide akal sehat bahwa semua informasi yang anda ketahui mengenai orang atau objek tertentu tersimpan dalam satu lokasi spesifik dalam otak. Dalam kenyataannya, istilah pemprosesan terdistribusi menunjukkan bahwa pengetahuan terdistribusi di banyak lokasi (Shanks, 1997).

3.      Sebuah jaringan memuat unit-unit atau node-node dasar menyerupai neuron, yang dihubungkan (connected) bersama-sama sehingga satu unit tertentu mempunyai banyak link pada unit lain (karena itu nama alterlatif untuk teori koneksionisme). Para teoritisi PDP mengemukakan bahwa semua proses kognitif dapat dijelaskan melalui aktivasi jaringan-jaringan ini (Markman, 1999).

4.      Hubungan di antara unit-unit menyerupai neuron menentukan seberapa banyak aktivasi yang dapat dilewatkan oleh satu unit pada unit lainnya (McClelland, 1999).

5.      Ketika sebuah unit mencapai tingkat aktivasi kritis, ia bisa mempengaruhi unit lain, dengan merangsangnya (jika bobot hubungan positif) atau dengan menghalanginya (jika bobot hubungan negatif). Perhatikan bahwa desain ini mirip dengan perangsangan dan penghalangan neuron  dalam otak manusia (Markman, 1999). Setiap peristiwa baru mengubah kekuatan hubungan-hubungan di antara unit-unit yang relevan dengan menyesuaikan bobot hubungan. Akibatnya, anda mungkin merespon secara berbeda saat berikutnya anda mengalami peristiwa yang serupa. Contohnya, walaupun anda telah membaca mengenai pendekatan PDP, anda telah mengubah kekuatan hubungan-hubungan di antara pendekatan nama PDP dan istilah-istilah seperti dapat ditangani isi dan generalisasi spontan. Waktu berikutnya anda menemukan istilah pendekatan PDP, semua istilah terkait ini kemungkinan diaktivasi. Jaringan neural didesain secara spesifik untuk “belajar dari pengalaman” (Hahn dan Chater, 1997).

6.      Kadang kita mempunyai memori parsial untuk sejumlah informasi, bukan memori lengkap dan sempurna. Kemampuan otak untuk memberi memori parsial dinamakan grateful degradation (degradasi lunak) (Baddle, 1997).

Para teoritisi mengemukakan  bahwa pendekatan PDP bekerja lebih baik untuk beberapa jenis tugas kognitif  dibanding untuk yang lainnya. Sebagaimana yang mungkin anda perkirakan, pemprosesan terdistribusi paralel bekerja lebih baik untuk tugas-tugas untuk beberapa proses yang beroperasi pada waktu yang sama, seperti dalam pengakuan (rekognisi) pola, kategorisasi, dan pencarian memori. Tetapi, tugas-tugas kognitif lainnya menuntut pemprosesan serial. Penggunaan bahasa, pemecahan masalah, dan penalaran tugas-tugas kognitif.

Pendekatan PDP ini mencakup pengenalan objek, pembelajaran objek dan memori untuk posisi serial. Pendekatan PDP juga telah digunakan untuk menjelaskan gangguan kognitif, seperti masalah pembacaan yang dialami oleh orang-orang pengidap dyslexia (Seidenberg, 1993), kesulitan kognitif yang ditemukan pada orang-orang pengidap schizophrenia (Cohen & Servan-Schreiber, 1992), dan defisit memori yang terkait dengan penyakit Alzheimer (Tippett dkk, 1995).

Para peneliti yakin bahwa pendekatan PDP bekerja cukup baik untuk tugas-tugas memori tertentu, seperti perolehan dari memori sebuah item untuk mana kita mempunyai hanya informasi parsial. Tetapi, model-model PDP mungkin bukan cara yang paling tepat untuk menunjukkan informasi leksikal. Selain itu, model-model ini belum dapat memberi penjelasan yang memuaskan untuk memori episode tunggal kita. Pendekatan PDP juga  mengalami kesulitan menjelaskan pelupaan cepat informasi yang dipelajari dengan sangat baik yang terjadi ketika kita mempelajari  informasi tambahan. Model ini juga tidak dapat menjelaskan  kemampuan kita untuk mengingat bahan lebih awal ketika ia telah digantikan oleh bahan yang lebih belakangan.

RINGKASAN SUB: Struktur memori semantic

1.      Dalam bab-bab sebelumnya, kita melihat bagaimana pengetahuan umum mempengaruhi proses-proses kognitif; bab ini menjelaskan bagaimana kemampuan kognitif manusia mengesankan dan aktif berkenaan dengan pengetahuan umum.

2.      Kategori adalah kelas objek-objek yang masuk bersama-sama, konsep adalah representasi mental dari kategori itu.

3.      Model perbandingan ciri menyatakan bahwa konsep-konsep disimpan dalam sebuah daftar ciri. Beberapa keputusan mengenai memori semantik dapat dibuat dengan cepat, sementara keputusan yang lebih halus membutuhkan dua tahap.

4.      Menurut teori prototip Rosch, orang-orang membandingkan stimulus baru dengan prototip yang diidealkan untuk mengkategorisasi stimulus tersebut. Orang-orang sering menyediakan prototip ketika mereka diminta untuk memberi sebuah contoh dari kategori; prototip berfungsi sebagai titik acuan; prototip dinilai lebih cepat dan akurat; dan prototip sama-sama mempunyai sejumlah atribut bersama dengan item lain dalam kategori kemiripan keluarga.

5.      Teori Rosch juga mengemukakan bahwa  kategori-kategori level dasar lebih disukai daripada  subordinat dan superordinat untuk mengidentifikasi suatu objek. Selain  itu, anggota-anggota dari kategori tingkat dasar mempunyai atribut-atribut umum; nama-nama tingkat dasar menghasilkan efek ketelitian; berbeda dengan tingkat kategorisasi yang berbeda-beda mengaktivasi bagian otak yang berbeda-beda. Tetapi, para ahli lebih suka menggunakan istilah subordinat dan istilah sub-subordinat, bukan istilah tingkat dasar.

6.      Pendekatan prototip dapat menjelaskan kemiripan keluarga di antara para anggota kategori, tetapi ia tidak dapat menjelaskan penyimpanan informasi tertentu mengenai anggota-anggota kategori, pengaruh konteks dan keahlian pada konsep, dan pengamatan bahwa kita kadang mempunyai batas-batas yang kurang jelas untuk keanggotaan kategori.

7.      Pendekatan eksemplar mengemukakan bahwa kita mengklasifikasikan sebuah stimulus baru dengan memutuskan seberapa dekat kemiripannya dengan contoh-contoh spesifik (atau eksemplar) yang telah kita pelajari; riset menunjukkan bahwa konsep-konsep kita memang mungkin mencakup informasi mengenai lebih sedikit eksemplar tipikal. Pendekatan eksemplar  lebih cocok digunakan untuk objek yang mempunyai kategori yang relatif kecil.

8.      Menurut Collins dan Loftus ada tiga model jaringan yang konsep-konsepnya saling berhubungan dalam memori semantik, dan aktivasi menyebar ke konsep-konsep terkait.

9.      Model jaringan kedua adalah pendekatan ACT dari Anderson, yang mencoba menjelaskan beragam proses kognitif. Model memori menurut Anderson adalah kalimat dan konsep dapat diwakili oleh sebuah struktur jaringan.

10.  Model jaringan ketiga adalah pendekatan  Parallel distributed processing (PDP), di mana memori dapat berfungsi, bahkan dengan input yang tidak tepat, dan beberapa isyarat lebih efektif dibanding yang lain dalam membantu kita menempatkan materi dalam memori. Kita juga dapat membuat generalisasi spontan mengenai sebuah kategori, dan kita dapat membuat keputusan untuk mengisi informasi yang hilang.

11.  Pendekatan PDP mengemukakan bahwa proses-proses kognitif didasarkan pada operasi paralel, dengan pengetahuan terdistribusi di banyak lokasi dalam otak.  Memori juga terdiri dari unit jaringan-jaringan yang menyerupai neuron; aktivasi satu unit bisa merangsang atau menghambat satu unit di sekitarnya. Kita kadang mempunyai memori parsial untuk informasi tertentu, contohnya fenomena ujung lidah.

12.  Pendekatan PDP bekerja paling baik untuk pengenalan pola, kategorisasi, dan tugas memori tertentu di mana beberapa proses harus berjalan serentak, ini mungkin kurang relevan untuk proses-proses mental yang lebih tinggi.

 2.      SKEMA DAN SKRIP

Sejauh ini pembahasan kita mengenai pengetahuan umum telah berfokus pada kata, konsep, dan kadang kalimat.  Tetapi,  proses kognitif kita juga menangani unit-unit pengetahuan yang jauh lebih besar. Contohnya, pengetahuan kita mencakup informasi  mengenai situasi biasa, peristiwa, dan “paket” lain dari hal-hal yang kita ketahui.  Pengetahuan yang digeneralisasi mengenai situasi atau peristiwa ini dinamakan skema. Contohnya, anda mempunyai skema untuk interior dari sebuah store hardware. Ia mesti mempunyai kunci Inggris, kaleng cat, pipa, dan bola lampu-tetapi bukan buku psikologi, video tape opera, atau nuke ulang tahun.

Teori-teori skema terutama membantu ketika psikolog  berusaha menjelaskan bagaimana orang-orang memproses situasi dan peristiwa kompleks. Marilah pertama-tama mempertimbangkan informasi latar belakang mengenai skema dan satu titik terkait yang dinamakan script. Kita akan mempertimbanagkan beberapa bidang penting penelitian.

 2.1  Latar Belakang Skema dan Script

Teori skema mengemukakan bahwa orang-orang mengkodekan, dalam memori mereka, informasi “generik” mengenai suatu situasi. Kemudian mereka menggunakan informasi ini untuk  memahami dan mengingat contoh-contoh baru dari skema. Secara spesifik, skema memandu pengenalan dan pemahaman kita mengenai contoh-contoh baru dengan memberi harapan atau perkiraan mengenai apa yang akan terjadi.  Karena itu skema mengekploitasi pemprosesan dari atas ke bawah (top-down),  sebuah prinsip proses-proses kognitif yang ditekankan dalam Tema 5. Skema juga memungkinkan kita untuk memprediksi apa yang akan terjadi dalam suatu situasi baru. Dalam sebagian besar, prediksi-prediksi ini akan benar. Skema adalah heuristic atau aturan umum yang biasanya akurat.

Skema kadang dapat menyesatkan kita, dan membuat kita salah. Tetapi kesalahan-kesalahan ini biasanya masuk akal dalam kerangka skema itu. Konsisten dengan Tema 2, proses-proses kognitif kita umumnya akurat, dan kesalahan-kesalahan kita biasanya rasional.

Konsep skema telah mempunyai sejarah panjang dalam psikologi. Contohnya, karya Piaget dalam 1920-an meneliti skema-skema pada bayi, dan Bartlett (1932) menguji memori untuk skema pada orang dewasa. Skema tidak popular selama era behavioris, karena  menekankan proses-proses kognitif yang tidak terlihat. Tetapi,  pakar psikologi kognitif telah melakukan banyak studi mengenai topik ini, sehingga skema adalah istilah standar dalam psikologi kognitif kontemporer (Brewer, 1999).

Satu jenis umum skema adalah script. Script adalah rangkaian sederhana dan terstruktur dengan baik dari peristiwa-peristiwa yang terkait dengan satu kegiatan yang sangat dikenal (Anderson & Conway, 1993; Shank dan Abelson, 1995).  Istilah-istilah skema dan script sering digunakan secara saling bertukar. Tetapi, script sesungguhnya adalah istilah yang lebih sempit, dengan merujuk pada serangkaian peristiwa yang terjadi selama satu periode waktu.

Pertimbangkan satu script tipikal, yang menggambarkan rangkaian standar peristiwa-peristiwa yang mungkin diperkirakan seorang konsumen dalam sebuah restaurant (Abelson, 1981; Schank dan Abelson, 1977). “Script restaurant” mencakup peristiwa-peristiwa seperti duduk, melihat menu, memakan makanan, dan membayar rekening. Kita juga dapat mempunyai script untuk pengunjungan ruang praktek dokter gigi, untuk bagaimana sebuah pertemuan dewan  harus dilakukan dan bahkan untuk peristiwa-peristiwa yang tidak mempunyai hasil yang kita harapkan. Banyak dari pendidikan awal kita terdiri dari pembelajaran scripts yang diharapkan untuk kita ikuti dalam kultur kita (Schank & Abelson, 1995).

Sekarang marilah mempertimbangkan beberapa riset yang telah dilakukan mengenai script. Kita akan mulai dengan melihat  bagaimana dua factor mempengaruhi pengingatan script. Kemudian kita akan bergerak dari kategori spesifik script ke kategori lebih umum skema-skema. Terutama,  kita akan menjajaki bagaimana skema beroperasi dalam memori selama proses pemilihan, abstraksi, interpretasi, dan integrasi. Tetapi sebelum anda membaca lebih lanjut, cobalah Demonstrasi 7.5 kita akan membahas implikasinya sejenak.

DEMONSTRASI 7.5

Sifat script

Sumber: alinea yang dikutip didasarkan pada Trafimow & Wyet, 1993.

Bacalah paragraph berikut, yang didasarkan pada sebuah paragraph dari Trafimow dan Wyet (1993):

Setelah melakukan ini, dia menemukan  artikel. Kemudian dia berjalan melalui pintu dan mengambil sebuah permen dari sakunya. Berikutnya, dia mendapatkan sejumlah perubahan dan melihat orang yang dia kenal. Kemudian Joe menemukan sebuah mesin dia menyadari bahwa dia telah mengalami sakit kepala ringan. Setelah dia menjajarkan  yang asli, Joe memasukkan koin dan mendorong tombol.  Kemudian, Joe telah meng-copy potongan kertas itu.

Sekarang kembalilah ke daftar  istilah-istilah baru untuk bab 7. Lihat pada kolom pertama istilah-istilah dan tuliskan definisi untuk sebanyak mungkin dari istilah-istilah ini yang anda ketahui, dengan menghabiskan sekitar lima menit pada tugas itu. Kemudian lihat pada paragraph yang berlabel :instruksi lebih lanjut untuk Demonstrasi 7.5”, yang tampak di bagian bawah dari Demonstrasi 7.6

 

2.2  Faktor-faktor yang Terkait dengan Pengingatan Script

Kita mencatat bahwa satu kategori skema adalah script. Karakteristik penting dari script adalah bahwa  script menggambarkan suatu rangkaian peristiwa. Akibatnya setiap script mempunyai satu urutan tipikal dan linier. Riset yang dilakukan mengenai script memperlihatkan bahwa kita mengingat sebuah script secara lebih akurat jika script telah diidentifikasi sebelumnya. Riset juga memperlihatkan bahwa orang-orang umumnya gagal mengapresiasi kesamaan di antara scripts terkait.

Identifikasi script. Trafimow dan Wyer (1993) menemukan bahwa kita dapat mengingat unsur-unsur dalam sebuah script secara jauh lebih akurat jika script itu  diidentifikasi secara jelas pada permulaan sebuah uraian. Para peneliti ini mengembangkan empat script, yang masing-masing menggambarkan satu rangkaian biasa tindakan-tindakan: Meng-copy selembar kertas, menguangkan sebuah cek, membuat teh, dan  menaiki kendaraan subway. Beberapa rincian yang tidak relevan pada script (seperti mengambil sebuah permen dari saku) juga ditambahkan. Dalam beberapa kasus, peristiwa pengidentifikasian script disajikan pertama. Dalam kasus lainnya, peristiwa pengidentifikasian script disajikan belakangan, seperti dalam kalimat mengenai peng-copy-an potongan kertas dalam Demonstrasi 7.5.

Setelah membaca semua keempat uraian, para partisipan  diberi tugas pengisian lima menit, yang mensyaratkan pengingatan nama-nama dari  negara-negara bagian AS dan ibu kotanya. Kemudian mereka diminta untuk mengingat peristiwa-peristiwa dari keempat uraian asli. Hasil-hasil untuk paragraph yang memuat enam peristiwa yang terkait dengan script (seperti dalam demonstrasi n7.5) menunjukkan bahwa partisipan mengingat 23% dari peristiwa-peristiwa tersebut ketika  peristiwa pengidentifikasian script telah disajikan pertama-tama. Di pihak lain, mereka mengingat hanya 10% ketika peristiwa pengidentifikasian script telah disajikan terakhir.  Seperti mungkin anda perkirakan, peristiwa dalam satu rangkaian jauh lebih mudah diingat jika anda dapat mengapresiasi—dari permulaan sekali—bahwa peristiwa-peristiwa ini  semuanya adalah bagian dari sebuah script standar. Dengan jenis informasi latar belakang ini, masing-masing peristiwa dalam rangkaian logis.

Mengapresiasi Kesamaan Scripts Terkait. Script adalah abstraksi, prototip dari serangkaian peristiwa yang sama-sama mempunyai satu kesamaan pokok. Apakah orang-orang dalam mengapresiasi satu tingkat abstraksi yang bahkan lebih canggih? Artinya, apakah mereka dapat melihat kemiripan di antara dua jenis script yang mempunyai jenis-jenis motif dan hasil yang serupa?

Colleen Seifert dkk (1986) memeriksa episode-episode yang serupa secara tematis. Contohnya, satu episode terjadi dalam situasi akademik.  Itu berkenaan dengan Dr. Popoff, yang mengetahui bahwa mahasiswanya Mike  tidak senang dengan fasilitas riset. Ketika Dr. Popoff mengetahui bahwa Mike telah diterima pada  sebuah universitas saingan, dia cepat menawarkan kepada Mike peralatan riset yang sangat banyak. Tetapi, pada saat itu, Mike telah memutuskan untuk beralih. Episode kedua terjadi dalam situasi romantis. Phil dan sekretarisnya jatuh cinta, tetapi Phil terus menunda untuk meminta dia menikah. Sementara itu, sekretaris itu jatuh cinta dengan seorang akuntan. Ketika Phiol mengetahui itu, dia meminangnya. Tetapi, pada saat itu, dia dan akuntan tersebut sudah sedang membuat rencana bulan madu. Perhatikan bahwa kedua bagian cerita ini mempunyai tema yang sangat mirip.

Seifert dkk menggunakan teknik priming yang digambarkan sebelumnya dalam bab ini.  Mereka ingin menemukan apakah para partisipan akan mengenali sebuah kalimat ujian secara lebih cepat jika kalimat itu telah didahului dengan kalimat priming dari cerita yang serupa secara tematis. Jika partisipan mempunyai waktu reaksi yang lebih cepat setelah stimulus priming, maka kita dapat menyimpulkan bahwa mereka menganggap stimulus priming dan stimulus ujian terkait secara konseptual.

Tetapi, hasil-hasil dari studi menunjukkan bahwa waktu respon untuk sebuah kalimat ujian dipermudah oleh kalimat priming hanya jika partisipan telah didesak untuk memberi perhatian pada tema-tema berkurang dalam cerita yang sedang mereka baca.  Kalau tidak, orang-orang tidak tampak membuat hubungan di antara kedua cerita. Tampaknya orang-orang tidak secara spontan mendeteksi kesamaan abstrak dalam scripts. Dalam bab 10, kita juga  akan melihat bahwa orang-orang tidak secara spontan mendeteksi kesamaan-kesamaan abstrak di antara soal-soal matematika.

Sekarang setelah kita sudah memeriksa jenis skema yang dikenal sebagai script, marilah berpaling pada kategori skema-skema yang lebih umum dan  meneliti bagaimana mereka beroperasi dalam beberapa tahap memori (Halba & Hasher 1983, Intraub dkk, 1998). Seperti akan anda lihat skema-skema penting selama kelima komponen memori ini:

1.      Selama pemilihan bahan yang akan diingat;

2.      Dalam perluasan batas (ketika anda menyimpan suatu adegan dalam  memori);

3.      selama abstraksi (ketika anda menyimpan makna, tetapi tidak rincian spesifik dari bahan);

4.      Selama interpretasi (ketika anda membuat inferensi mengenai bahan); dan

5.      Selama integrasi (ketika anda membentuk satu representasi memori dari bahan).

2.3  Skema dan Seleksi Memori

Riset mengenai skema dan pemilihan memori telah menghasilkan temuan-temuan kontradiktif. Kadang orang mengingat bahan paling baik bila  konsisten dengan sebuah skema; kadang mereka mengingat bahan paling baik bila tidak konsisten dengan skema. Marilah pertama-tama mempertimbanagkan satu studi klasik yang mendukung memori yang konsisten dengan skema.

Memori yang ditingkatkan  untuk Bahan yang Konsisten dengan Skema. Cobalah Demonstrasi 7.6 ketika anda mempunyai kesempatan. Demonstrasi ini didasarkan pada sebuah studi oleh Brewer dan Treyens (1981). Para penulis ini meminta partisipan dalam studi mereka untuk menunggu, satu pada satu waktu, di ruang yang digambarkan dalam demonstrasi. Setiap kali, eksperimen menjelaskan bahwa ini adalah kantornya, dan dia perlu memeriksa laboratorium untuk melihat apakah partisipan sebelumnya telah menyelesaikan eksperimen. Setelah 35 detik, eksperimenter meminta partisipan untuk pindah ke ruang sebelah. Di sini, setiap orang diberi test mengejutkan: ingat segala sesuatu dalam ruangan di mana anda telah menunggu.

Hasilnya menunjukkan bahwa orang-orang sangat mungkin mengingat objek-objek yang konsisten dengan “skema kantor”—hampir setiap orang mengingat meja, kursi di dekat meja, dan dinding.  Tetapi hanya sedikit yang mengingat botol anggur dan teko kopi, dan hanya satu mengingat keranjang picnic. Item-item ini tidak konsisten dengan skema kantor. Selain itu, sejumlah orang “mengingat“ item-item yang tidak ada di ruangan tersebut; contohnya, sembilan mengatakan mereka mengingat buku-buku, walaupun tidak ada yang telah terlihat.  Pensuplaian item-item yang konsisten dengan skema ini merupakan kesalahan rekonstruksi yang menarik.

DEMONSTRASI 7.6

Skema dan Memori

Sumber: didasarkan pada Brewer & Treyens, 1981)

Setelah membaca instruksi-instruksi ini, tutup mereka dan sisa teks dalam demonstrasi ini sehingga hanya gambar yang terlihat. Sajikan gambar kepada seorang teman, dengan instruksi,” lihat gambar kantor psikolog ini sejenak.” Setengah menit kemudian tutup buku dan tanya teman anda untuk mencantumkan segala sesuatu yang ada dalam ruangan itu.

[Gambar]

(Instruksi lebih lanjut untuk Demonstrasi 7.5: Sekarang tanpa melihat kembali pada Demonstrasi 7.5, tuliskan cerita dari demonstrasi itu, seakurat mungkin.)

 

Dalam kasus studi Brewer dan Treyen, orang-orang mengingat informasi yang konsisten dengan: skema kantor”, tetapi perhatikan bahwa orang-orang tidak menyadari bahwa mereka akan diminta untuk mengingat item,-item itu; dengan kata lain, tugas tersebut melibatkan pembelajaran kebetulan. Kondisi pembelajaran kebetulan bisa mendorong kita untuk lebih sembarangan (casual) mengenai pemprosesan objek-objek yang kita lihat. Akibatnya, kita mungkin mengingat objek-objek secara lebih akurat ketika mereka cocok dengan perkiraan-perkiraan kita.

Memori yang ditingkatkan untuk Bahan Yang Tidak Konsisten Dengan Skema. Seperti yang mungkin anda bayangkan, kita kadang menunjukkan ingatan yang lebih baik untuk bahan yang melanggar perkiraan kita. Orang-orang terutama mungkin mengingat bahan yang tidak konsisten dengan skema bila bahan itu  semarak, dan bila ia mengganggu skema yang sedang berlangsung. Contohnya, Davidson (1994) menyuruh partisipan untuk membaca beragam cerita, dengan menggambarkan skema-skema terkenal seperti “pergi ke bioskop.” Hasil-hasil menunjukkan bahwa orang-orang terutama mungkin mengingat peristiwa yang menginterupsi cerita yang normal dan diperkirakan. Contohnya, satu cerita menggambarkan wanita bernama Sarah, yang pergi ke bioskop. Para partisipan sangat mungkin mengingat sebuah kalimat yang tidak konsisten dengan skema, seperti “seorang anak berlari-lari di dalam bioskop dan membenturkan kepala ke Sarah.” Di pihak lain, mereka kurang mungkin mengingat kalimat yang konsisten dengan skema, seperti “penjaga pintu menyobek karcis setengah dan memberi kepada mereka potongan karcis”. Secara sepintas, sebelum anda membaca lebih lanjut, cobalah demonstrasi 7.7 dan 7.8.

DEMONSTRASI 7.7

Memori Untuk Objek

Lihat objek di bawah dengan sangat hati-hati.  Kemudian lihat halaman 271, précis di atas empat persegi, di mana anda akan menemukan instruksi lebih lanjut untuk demonstrasi ini. [gambar]

DEMONSTRASI 7.8

Memori Konstruktif

Sumber: bagian 1 dan 2 dari demonstrasi ini didasarkan pada Jenskin, 1974.

Bagian 1.

Baca masing-masing kalimat, hitung sampai lima, jawab pertanyaan, dan teruskan pada pertanyaan berikutnya.

KALIMAT

Gadis itu memecahkan jendela di beranda

Pohon di halaman depan menaungi orang yang merokok dengan pipa cangklongnya.

Kucing, yang berlari dari anjing yang menggonggong, melompat ke atas meja.

Pohon itu tinggi.

Kucing yang berlari dari anjing melompat ke atas meja.

Gadis yang  tinggal dekat pintu memecahkan jendela di beranda.

Kucing yang ketakutan berlari dari anjing yang menggonggong.

Gadis itu tinggal di dekat pintu.

Pohon itu menaungi orang yang mengisap pipanya.

Kucing yang ketakutan  melompat ke atas meja.

Gadis yang tinggal dekat pintu memecahkan jendela besar.

Pria itu mengisap rokok dengan pipanya.

Jendela besar berada di beranda.

Pohon tinggi berada di halaman depan.

Kucing melompat ke atas meja.

Pohon tinggi di halaman depan

menaungi pria itu.

Anjing menggonggong.

Jendela itu besar.PERTANYAAN

Memecahkan apa?

Di mana?

Dari apa?

Itu apa?

Ke mana?

Tinggal di mana?

Apa?

Siapa?

Melakukan apa?

Apa yang dilalukan?

Memecahkan apa?

Siapa?

Di mana?

Apa?

Ke mana?

Melakukan apa

Sedang apa?

Apa?

 

Bagian 2

Tutup kalimat-kalimat di atas. Sekarang baca masing-masing dari kalimat berikut dan putuskan apakah itu kalimat dari daftar dalam bagian 1.

1)      Gadis yang tinggal dekat pintu memecahkan jendela

2)      Pohon itu berada di halaman depan.

3)      Kucing yang ketakutan, yang berlari dari anjing yang menggonggong, melompat ke atas meja.

4)      Jendela itu berada di beranda.

5)      Pohon di halaman depan menaungi pria itu.

6)      Kucing berlari dari anjing.

7)      Pohon tinggi menaungi pria yang sedang mengisap rokoknya

8)      Kucing itu korengan.

9)      Garis yang tinggal dekat pintu memecahkan jendela besar di beranda.

10)  Pohon tinggi menaungi gadis yang memecahkan jendela itu.

11)  Kucing sedang berlari dari anjing yang menggonggong.

12)  Gadis itu memecahkan jendela besar.

13)  Kucing yang ketakutan itu berlari dari anjing yang menggonggong yang melompat ke atas meja.

14)  Gadis itu memecahkan jendela besar di beranda.

15)  Kucing yang ketakutan yang memecahkan jendela di beranda memanjat pohon.

16)  Pohon tinggi di halaman depan menaungi pria yang mengisap rokoknya.(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)

(Lama_____,baru______)

 

(Instruksi lebih lanjut untuk demonstrasi 7.7:  dalam kotak di bawah, tarik dari memori pemandangan yang anda lihat dalam Demonstrasi 7.7. Jangan lihat kembali pada foto itu!)

Rojahn dan Pettigrew (1992) melakukan sebuah meta-analisis terhadap riset mengenai memori dan skema. Sebagian besar studi yang dicakup dalam meta-analisis tampak memerlukan pembelajaran sengaja intentional learning), yakni situasi di mana orang-orang menyadari bahwa mereka akan diminta  untuk mengingat item-item itu. Ketika memori dinilai dari segi ingatan—dalam studi Davidson—orang-orang  kemungkinan mengingat bahan yang tidak konsisten dengan skema secara lebih baik dibanding bahan yang konsisten dengan skema. Ketika memori dinilai dari segi pengakuan dan hasil-hasil telah dikoreksi untuk penebakan, bahan yang tidak konsisten dengan skema masih didukung. Tetapi, ketika memori dinilai dari segi pengenalan dan hasil-hasil telah tidak dikoreksi untuk penebakan, bahan yang konsisten dengan skema didukung. Dengan kata lain, jika anda tidak dapat mengingat apakah anda telah melihat sebuah kalimat pada  sebuah tes pengenalan mengenai skema film, anda lebih mungkin menebak  bahwa anda melihat kalimat mengenai penjaga pintu menyobek tiket dari pada kalimat yang melanggar skema, seperti contoh kita mengenai anak yang bertubrukan dengan wanita itu.

Kenapa kita mesti sering mengingat bahan yang tidak konsisten dengan skema sedemikian akurat? Satu penjelasan yang masuk akal adalah bahwa kita sangat mungkin mengingat bahan yang menarik perhatian dan memerlukan lebih banyak usaha untuk memprosesnya.  Dengan pemprosesan mendalam dan yang membutuhkan usaha, kita akan mengingat  bahan luar biasa itu.

Status Sekarang Dari Skema dan Pemilihan Memori. Ironisnya, kita tidak dapat menentukan suatu skema yang jelas untuk riset mengenai topik penting ini! Agaknya kita tampak mengingat  bahan yang konsisten dengan skema secara lebih akurat jika tugas menggunakan pembelajaran insidentil atau jika memori dinilai melalui pengenalan—tanpa koreksi untuk penebakan. Tetapi dalam sebagian besar kasus pembelajaran sengaja, bahan yang tidak konsisten dengan skema tampak lebih mudah diingat.

2.4     Skema dan Perluasan Batas

Sekarang luangkan sejenak untuk memeriksa objek-objek yang anda gambar untuk  Demonstrasi 7.7, dan bandingkan sketsa anda dengan foto asli. Apakah sketsa anda mencakup  pinggir bawah dari tutup tong sampah—yang tidak ada dalam foto asli? Apakah sketsa anda menunjukkan  lebih banyak latar belakang yang mengitari masing-masing tong sampah,  termasuk bagian atas dari  pagar piket? Jika demikian, anda telah menunjukkan perluasan batas. Perluasan Batas merujuk pada kecenderungan untuk mengingat telah melihat sebagian besar dari sebuah pemandangan  dibanding yang sesungguhnya ditunjukkan.  Kita mempunyai skema untuk pemandangan yang digambarkan dalam Demonstrasi 7.7, yang akan kita namakan “pemandangan area sampah halaman 8.” Perhatikan bahwa topik-topik lain dalam diskusi skema-skema ini verbal; tetapi dalam perluasan batas bahan visual.  Skema-skema kita masih membantu kita mengisi bahan yang hilang selama tugas memori.

Fenomena perluasan batas telah dikaji oleh Helene Intraub dkk. Contohnya, Intraub dan         Berkowits (1996) menunjukkan kepada mahasiswa serangkaian slide  seperti foto pemandangan sampah dalam Demonstrasi 7.7.  Masing-masing slide ditunjukkan secara singkat, selama 15 detik atau kurang. Segera setelah itu, mereka disuruh untuk menggambar  dari foto orsinil. Para partisipan secara konsisten menghasilkan sebuah sketsa yang memperluas batas-batas di luar pemandangan yang disajikan dalam foto asli. Akibatnya mereka menunjukkan lebih banyak dari latar belakang yang mengitari gambar sentral, dan mereka juga menggambarkan sebuah gambar lengkap,  bukan gambar parsial.

Menurut Intraub dkk (1998), kita memahami sebuah foto dengan mengaktivasi skema perceptual. Skema ini menonjolkan sebuah gambar sentral lengkap dalam foto, dan juga mencakup representasi mental dari informasi visual yang précis di luar batas-batas foto. Intraub dkk mengemukakan bahwa kita juga menggunakan skema-skema perceptual ketika kita melihat pada pemandangan-pemandangan dunia nyata. Contohnya, lihat dari buku anda sekarang dan pertahankan kepala anda diam secara sempurna. Retina anda mendaftar sebuah panorama yang agak besar  dari stimulus-stimulus  visual. Sekarang tutup mata anda dan cobalah mengingat pemandangan tepat yang anda lihat. Proses-proses kognitif anda barangkali menggambarkan gambar-gambar sentral lengkap, bukan gambar-gambar parsial.  Selain itu, proses kognitif anda barangkali memperluas pemandangan bahkan lebih jauh untuk mencakup bahan yang sebenarnya tidak anda lihat.

Perhatikan bagaimana skema beroperasi dalam perluasan batas-batas. Berdasarkan perkiraan-perkiraan kita, kita menciptakan skema –skema perceptual yang meluas di luar pinggir foto dan di luar lingkup retina kita. Secara sepintas, fenomena perluasan batas mempunyai implikasi penting untuk kesaksian saksi mata, sebuah topik yang dibahas dalam bab 4. Saksi mata mungkin mengingat  telah melihat bagian-bagian  wajah dari seorang tersangka yang sebenarnya tidak terlihat pada pemandangan kejahatan itu (Foley & Foley, 1998).

2.5   Skema dan Abstraksi Memori

Abstraksi merupakan proses memori yang menyimpan arti sebuah pesan tanpa menyimpan kata-kata pasti dan struktur tata bahasa. Sebagai contoh, anda bisa mengingat banyak informasi tentang konsep kemirippan keluarga tanpa mengingat satu kalimat dalam bentuk aslinya. Pada bab 4, kita melihat bahwa orang kadang memiliki ingatan terhadap kata demi kata atau memori  verbatim. Sebagai contoh, seorang actor professional mampu  menceritakan secara tepat setiap kata dari karya Shakespeare.  Kebanyakan memori  verbatim kita jauh  dari spektakuler beberapa menit setelah penerimaan dihadirkan (Sach, 1967). Bagaimanapun kita cenderung mengingat intisari dari pemahaman general  dengan tingkat akurasi yang impresif. Mari kita pertimbangkan dua pendekatan terhadap abstraksi yaitu pendekatan konstruktif dan pendekatan pragmatis.

1.              Pendekatan Konstruktif

Pastikan untuk melakukan percobaan 7.8 pada halaman 270 dan 271 sebelum membaca lebih jauh. Ini adalah versi yang lebih sederhana dari studi klasik oleh Bransford dan Franks (1971). Berapa kalimat pada bagian 2 pada percobaan yang pernah anda lihat sebelumnya? Jawabannya terdapat pada akhir bab di halaman 282.

Bransford dan Franks meminta pada partisipan dalam penelitiannya untuk mendengarkan kalimat-kalimat dari beberapa cerita yang berbeda, lalu mereka diberikan test pengenalan yang didalamnya dimasukkan kalimat-kalimat baru, banyak diantaranya merupakan kombinasi kalimat-kalimat sebelumnya meskipun begitu mereka yakin bahwa mereka telah melihat kalimat-kalimat itu sebelumnya, kesalahan seperti ini disebut false alarm. Dalam penelitian mengenai memori, false alarm terjadi ketika orang mengingat sesuatu yang tidak secara original hadir.

Penelitian Bransford dan Franks menunjukan bahwa false alarm kemungkinan besar untuk kalimat kompleks yang konsisten dengan skema asli. Sebagai contoh “Pohon tinggi di halaman depan menaungi  orang yang sedang merokok dengan pipa cangklongnya” sebagai pembanding  fals alarm kecil kemungkinannya untuk kalimat sederhana seperti “Kucing itu ketakutan” lagipula mereka tidak membuat false alarm untuk kalimat yang merusak makna dari kalimat sebelumnya – sebagai contoh, “kucing yang ketakutan yang memecahkan jendela beranda memanjat pohon”

                Penelitian ini akhir-akhir ini dilakukan ulang oleh Holmes dan rekan-rekannya (1998).

Pada percobaan pertamanya para peserta “mengingat” kalimat-kalimat yang sebenarnya merupakan kombinsi dari kalimat yang asli. False alarm lebih memungkinkan untuk kalimat yang lebih kompleks. Penelitian ini juga menanyakan pada para partisipan untuk mengukur sejauh mana kepercayaan diri yang mereka dapat sebenarnya ketika mendengar setiap kalimat tersebut. Para partisipan pada dasarnya lebih percaya diri terhadap kalimat yang kompleks dibandingkan dengan kalimat yang asli.

Holmes dan peneliti lainnya juga mengulang penelitian mereka dengan satu perbedaan penting. Dalam susunan standar, para partisipan menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan ilmu semantic seperti yang telah anda lakukan pada percobaan 7.8. bagaimanapun dalam penelitian berikutnya para partisipan diinstruksikan untuk menghitung jumlah huruf pada kata terakhir dari kalimat (sebagai contoh kata porch untuk kalimat yang pertama di percobaan 7.8) dengan proses instruksi yang dangkal ini, false alarm secara signifikan tercatat berkurang. Rupanya proses semantic yang mendalam lebih memungkinkan dibandingkan proses yang mendalam untuk mendorong kita untuk menggabungkan informasi yang berkaitan dengan tujuan untuk membentuk sebuah cerita yang utuh.

Bransford dan Franks (1971) mengajukan sebuah model konstruktif memori untuk materi prosa. Berdasarkan model konstruktif memori manusia menggabungkan kalimat-kalimat pribadinya dengan tujuan untuk membangun ide yang lebih besar. Oleh karena itu mereka berpikir bahwa mereka telah melihat kalimat yang kompleks karena mereka telah menggabungkan berbagai jenis fakta di dalam memori. Sekali kalimat-kalimat itu tergabung di dalam memori, kita tidak bisa menguraikannya ke dalam bentuknya yang asli dan mengingat komponen verbatim. Penelitian yang dilakukan oleh Holmes dan rekan-rekan (1998) menunjukkan bahwa kita sangat mungkin untuk menggabungkan informasi  ketika kita memperhatikan kepada makna dari sebuah materi.

Sebagai catatan bahwa pandangan memori konstruktif menekankan pada keaktifan alami dari proses kognitif, sejalan dengan tema 1 dari buku ini, kalimat-kalimat  tidak secara pasif memasuki memori, dimana tersimpan secara terpisah. Bahkan kita mencoba mempertimbangkan kalimat-kalimat lain yang sepertinya memiliki hubungan antara satu dengan yang lain. Kita mengkombinasikan kalimat-kalimat itu menjadi cerita yang masuk akal, menggabungkan beberapa bagian menjadi satu.

Memori konstruktif  juga menggambarkan tema 2 walaupun memori secara umum akurat, kesalahan pada proses kognitif dapat sering terdeteksi secara umum merupakan strategi yang berguna di kehidupan nyata. Sebuah heuristic yang berguna menggabungkan kalimat-kalimat menjadi satu. Bagaimanapun juga proses heuristic ini mampu menuntun kita untuk tersesat apabila digunakan secara tidak tepat. Karena ternyata para partisipan dalam penelitian Bransford dan Franks (1971) menggunakan strategi memori konstruktif yang berguna dalam kehidupan nyata tetapi tidak tepat digunakan dalam penelitian tentang tes memori verbatim.

 2.              Pendekatan Pragmatis

Murphy dan Shapiro (1994) telah mengembangkan cara pandang yang berbeda terhadap memori kalimat, yang mereka sebut dengan cara pandang pragmatis terhadap teks memori. Cara pandang memori pragmatis mengungkapkan bahwa manusia sampai pada tingkat menganalisa teks yang paling relevan, penting atau yang menonjol yang diberikan oleh tujuan mereka (h.87) dengan kata lain, manusia bisa secara strategis mengontrol perhatian mereka, dalam kehidupan sehari-hari kita sadar bahwa kita harus memperhatikan arti secara umum sebuah cerita. Sebagai sebuah konsekuensi kita mengingat kembali intisarinya secara akurat namun mengabaikan kalimat-kalimatnya, bagaimanapun juga jika kita menyadari bahwa kita harus memperhatikan kata-kata  dari kalimat secara tepat, maka memori verbatim akan sangat akurat. Sebagai catatan bahwa pandangan pragmatis dari sebuah memori teks agak serupa dengan beberapa penelitian yang telah kita diskusikan pada bab 4, dalam hubungannya dengan pengkodean khusus, secara khusus ketika seseorang terfokus pada bunyi dari kata pada saat pengkodean, mereka bisa mengingat memori akustik , ketika mereka terfokus pada arti, mereka bisa mengingat informasi semantik (Bransford et al., 1979; Moscovitch & Craik, 1976).

Dalam salah satu percobaannya Murphy dan Saphiro (1994) meminta para partisipan untuk memperhatikan pada kata-kata yang spesifik dalam sebuah kalimat, para partisipan ini tidak dapat akurat mengenali kata yang tepat pada test sebelumnya, sebagai perbandingan mereka tidak salah mempercayai, mereka telah melihat sinonimnya.

Tabel 7.3 Persentase Penilaian “Tua” untuk Menguji Item pada Penelitian

Murphy dan Shapiro.

Kondisi Cerita

Lembut

Sarkastik

Kalimat tidak relevan

Hits (kalimat asli)

False alarms (parafrase)

Hits dikurangi false alarm

4%

71%

54%

17 %

5%

86%

43%

43%

 

Sumber : Murphy & Shapiro, 1994

Pada percobaan yang lain Murphy dan Shapiro (1994) berspekulasi bahwa manusia sangat memungkinkan memperhatikan pada kata-kata yang spesifik dalam sebuah kalimat apabila kata-katanya bagian dari kritikan atau hinaan. keseluruhan pandangan pragmatis kata-kata sangat berperan ketika anda merasa terhina, dalam penelitian ini para peserta membaca salah satu dari dua surat yang kiranya ditulis oleh seorang perempuan muda bernama Samantha, salah satu surat seharusnya ditulis untuk sepupunya Paul, bercerita tentang bayi barunya dan pakaian lembutnya juga termasuk beberapa kalimat-kalimat netral seperti “Tidak pernah terpikirkan olehku menjadi ibu dalam usia yang begitu muda (h. 91) surat yang lain ditulis Samantha untuk kekasihnya Arthur, sepuluh kalimat yang netral di surat lembutnya kepada sepupunya paul sekarang tampak sarkastik jelas kata-katanya sangat identik, sebagai contoh kalimat ” Tidak pernah terpikirkan olehku menjadi ibu dalam usia yang begitu muda” sekarang dihubungkan dengan kebiasaan Arthur yang kekanak-kanakan.

Memory pernah di coba pada test pengenalan test dimana didalamnya lima kalimat asli,  lima versi penafsiran kalimat-kalimat tersebut dengan sedikit bentuk yang berbeda (sebagai contoh, “Aku tak pernah berpikir akan jadi seorang ibu di usia yang semuda ini”) dan empat kalimat yang tidak berkaitan. Tabel 7.3 menunjukkan hasilnya. Seperti yang bisa anda lihat orang jarang membuat kesalahan dengan secara salah mengenali kalimat-kalimat  yang tidak saling berkaitan. Bagaimanapun juga, secara benar mereka akan lebih sering mengenali (“hits”) kalimat-kalimat sarkastik dibandingkan kalimat lembut dari segi penafsirannya. Ketika kita membandingkan secara keseluruhan tingkat akurasi untuk dua versi tersebut (dengan mengurangi false alarm dari respon-respon yang benar) kita melihat bahwa orang lebih akurat dalam memori verbatim untuk versi sarkastik (43%) dibandingkan dengan versi yang lembut (17%). Mungkin kita semua secara khusus sensitive terhadap materi yang mengancam secara emosional, sehingga kita berusaha untuk mengingat kembali kata-kata dengan benar dari setiap kalimat tersebut.

Status Terkini dari Skema dan Abstraksi Memori

Beberapa pakar lebih cenderung menggunakan pendekatan konstruktif dalam abstraksi memori, sedangkan yang lain lebih memilih pendekatan pragmatis. Bagaimanapun juga kedua pendekatan itu cukup kompatibel. Secara spesifik di dalam banyak kasus  kita menggabungkan informasi dari kalimat individual yang dapat kita bangun dalam skema besar, khususnya ketika situasi menyarankan bahwa kata-kata yang tepat tidak krusial. Bagaimanapun juga di kasus yang lain kita tahu bahwa yang spesifik juga penting, dan akhirnya kita juga mengalokasikan perhatian ekstra untuk kata-kata yg tepat. Seorang actor berlatih untuk sebuah karya atau dua orang yang saling bertikai akan membutuhkan lebih dari sekedar inti dari pesan verbal.

2.6 Skema dan Inferensi Memori

Dalam banyak kasus, orang menambahkan pengetahuan umumnya dalam materi yang mereka jumpai dan mereka mengingat bahwa informasi ini pernah hadir dalam materi aslinya. Dengan demikian mengingat kembali bisa termasuk inferensi atau interpretasi logis dan kesimpulan yang tidak pernah merupakan bagian dari materi stimulus aslinya, mari kita pertimbangkan penelitian klasik pada topic ini, sebaik implikasi dari sebuah iklan.

Penelitian klasik mengenai inferensi  Penelitian pada bidang ini dimulai dengan penelitian Sir Frederick Bartlett (1932), seorang peneliti memori yang menggunakan materi bahasa natural. Seperti telah disebutkan sebelumnya teori dan tehniknya menandakan pendekatan kontemporer psikologi kognitif. Sedangkan Ebbinghaus (1885/1913)  menyukai kata-kata omong kosong, Bartlett yakin aspek yang paling menarik dari memori adalah interaksi yang kompleks antara pengetahuan dasar dari para partisipan dalam sebuah percobaan dengan materi yang dihadirkan selama percobaan. Khususnya dia berpendapat bahwa ketertarikan yang unik dari setiap individu dan pengalaman pribadi bisa membentuk konten sebuah memori.

Bartlett (1932) dalam seri penelitiannya yang cukup terkenal, dia memerintahkan kepada murid-murid  inggris untuk membaca cerita Amerika yang berjudul “Pertempuran Para Hantu” mereka kemudian diperintahkan untuk mengingat kembali cerita 15 menit kemudian. Bartlett menemukan bahwa para peserta diajak untuk mengabaikan materi yang tidak masuk akal dari cara pandang murid-murid Inggris (sebagai contoh, bagian kisah yang menceritakan hantu yang menyerang soseorang yang tidak merasakan sakit) mereka juga diarahkan untuk membentuk kisah ke dalam bentuk yang lebih familiar, lebih mirip kisah dongeng Inggris. Bartlett juga memerintahkan para partisipan penelitiannya untuk mengingat kembali kisahnya, setelah jeda beberapa hari. Dia melaporkan bahwa seiring berjalannya waktu setelah mendengarkan kisah aslinya, kisah yang di recalled  membawa  lebih banyak unsur dari pengetahuan sebelumnya  dan sedikit informasi dari cerita aslinya .

Bransford dan Kawan-kawan (1972) menyajikan lebih banyak bukti mengenai penggabungan pengetahuan sebelumnya dengan informasi dari stimulus. Ilmuwan ini meneliti bagaimana orang membangun model mental berdasarkan deskripsi verbal. Sebuah topic yang kami pertimbangkan pada akhir bab 6.  Mereka memberikan kepada para peserta kalimat seperti “ tiga ekor kura-kura beristirahat di atas kayu yang mengapung dan ikan-ikan berenang di bawahnya” kemudian para peserta menerima test pengenalan yang berisi kalimat seperti “tiga ekor kura-kura beristirahat di atas kayu yang mengapung dan ikan-ikan berenang di bawahnya”  sebagai catatan pada kalimat ini diakhiri dengan “it” dan bukan dengan”them”tapi ini merupakan inferensi yang masuk akal dari kalimat yang pertama. Pengetahuan kita dalam relasi spasial mengatakan bahwa kura-kura ada di kayu dan ikan ada di bawahnya , lalu ikannya pasti berada di bawah kayu.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa orang yang pernah melihat kalimat yang pertama sering dilaporkan bahwa meraka mengenali kalimat yang kedua. Bransford dan rekan-rekannya (1972) menjelaskan bahwa orang melihat kalimat yang pertama, dan mereka membangun suatu ide dengan menggabungkan kalimat tersebut dengan apa yang mereka ketahui tentang dunia. Hasilnya, mereka percaya bahwa mereka telah melihat secara logis kalimat yang konsisten yang tidak pernah disajikan sebelumnya.

Penelitian Brandsford dan rekan-rekannya mendemonstrasikan latar belakang pengetahuan dapat menyesatkan seseorang, menyebabkan mereka menggunakan sistematis error dan ‘mengingat’ inferensi yang tidak semestinya. Dalam kehidupan sehari-hari, bagaimanapun, latar belakang informasi biasanya membantu cerita. Cerita sederhana telah jelas, struktur regular ( Schank & Abelson, 1995). Orang menjadi familiar dengan struktur dasar cerita dari pengalaman mereka sebelumnya dalam budaya mereka. Mereka menggunakan struktur ini untuk memilah cerita baru yang mereka dengar.  Sekali lagi, ketika latar belakang informasi konsisten dengan materi stimulus, latar belakang informasi ini akan sangat membantu.

Implikasi untuk Iklan (Implications for Advertising) Materi dalam skema dan interpretasi memori dapat digunakan untuk iklan. Seharusnya iklan mengatakan, “Empat dari lima dokter merekomendasikan obat merk Gonif.” Mungkin anda cukup dapat menyimpulkan, oleh karena itu, empat dari lima dokter juga akan merekomendasikan obat merk Gonif, meskipun iklan tidak mengatakan demikian.

Penelitian menyarankan orang yang membaca iklan mungkin langsung menyimpulkan, ‘mengingat’ inferensi yang tidak selalu sesuai dengan yang dijanjikan. Harris dan rekan-rekan (1989) meminta mahasiswa untuk membaca cerita yang berisi beberapa slogan iklan. Beberapa slogan dibuat secara gamblang (misalnya, “Tylenol menyebuhkan flu”). Slogan lainnya hanya tersirat, (misalnya “Tylenol melawan flu”). Pada tugas pilihan ganda yang diikuti, orang yang melihat iklan yang tersirat (implied claim version) seringkali dipilih daripada iklan yang gamblang (direct claim version). Anda dapat mengetahui mengapa hasil tersebut menyarankan bahwa konsumen harus berhati-hati. Apabila iklan tmenyiratkan bahwa suatu produk tertentu memiliki sifat yang luar biasa, pastikan bahwa anda tidak langsung mengambil kesimpulan yang tidak tepat. Anda cenderung ‘mengingat’ inferensi tersebut daripada informasi yang sebenarnya.

Setelah membaca mengenai kecenderungan manusia menarik kesimpulan yang tidak semestinya, mungkin anda menyimpulkan bahwa orang pasti menarik kesimpulan berdasarkan kesimpulan dari pengalaman sehari-hari. Namun, membuat kesimpulan bukan proses yang wajib (Alba & Hasher, 1983; Wynn & Logie, 1998). Beberapa peneliti menemukan bahwa inferensi hanya terjadi pada situasi yang terbatas dan mungkin lebih sering terjadi di laboratorium daripada di kehidupan yang sebenarnya. Faktanya, orang sering mengingat materi dengan akurat, sama seperti pada awal dipresentasikan. Penelitian lanjutan harus menangani masalah kapan memori itu semantic dan kapan ketika itu akurat. Dalam banyak kasus, kemudian, skema dapat mempengaruhi inferensi dalam memori. Bagaimanapun, konsisten dengan Tema 2, memori lebih sering akurat.

2.7 Skema dan Integrasi dalam Memori

Proses akhir dalam pembentukan memori adalah integrasi. Teori skema berpendapat bahwa satu, representasi yang terintegrasi  dibuat dalam memori dari informasi yang dipilih pada fase pertama, pada fase berikutnya diabstraksi, dan diinterpretasikan (dengan bantuan latar belakang pengetahuan) pada fase selanjutnya. Faktanya, beberapa peneliti berpendapat bahwa skema memberikan efek yang lebih kuat selama integrasi dan fase pengambilan daripada selama fase memori sebelumnya (Bloom, 1988; Kardash dkk., 1988). Sekali lagi, bagaimanapun, skema tidak selalu dapat digunakan. Seperti yang telah kita lihat, skema integrasi yang konsisten lebih mungkin ketika ‘recall’ ditunda dan ketika orang melakukan yang lain, tugas simultan selama me-recall.

Integrasi dan Recall yang Tertunda Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa latar belakang pengetahuan tidak berpengaruh terhadap ‘recall’ jika ‘recall’ itu diuji dengan segera setelah materi dipelajari. Namun, setelah tertunda cukup lama, materi yang telah terintegrasi dengan skema yang ada; ‘recall’ sekarang telah diubah. Sebagai contoh, Haris dan rekan-rekan (1989) meminta mahasiswa di Kansas untuk membaca sebuah cerita yang sesuai dengan tradisi budaya Amerika dan Meksiko. Sebuah cerita yang mewakili tentang perencanaan tanggal dalam budaya tradisional Meksiko termasuk sebuah kalimat tentang saudara laki-laki kakak perempuan yang menyertai pasangannya sebagai pendamping; versi Amerika tidak ada pendamping. Ketika me-recall cerita diuji 30 menit setelah membaca materi, siswa tidak menunjukkan kecenderungan untuk mengubah skema cerita orang Meksiko ke arah yang sesuai dengan skema orang Amerika. Setelah ditunda selama 2 hari, namun, siswa telah mengubah sejumlah detail cerita.

Seperti Haris dan rekan-rekannya (1988) tunjukkan, skema tentang budaya dapat mempengaruhi pemahaman awal dari cerita tentang perbedaan budaya. Bagaimanapun, sebagai sumber tambahan penting dari distorsi budaya yang terjadi selama ‘recall’ tertunda.

Integrasi dan Kapasitas Memori Terbatas Penelitian mengesankan skema lebih mungkin untuk mempengaruhi integrasi memori ketika kapasitas memori tegang selama ‘recall’; skema mungkin tidak berpengaruh ketika orang melakukan tugas yang relative sederhana. Sherman dan Bassenoff (1999) meminta seseorang untuk membaca 30 daftar karakteristik, digambarkan sebagai suatu daftar eksperimen (daftar 1). Kemudian mereka membaca daftar karakteristik yang kedua yang telah digambarkan sebagai ciri seorang pria yang bernama Bob Hamilton (daftar 2). Sebagian partisipan diberitahu bahwa Bob adalah seorang yang berkepala plontos; sebagian mengatakan bahwa ia seorang pendeta. Dari 10 karakteristik pada masing-masing daftar menggambarkan yang ramah, 10 menggambarkan tidak ramah, dan 10 lainnya mengatakan netral.

Keesokan harinya, masing-masing item dari dua daftar disajikan lagi, ditambah 30 item yang baru. Partisipan diminta untuk  mengenali karakteristik mana yang sebelumnya berkaitan dengan Bob. Selama tes memori ini, sebagian partisipan hanya melakukan tes pengenalan. Namun, sebagian diberi tambahan, tugas simultan. Khususnya, mereka diminta untuk menahan delapan digit angka dalam memori sambil mengerjakan tugas pengenalan.

Sherman dan Bassenof kemudian menganalisa item dari daftar 1 yang partisipannya keliru menghubungkan dengan Bob. (hanya item dari daftar 2 dapat secara tepat menghubungkan dengan Bob). Hasilnya menunjukkan bahwa partisipan yang hanya melakukan  tugas pengenalan tidak dapat menunjukkan skema memori yang konsisten untuk item dari daftar 1. Tetapi, partisipan yang melakukan tugas simultan menunjukkan skema memori yang konsisten untuk item dari daftar 1. Secara spesifik, mereka mungkin menerapkan item tidak ramah dari daftar ke berkepala plontos dan item ramah ke pendeta.

Seringkali orang mengintegrasikan materi dalam memori. Tetapi, Alba dan Hasher (1983) mengambil bukti eksperimen yang gagal mendemonstrasikan integrasi. Pada banyak kasus, orang menyimpan dalam beberapa memori secara terpisah, unit yang tidak terintegrasi dari original stimulus yang kompleks.

 

Kesimpulan  Tentang Skema

Ringkasannya, skema dapat mempengaruhi memori dalam pemilihan awal materi, mengingat adegan visual, dalam abstraksi, dalam interpretasi, dan bahkan dalam proses akhir integrasi. Namun, yang harus kita catat bahwa skema seringkali gagal dijalankan dengan cara yang diharapkan. Contohnya :

  1. Kita sering memilih materi yang tidak konsisten dengan skema.
  2. Kita mungkin ingat bahwa kita hanya melihat bagian dari objek, daripada objek seutuhnya.
  3. Kita sering ingat kata yang tepat dari suatu bagian sebagaimana aslinya, sebaliknya, pemimpin paduan suara menyatakan sejak lama akan mengundurkan diri.
  4. Kita seringkali menghindari menerapkan latar belakang pengetahuan kita ketika kita akan menginterpretasikan materi baru.
  5. Kita dapat menyimpan elemen dalam memori terisolir satu sama lain, daripada terintergrasi bersama.
  6. Ketika seseorang mengingat kembali informasi dari pengalaman kehidupan yang nyata – daripada informasi yang dibuat oleh peneliti – mereka mungkin bisa lebih akurat (Wynn & Logie, 1998).

Jadi, skema jelas mempengaruhi memori. Namun, pengaruhnya jauh dari sempurna. Akhirnya, seperti yang disebutkan pada tema 5, proses kognisi kita dikendalikan oleh proses bottom-up, serta proses top-down. Oleh karena itu, kita memilih, mengingat, menginterpretasikan, dan mengintegrasikan banyak ciri/sifat unik dari masing-masing stimulus, disamping itu skema-ciri/sifat konsisten yang cocok dengan latar belakang pengetahuan kami.

Ringkasan : Skema dan Skript

  1. Suatu skema adalah pengetahuan umum mengenai situasi atau peristiwa; skript lebih sederhana-urutan peristiwa yang terkait terstruktur dengan baik dengan kegiatan yang familiar.
  2. Menurut penelitian skript, kita dapat mengingat elemen  skript lebih akurat jika skript diidentifikasi di luar dari yang ditetapkan. Juga, orang mungkin tidak mendeteksi kemiripan abstark antara dua skript kecuali kemiripannya ditunjukkan.
  3. Skema dapat bekerja dengan memilih memori; contohnya orang mengingat item konsisten dengan skema kantor. Namun, skema-informasi yang tidak konsisten seringkali disukai ketika tugas dan pembelajaran memerlukan kesengajaan dan memori dinilai dengan mengingat (recall).
  4. Ketika kita mengingat suatu adegan, seringkali kita memperpanjang batas objek yang sebagian telah muncul pada adegan dengan ‘mengingat’nya sebagai objek yang utuh.
  5. Menurut memori model konstruktif, skema mendorong memori abstraksi, sehingga makna umum dipertahankan, meskipun pesan original yang rincinya hilang. Menurut memori pandangan pragmatis, orang bisa mengalihkan perhatiannya untuk mengingat kata-kata yang tepat ketika kata-kata spesifik sangat penting.
  6. Skema mempengaruhi interpretasi memori; orang mungkin berpikir bahwa mereka mengingat kesimpulan yang tidak bener-benar muncul dalam materi aslinya. Sayangnya, seringkali orang ‘mengingat’ kesimpulan yang salah dari iklan.

Skema mendorong representasi yang terpadu dalam memori, penelitian menunjukkan bahwa orang mungkin salah mengingat materi sehingga menjadi tidak konsisten dengan skemanya, khususnya apabila ‘recall’ ditunda dan orang malakukan kegiatan lain pada waktu yang sama.

  1. C.    NEWTERM
  2. Memori semantik: pengetahuan terorganisir kita mengenai dunia
  3. Memori episodik: memori yang memuat informasi mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kita
  4. Kategori: kelas objek-objek yang masuk bersama-sama
  5. Konsep: representasi mental dari kategori
  6. Konsep alami: merujuk pada konsep yang terjadi dalam alam
  7. Artifak: merujuk pada objek yang telah dibentuk oleh manusia
  8. Model perbandingan ciri: menyatakan bahwa konsep-konsep disimpan dalam sebuah daftar ciri. Beberapa keputusan mengenai memori semantik dapat dibuat dengan cepat, sementara keputusan yang lebih halus membutuhkan dua tahap.
  9. Bentuk dasar: bentuk yang diidealkan
  10. Karakteristik bentuk/ciri: menyediakan prototip ketika mereka diminta untuk memberi sebuah contoh dari kategori; prototip berfungsi sebagai titik acuan; prototip dinilai lebih cepat dan akurat; dan prototip sama-sama mempunyai sejumlah atribut bersama dengan item lain dalam kategori kemiripan keluarga.
  11. Teknik verifikasi kalimat: cara menjelaskan kalimat untuk menjelaskan suatu objek
  12. Efek tipikal: pengaruh persamaan dari sutu objek
  13. Prototip: bentuk dasar
  14. Pendekatan prototip: menjelaskan kemiripan keluarga di antara para anggota kategori, tetapi ia tidak dapat menjelaskan penyimpanan informasi tertentu mengenai anggota-anggota kategori, pengaruh konteks dan keahlian pada konsep
  15. Struktur tingkatan: tingkatan superordinat, kategori dasar, dan tingkat subordinat.
  16. Efek priming: efek ketelitian dalam mengambil keputusan
  17. Persamaan keluarga/kekerabatan: tingkat persamaan dalam sutu kategori
  18. Kategori tingkat superordinat: tingkatan yang lebih tinggi atau lebih umum
  19. Kategori tingkat dasar: tingkatan yang lebih spesifik.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: