RSS

ASESMEN AFEKTIF

24 Jun

Sesungguhnya ada lima aspek dalam sebuah penilaian, empat diantaranya termasuk pada penilaian pencapaian pada dimensi akademik yang meliputi pengetahuan, reasoning, ketrampilan, dan produk. Dimensi yang akan dibahas dalam makalah ini adalah aspek yang kelima yaitu afektif atau sikap. Afektif merupakan istilah yang digunakan untuk mengidentifikasi dimensi rasa sadar, sikap jiwa, watak, kecenderungan, atau keinginan yang mempengaruhi pikiran atau tindakan kita. Seperti halnya dengan achievement, afektif merupakan karakteristik manusia yang bersifat multidimensional, termasuk didalamnya adalah kategori sikap, nilai dan minat.

Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor dipengaruhi oleh kondisi afektif peserta didik. Peserta didik yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tertentu, sehingga  dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Walaupun para pendidik sadar akan hal ini, namun belum banyak tindakan yang dilakukan pendidik secara sistematik untuk meningkatkan minat  peserta didik. Oleh karena itu untuk mencapai hasil belajar yang optimal, dalam merancang program pembelajaran dan kegiatan pembelajaran bagi peserta didik, pendidik harus memperhatikan karakteristik afektif peserta didik.

A.    ALASAN PENTING DALAM MEMPERHATIKAN SIKAP

Ada dua alasan bagi masing-masing kita untuk mempedulikan afektif siswa. Pertama, outcome afektif mewakili outcome penting dan proses bersekolah dalam pandangan siswa sendiri. Kedua, perasaan siswa secara kuat berhubungan dengan pencapaian akademik, dan oleh karena itulah memberikan pengaruh yang hebat pada pencapaian akademik.

1. Sikap sebagai Hasil yang Penting

Sebagai hasil pengajaran, sikap sama pentingnya seperti pengetahuan, berfikir, keterampilan, dan produk. misalnya, kita melakukan hal baik tapi sedikit dalam mengajarkan siswa agar menjadi penulis kompeten, jika pada akhirnya mereka benci menulis. Kita tidak membantu mereka agar menjadi pembaca kompeten jika kita gagal menanamkan potensi pembelajaran membaca. Bahkan, jelas-jelas perbuatan yang merugikan jika lingkungan pendidikan kita membiarkan siswa berprasangka bahwa mereka tidak mampu dalam belajar. Tanpa menghiraukan tingkat kompetensi siswa yang sebenamya, jika mereka tidak mempunyai rasa tanggung jawab untuk kebaikan akademik mereka sendiri, maka mereka tidak akan menjadi pembelajar seumur hidup yang dapat dikitalkan masyarakat. ini hanya beberapa contoh jenis sikap yang mewakili kritik hasil-hasil pendidikan. ini merupakan target yang penting dan pengajaran.

 

2. Sikap sebagai Penghubung Keberhasilan/Prestasi

Di luar ini, hasil afektif mewakili dimensi kritis dan proses pengajaran kelas karena mereka terjalin sangat erat dengan keberhasilan. Siswa yang memiliki sikap positif, motivasi untuk mencoba, dan control internal atas keberhasilan akademik mereka sendiri cenderung memperoleh tingkat yang tinggi dibanding mereka yang sikapnya negatif, motivasi kurang, dan melihat diri mereka sendiri sebagai korban dan dunia sekolah yang bermusuhan. Seringkali, siswa gagal bukan karena mereka tidak berhasil, tapi karena memang mereka tidak mau berhasil. Mereka tidak termotivasi untuk belajar. Mengapa? Karena mereka tidak mengerti tugas, terlalu sulit, kurang prasyarat keberhasilan, dan lain-lain. Jadi, mereka gagal, dan kegagalan itu merenggut motivasi mereka. Hal ini menjadi lingkaran setan. Mereka merasa tidak berdaya untuk mengontrol nasib mereka sendiri. Sehingga lama kelamaan mereka yakin bahwa mereka tidak dapat melakukannya (konsep diri akademik yang negative) dan hal itu meinicu motivasi semakin rendah. Kita dapat melihat spiral menurun sebagai hasil interaksi yang rumit dari keberhasilan dan sikap.

Ikatan emosional sangat diperlukan untuk membangun semangat kebersamaan, semangat persatuan, semangat nasionalisme, rasa sosial, dan sebagainya. Nilai yang dimiliki seseorang berkaitan dengan keyakinan. Mereka yang berkeyakinan bahwa sekolah dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat akan berusaha memperoleh kesempatan belajar. Nilai yang dimiliki seseorang dilihat dari usaha peningkatan kualitas pendidikan, ada yang positif dan ada yang negatif. Nilai yang positif adalah yang mendorong siswa belajar dan guru mengajar yang lebih baik, sedang yang negatif adalah yang menghambat siswa belajar dan guru mengajar.

Arti dari Kualitas

            Apabila asesmen hasil afektif ingin terdengar dan bermanfaat sama seperti asesmen prestasi akademik, maka semua itu juga harus muncul dari terget yang jelas dan merefleksikan target tersebut dengan metode yang sesuai.

            Pada kenyataannya, seperti yang akan kita lihat nanti, semua hal yang telah dipelajari mengenai kualitas asesmen seperti berikut ini masih relevan untuk mengases afektif:

–          Mulai dengan visi yang jelas dari hasil afektif yang akan diases.

–          Buat tujuan yang jelas.

–          Jalankan metode asesmen yang sesuai.

–          Ambil sampel dengan tepat.

–          Kontrol asesmen dari campur tangan yang tidak perlu.

Lebih jauh lagi, rentang metode asesmen yanga ada adalah sama seperti yang digunakan dalam target pencapaian. Metode Paper and pencil (respon atau esai tertentu) dapat untuk menases perbuatan, dan/atau komunikasi personal. Ketika format asesmennya sendiri, bisa jadi berbeda, namun metodologi dasarnya tetap konstan sebagai sebab dari asesmen yang bermanfaat.

Perbedaan yang Penting

Bagaimanapun, ada satu perbedaan yang sangat penting antara prestasi dengan hasil afektif, dan hal itu berkaitan dengan alasan untuk mengases-cara bagaimana kita menggunakan hasil asesmen. Sangat diterima dengan baik ketika menganggap siswa bertanggungjawab untuk menguasai pengetahuan, pemikiran, keterampilan, dan/atau hasil produk. Dalam konteks ini, kita melaksanakan asesmen untuk membuktikan bahwa siswa telah berperan sesuai dengan harapan kita.

Tiga Aturan Dasar

            Sebelum penjelasan dan mendiskusikan cara-cara untuk menilai hasil afektif, ada tiga aturan dasar yang harus diketahui untuk menangani hasil afektif di dalam kelas

Aturan dasar 1. Harus selalu waspada akan sifat alami interpersonal yang snesitif dari  perasaan siswa dan berusaha untuk memperkenalkan pengaruh positif melalui penilaian anda akan  hasil akhirnya. Proses untuk menilai perasaan mudah mendapat kritik dari dua belah pihak. Ketika sedang menilai, maka Anda meminta siswa untuk mengambil resiko dengan bersikap jujur di dalam sebuah lingkungan yang dikontrol dimana kejujuran pada pelaksanaannya tidak pernah dilakukan dengan sepenuhnya. Para siswa mungkin sangat segan mengekspresikan perasan jujur karena kekurangan pengalaman untuk melakukan hal itu dan karena resiko bahwa hasil yang didapat akan digunakan sedemikian rupa untuk melawan siswa. Dibutuhkan seorang guru yang merupakan ahli dalam masalah hubungan manusia untuk melawati hambatan ini dan memperkenalkan ekspresi perasaan yang jujur di dalam kelas. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengijinkan responden tanpa nmengajukan nama (anomin).

Dalam kasus anda, anda mengambil resiko dengan menuntut kejujuran pada tempat respon yang jujur mungkin akan berubah menjadi sesuatu yang Anda harapkan. Umpan balik yang negatif tidak pernah mudah untuk didengar dan disikapi. Meskipun demikian, kika bertanya bagaimana perasaan siswa mengenai semua hal yang ada di kelas, mendengarkan dengan seksama pada jawaban yang diberikan, dan menyikapi hasil yang didapat dengan keyakinan yang baik (kepercayaan) maka hasil yang didapat akan sepadan dengan resiko tang dambil. Hasinya akan berupa hubungan guru-siswa yang lebih produktif-kerjasama yang berjalan dengan baik diketahui dengan adanya rasa percaya yang besar.

Aturan dasar 2. Kenali batas ketika berhubungan dengan dimensi afektif dari pengajaran. Ada dua batasan penting yang harus diwaspadai: Pertama, ketika sampai pada pemahaman dan menilai hasil pendidikan afektif, adakalanya akan menghadapi siswa-siswa yang sangat bermasalah secara pribadi atau sosial. Dalam kasus ini, kita harus memberi perhatian lebih dan tetap berhati-hari. Ini bukan saatnya untuk menjadi psikolog yang amatir. Jika berada dalam situasi dimana merasa tidak mudah dengan apa yang telah kita pelajari mengenai siswa tersebut atau dengan kemampuan kita untuk menolong siswa tersebut agar dapat menangani perasaannya atau lingkungan sekitar dengan baik, mungkin hal itu telah benar-benar mencapai batasan keahlian prosesional sebagai guru.

Guru yang paling perhatian dan bertanggung jawab adalah mereka yang mengetahui kapan mereka harus menghubungi kepala sekolah, konselor, psikolog sekolah, atau seorang dokter untuk mendapatkan bantuan konseling yang kompeten bagi siswanya. Jangan mengambil resiko ke dalam wilayah pribadai yang tidak kita kuasai. Kita akan melakukan kesalahan besar jika gagal untuk merespon dengan benar.

Batasan yang kedua adalah sebuah konsekuensi logis dari yang pertama. Ketika menilai dan mengevaluasi perasaan siswa, fokus terhadap perasaan-perasaan yang berhubungan dengan objek khusus yang berhubungan dengan sekolah, perilaku siswa atau aktifitas di kelas, minat yang ingin mereka kejar, pilihan kegiatan, kosep diri dalam seorang pelajar delam seting akademis. Hal ini mempunyai kecendreungan berorientasi sekolah yang pasti dan mempresentasikan hasil afektif keluarga dan lingkungan sekolah juga disepakati memiliki peranan penting sebagai bagian dari pengalaman di sekolah.

Aturan dasar 3. Jika anda cukup perhatian untuk memahami hasil afektif dan untuk mengembangkan kualitas penilaian hasil tersebut, maka beri perhatian khusus untuk menggunakan hasilnya dengan serius dan ubah cara mengajar ketika dibutuhkan. Dengan kata lain, jangan bertanya pada siswa mengenai hal-hal yang muncul untuk diperhatikan. Semakin bersikap berdasarkan hasil penilaian ini, semakin besar potensi bahwa siswa akan berbagi perasaannya di masa yang akan datang yang pada akhirnya akan membantu guru untuk meningkatkan kealamian dan kualitas suasana belajar. Ketika dilaksanakan dengan baik, asesmen afektif dapat menjadi kegiatan yang produktif bagi siswa dan guru. Hal tersebut dapat mengarahkan pada tindakan khusus guru dan siswa yang mengukuhkan pembelajaran konstruktif dan pencapaian yang maksimal.

Untuk membantu mengingat dengan jelas panduan penting ini, akan lebih diringkas pada Tabel 1 berikut ini:

 

Aturan Dasar untuk Mengases Afektif dalam Kelas

Tangani sikap dengan jujur untuk mendapatkan kepercayaan
Ketahui batasan anda dan tetap berada di dalamnya

–          sebagai seorang pendidik profesional

–          sebagai anggota dari komunitas yang lebih luas

Bertindak dengan tegas di bagian sikap positif yang berhubungan dengan kelas

B.     PENGERTIAN AFEKTIF

Istilah afektif dipergunakan untuk mengidentifikasi dimensi perasaan dan kesadaran siswa (the feeling dimension of consciousness) – emosi di dalam, perilaku, atau keinginan yang mempengaruhi pemikiran dan tindakan kita. Seperti pencapaian/prestasi (achievement), affektif merupakan suatu karakteristik manusia yang multidimensional, termasuk perilaku (attitude), nilai, dan minat.

Untuk memahami skala kemungkinan tersebut, kami akan mengikuti petunjuk Anderson (1981) dan mendiskusikan beberapa jenis affektif yang relevan dalam lingkup sekolah:

–          Perilaku

–          Minat

–          Motivasi

–          Nilai yang berhubungan dengan sekolah

–          Pilihan

–          Konsep akademis diri

–          Tempat pengontrolan (locus of control)

Jadi, menurut Anderson (1981) karakteristik manusia meliputi cara yang tipikal (khas) dalam berpikir, berbuat, dan perasaan. Tipikal berpikir berkaitan dengan ranah kognitif, tipikal berbuat berkaitan dengan ranah psikomotor, dan tipikal perasaan berkaitan dengan ranah afektif.

Masukan utama adalah siswa, yaitu karakteristik siswa. Karakteristik siswa terdiri dari kemampuan kognitif, kemampuan psikomotor, dan kemampuan afektif. Proses pembelajaran ditentukan oleh produk yang diinginkan dan karakteristik masukannya. Pelaksanaan proses pembelajaran melibatkan komponen masukan instrumental yaitu guru, kurikulum dan silabus, strategi pembelajaran, sistem penilaian, fasilitas belajar, dan lingkungan belajar. Produk pembelajaran adalah kompetensi lulusan yang diinginkan. Kompetensi lulusan terdiri dari kemampuan berpikir, keterampilan melakukan pekerjaan atau tugas, dan kemampuan afektif dalam berbagai situasi.

Strategi pembelajaran ditentukan oleh kompetensi lulusan yang diinginkan dan karakteristik masukannya, yaitu karakteristik siswanya. Kemampuan afektif merupakan bagian dari hasil belajar dan memiliki peran yang penting. Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor sangat ditentukan oleh kondisi afektif siswa. Siswa yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tersebut, sehingga dapat diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Oleh karena itu untuk mencapai hasil belajar yang optimal, guru dalam merancang program pembelajaran dan pengalaman belajar siswa harus memperhatikan karakteristik afektif siswa.

Hal tersebut menampilkan dimensi yang signifikan dari afektif kelas, semuanya relatif mudah dijelaskan dan dimengerti, serta semuanya dapat dinilai di kelas menggunakan prosedur yang relatif sederhana  dan mudah.

Namun demikian, disarankan bahwa ini bukanlah satu-satunya bentuk affektif menurut kamus profesional. Kadang-kadang tujuan pendidikan merujuk pada ciri-ciri seperti sensitfitas interpersonal, kejujuran, moralitas, tanggung jawab dan percaya diri, dan lainnya. Pada bab ini, kita tidak akan mempelajari semua bentuk affektif tersebut karena tiga alasan: ruangnya terbatas, definisi dan pilihan tambahan ini tidak sejelas dan setajam seperti ditulis di atas, dan kadang-kadang affektif tersebut bisa membawa kita pada batasan dan tanggung jawab sebagai guru (menurut pendapat saya). Karena itu kita akan membatasi diskusi pada tujuh jenis affektif.

Menurut Krathwohl dalam Sax (1980) bila ditelusuri hampir semua tujuan kognitif mempunyai komponen afektif. Dalam pembelajaran sains, misalnya, di dalamnya ada komponen sikap ilmiah. Sikap ilmiah adalah komponen afektif. Peringkat (level) ranah afektif menurut menurut taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu: receiving (attending), responding, valuing, organization, dan characterization.

Receiving atau attending, siswa memiliki keinginan menghadiri atau mengunjungi suatu phenomena khusus atau stimulus, misalnya kelas, kegiatan, musik, buku, dan sebagainya. Dilihat dari tugas guru, hal ini berkaitan dengan mengarahkan perhatian siswa terhadap suatu kegiatan.

Responding merupakan partisipasi aktif siswa, yaitu sebagian dari perilakunya. Pada peringkat ini siswa tidak saja mengunjungi penomena khusus tetapi ia juga bereaksi. Hasil pembelajaran pada daerah ini menekankan pada keinginan memberi respons, kepuasan dalam memberi respons. Level yang tinggi pada kategori ini adalah minat, yaitu hal-hal yang menekankan pada pencarian hasil dan kesenangan pada aktivitas khusus. Misalnya kesenangan dalam membaca buku.

Valuing adalah sesuatu yang memiliki manfaat atau kepercayaan atas manfaat. Hal ini menyangkut pikiran atau tindakan yang dianggap sebagai nilai keyakinan atau sikap dan menunjukkan derajat internalisasi dan komitmen. Derajat rentangannya mulai dari menerima suatu nilai, misalnya keinginan untuk meningkatkan keterampilan, sampai pada tingkat komitmen. Valuing atau penilain berbasis pada internalisasi dari seperangkat nilai yang spesifik. Hasil belajar pada level ini berhubungan dengan prilaku yang konsisten dan stabil. Dalam tujuan pembelajaran, penilaian ini diklasifikasi sebagai sikap dan apresiasi.

Organization, nilai satu dengan nilai lain dikaitkan dan konflik antar nilai diselesaikan, dan mulai membangun sistem nilai internal yang konsisten. Hasil pembelajaran pada level ini berupa konseptualisasi  nilai atau organisasi sistem nilai. Misalnya pengembangan filsafat hidup.

Peringkat ranah afektif tertinggi adalah characterization atau nilai yang komplek. Pada level ini siswa memiliki sistem nilai yang mengendalikan prilaku sampai pada suatu waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup. Hasil pembelajaran pada level ini berkaitan dengan personel, emosi, dan sosial.

Pemikiran atau prilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif (Anderson, 1981:4). Pertama, prilaku ini melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Kedua prilaku ini harus tipikal pemikiran prilaku seseorang. Kriteria  lain yang termasuk ranah afektif ini adalah: intensitas, arah, dan target. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. Beberapa perasaan lebih kuat dari yang lain, misalnya cinta lebih kuat dari senang atau suka. Selain itu beberapa orang kemungkinan memiliki perasaan yang lebih kuat disbanding yang lain.

Arah berkaitan dengan orientasi positif atau negatif dari perasaan. Arah menunjukkan apakah perasaan itu baik atau buruk. Misalnya senang pada pelajaran dimaknai positif, sedang kecemasan dimaknai negatif. Bila intensitas dan arah perasaan ditinjau bersama-sama maka karakteristik afektif berada dalam suatu kontinum, yaitu skala pengukuran yang kontinum.

Karakteristik afektif yang ke tiga adalah target. Target mengacu pada objek, aktivitas, atau ide sebagai arah dari perasaan. Bila kecemasan merupakan karakteristik afektif yang ditinjau, ada beberapa kemungkinan target. Siswa mungkin bereaksi terhadap sekolah, matematika, situasi social, atau pengajaran. Tiap unsur ini bisa merupakan target dari kecemasan. Kadang-kadang target ini diketahui oleh seseorang namun kadang-kadang tidak diketahui. Seringkali siswa merasa tegang bila menghadapi tes di kelas. Siswa tersebut cenderung sadar bahwa target ketegangan adalah tes.

C. JENIS-JENIS AFEKTIF

Jika ingin mengases karakteristik sikap, harus dimulai dengan definisi yang khusus dan tajam. Dalam bagian ini, akan mempelajari beberapa definisi dasar yang akan membantu kita agar dapat mendesain bahwa literatur pendidikan meuat pokok pengetahuan yang besar mengenai setiap jenis hasil yang didefinisikan disini. Semakin paham tentang literatur dan konsep ini, maka akan lebih mudah untuk mengases sikap siswa. Berdasarkan jenis afektif yang diungkapkan Anderson, maka jenis-jenis afektif adalah:

1.      Perilaku

Anderson mendefinisikan perilaku sebagai “perasaan yang…. dapat membantu atau tidak membantu, positif atau negatif, dan biasanya mengarah langsung pada objek yang khusus. Hubungan antara perasaan dan objek tertentu dipelajari. Dan sekali dipelajari, perasaan tersebut sevara konsisten dialami kehadiran objek tersebut”.

Jelas bahwa jangkauan perilaku yang dapat kita pelajari adalah seluas jumlah objek yang akan kita sikapi. Di sekolah, siswa mungkin mempunyai perilaku yang menyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap orang lain, guru, staf administrasi, anggota sekolah, dan lain-lain.

2.      Minat

Hal ini merepresentasikan perasaan yang berkisar dan level perasaan senang yang tinggi hingga tidak ada kegembiraan sama sekali di setiap kemungkinan yang digunakan, atau ketika menggunakan kemungkinan tersebut di setiap kegiatan khusus. Sekali lagi, yang dipelajari adalah hubungan antara level minat dengan objek. Seorang siswa mungkin akan sangat tertarik pada drama namun sangat tidak menyukai goegrafi.

3.      Motivasi

Jenis sikap ini merupakan kekuatan akan keinginan seorang siswa untuk meraih atau untuk bertindak secara sukarela di setiap kegiatan sekolah dan/atau kerja yang berhubungan dengan sekolah. Ini adalah keinginan untuk diikuti, kecenderungan untuk meraih sukses, untuk menghindari kegagalan, bercita-cita berbuat sesuai norma dan ekspektasi yang ada. Sebagai contoh, murid dapat dimotivasi atau dihilangkan motivasinya dengan maksud agar berpartisipasi dalam aktivitas belajar tertentu atau untuk mengejar arah studi tertentu.

4.      Nilai

Anderson mendefinisikan perasan ini dengan menyatakan bahwa, pertama “nilai adalah kepercayaan mengenai apa yang harus dikerjakan, apa yang penting atau dihargai dan standar apa yang digunakan dalam bersikap dan bertindak yang secara personal dan sosial dapat diterima. Kedua, nilai bersifat abadi atau tahan lama. Oleh karena itu, niali cenderung stabil stabil dalam jangka waktu yang lama”. Jelas bahwa objek nilai dapat meluas dan melebar, dan itu yang dipelajari. Nilai-nilai terlihat memiliki jangkar yang sangat dalam di dalam kehidupan kita.

5.      Pilihan

Pilihan yang dibuat merefleksikan keinginan atau kecenderungan untuk memilih sebuah objek dibandingkan pilihan objek yang lain. anderson mengatakan bahwa ini bisa jadi merupakan menifestasi perilaku (salah satu lebih disukai dari pada yang lain, minat (yang satu lebih menarik dibandingkan dengan yang lain), dan nilai (yang satu memiliki nilai yang lebih besar). Esensi dari pilihan ini adalah bahwa akumulasi perasaan ini mengarahkan pada sebuah pilihan yang dilakukan oleh siswa

6.      Konsep akademis diri

Tidak ada karakteristik afektif yang lebih berhubungan dengan sekolah dibandingkan yang satu ini. Hal ini adalah rangkuman dari semua keputusan evaluatif yang dibuat oleh satu orang mengenai kesuksesan orang lain atau produktivitas dalam sebuah konsep akademis. Pada intinya, hal ini adalah sebuah perilaku (baik yang disukai maupun yang tidak) mengenai diri seseorang (objek) ketika dilihat dalam setting ruang belajar. Konsep akademis diri seperti yang ditulis Anderson adalah sebuah visi yang dipelajari yang sebagian besar berasal dari evaluasi diri yang dilakukan oleh orang lain selama periode tertentu.

7.      Tempat pengontrolan

Hal ini mencerminkan sebuah bagian yang sangat penting dari konsep akademis diri. Dalam kasus ini, karakteristik pilihan adalah sebab atau alasan-alasan murid untuk sukses atau gagal dalam akademis. Salah satu jenis sebab didefinisikan sebagai sebab internal. “Saya sukses karena saya bekerja keras”. Sebab yang lain adalah eksternal, ketika berlaku aturan “Saya yakin mendapt nilai A semata-mata karena beruntung!”. Namun, ada juga sebab eksternal yang lain ketika berlaku aturan : “Saya dapat tampil dengan bagus karena memiliki seorang guru yang baik.” Pada masalah ini, persepsi murid mengenai alasan-alasan yang mendasari hasil yang mereka alami. Hal ini juga berarti bahwa persepsi belajar diri muncul dari perasaan mereka akan hubungan antara usaha dan kesuksesan akademis.

 A.    VARIASI TIPE-TIPE AFEKTIF

Tipe-tipe afektif bervariasi dalam tiga dimensi penting, diantaranya:

1.      Berkenaan dengan perasaan tentang objek yang berbeda. Attitude dan nilai dapat difokuskan pada rentang objek yang tak terbatas, sedangkan academic self-concept memiliki fokus sentral yang lebih terbatas.

2.      Variasi dalam arahnya. Berfikir tentang afektif merupakan perluasan keluar dan titik netral dalam arah secara kontinyu dan positif ke negatif

3.      Variasi dalam intensitasnya. Perasaan dan nertal dan arahnya secara extrim dapat menjadi positif dan negatif yang sangat kuat.

Satu hal yang sifatnya umum yang harus kita perhatikan dengan baik saat kita akan menilai (mengassess) dan memikirkan afektif bahwa yang namanya perasaan itu sifatnya mudah menguap (hilang), terutama pada usia remaja (usia anak-anak sekolah). Perasaan siswa sangat bisa berubah dalam hal arahnya ataupun intensitasnya untuk beberapa alasan. Hal ini sengaja dijelaskan dengan tujuan supaya penilaian afektif penting dilakukan secara berulang-ulang sepanjang waktu untuk melihat kecenderungannya. Hasil penilaian mungkin berlaku untuk beberapa waktu singkat saja.

Anderseon menyediakan sebuah tabel sederhana yang memperlihatkan variasi-variasi tipe afektif tersebut

Tabel 2. Rentang sikap terhadap sekolah

B.     Pilihan Metode Penilaian

 PEMILIHAN ASESMEN

Terdapat empat tipe penilaian yang relevan untuk menilai afektif yaitu metode kertas dan pencil yang bertumpu pada respon terbatas atau essay, penilaian performa, dan penilaian personal komunikasi antar siswa. Dalam kasus ini, pilihan terbatas dan essay digabungkan ke dalam bentuk paper and pencil test karena kedua pilihan test tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk angket (alat mendasar penilaian sikap). Kita dapat menanyakan perasaan siswa melalui angket dan menawarkan rentang respon untuk dipilih, atau bisa memberi siswa pertanyaan terbuka dan meminta respon yang dalam atau luas tentang suatu hal. Jika kita memfokuskan pertanyaan affektif tentang objek tertentu, kita dapat menginterpretasikan respon siswa dalam arah dan intensitas perasaan.

Penilaian performan hasil affektif tidak jauh beda dengan penilaian performan untuk pencapaian hasil belajar. Perlu adanya observasi yang sistematik terhadap perilaku siswa dan/atau produk siswa dengan kriteria yang jelas, dan menggambarkan kesimpulan tentang kecenderungan arah dan intensitas perasaannya. Sehingga, observasi dan professional judgemen dan penilaian menjadi dasar pada penilaian performan ini.

Penilaian affektif melalui penilaian komunikasi personal dilakukan melalui wawancara baik dengan siswa langsung atau dengan orang-orang yang mengetahui siswa tersebut. Kita memberikan pertanyaan dan membicarakan tentang kecenderungan arah dan intensitas perasaannya.

 1. Mencocokkan Target Afektif Dengan Metode Penilaian

Setiap metode penilaian untuk menguak affektif siswa dapat ditampilkan dalam beberapa format dan masing-masing format meiniliki keunggulan spesifik (sfesific advantages), keterbatasan (limitations), kunci untuk sukses (key to success), dan hal yang hams dihindari (Pitfall to be avoided). Untuk melihat perbandingannya, dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini:

Tabel 3. Alat untuk melaksanakan penilaian afektif

  Selected Response (angket terstruktur) Open Ended (angket tidak terstruktur) Penilaian performan Penilaian Komuikasi Personal
Kekuatan/ keunggulan
  • Dpat difokuskan dengan jelas
  • Mudah dikelolah
  • Mudah menyimpulkan hasil
  • Hasil dapt dibandingkan antar responden
  • Dapat tanpa nama
  • Contoh instrumentdapat konsisten sepanjang waktu
    • Fokus dapt dibuat jelas
    • Realtive mudah dikembangkan
    • Relative mudah dikelolah
    • Alas an perasaan dapat ditunjukkan
    • Dapat tanpa nama
    • Contoh dapat konsisten sepanjang waktu
    • Kesimpulan dapat digambarkan melalui observasi prilaku atau/produk
    • Dapat focus pada petunjuk nonverbal
    • Tidak mendesak
    • Dapat mengobservasi kelompok atau  individu
 
  • Dapat difokuskan lebih tinggi
  • Dapat tak disengaja, tanpa tekanan
  • Dapat distrukturkan ataupun tidak
  • Dapat memperhatikan petunjuk verbal maupun nonverbal
  • Dapat memberikan pertanyaan lanjutan
  • Seperti seperti diperhatikan
  • Dapat menghasilkan pendalaman yang optimal
Keterbatasan
  • Tidak dapat memberikan pertanyaan lanjutan
  • Alasan untuk perasaan yang dipilihnya tidak nampak
  • Menyaratkan untuk membaca dengan seksama
    • Tidak dapat memberikan pertanyaan lanjutan
    • Dapat terjadi kesalahaninterpretasi skor
    • Menyaratkan untuk membaca dan menulis dengan seksama
    • Secara tidak sadar dapat mengobservasi prilaku yang tak diharapkan
    • Kadang dapat tanpa nama
    • Kemungkinan terjadi kesalahan interpretasi penglihatan
    • Memakan banyak waktu
    • Menarik mundur dari siswa yang tidak komunikatif
    • Pewawancara dapat salah interpretasi
    • Tidak dapat tanpa nama
    • Dapat menyita banyak waktu
Hasil yang baik ketika
  • Tujuannya jelas
  • Target sikap didefenisikan
  • Siswa memahami dan menilai tujuan
  • Pengelolaannya santai
  • Petunjuk dibuat jelas
  • Pertanyaannya disusun dengan jelas
  • Tujuannya jelas
  • Target sikap didefenisikan
  • Siswa memahami dan menilai tujuan
  • Pengelolaannya santai
  • Petunjuk dibuat jelas
  • Pertanyaannya disusun dengan jelas
  • Tulisan siswa baik
  • Tujuannya jelas
  • Perlu observasi yang bervariasi
  • Ceritera ditetapkan dengan jelas
  • Siswa memahami dan menilai tujuan
  • Petunjuk dibuat jelas
  • Tujuannya jelas
  • Target sikap didefenisikan
  • Siswa memahami dan menilai tujuan
  • Pengelolaannya santai
  • Petunjuk dibuat jelas
  • Pertanyaannya disusun dengan jelas
  • Interaksi dibaut santai
Hal yang perlu dihindari
  • Ketidakseriusan siswa mengahadapi tes ini dan merasa terancam
  • Siswa cenderung pertengahan mengisi respon
  • Terlalu panjang
  • Pertanyaan ambigu
  • Ketidakseriusan siswa mengahadapi tes ini dan merasa terancam
  • Siswa cenderung pertengahan mengisi respon
  • Terlalu panjang
  • Pertanyaan ambigu
  • Pertanyaan mengarahkan
  • Ceritera tidak jelas
  • Observasi yang terlalu singkat
  • Penilaian memicu pada prilaku yang diinginkan peneliti yang tidak menginterpretasikan sikap sebenarnya
  • Ketidakseriusan siswa mengahadapi tes ini dan merasa terancam
  • Siswa cenderung pertengahan mengisi respon
  • Terlalu panjang
  • Pertanyaan ambigu
  • Pertanyaan mengarahkan

Cara yang terbaik untuk supaya siswa dapat mengisi angket secara serius adalah dengan cara memberikan pemahaman kepada mereka bahwa mereka akan mempunyai segala sesuatu untuk dibedakan dan tidak ada satupun yang hilang dari diri mereka jika melakukannya dengan kejujuran.

Melalui angket itu sendiri, kita harus berusaha untuk memberikan pertanyaan yang relevan tentang pilihan mana yang mungkin dapat dipilih siswa. Kita harus menghindari pertanyaan yang ambigu (bermakna ganda) dan berusaha mencari jawaban mendalam, akurat dan pertanyaan yang komplit.

a. Format respon terbatas (selected respon)

Format ini dapat digunakan untuk mengukur atau menilai affektif seseorang. Gable (1986) menjelaskan bahwa kita dapat menanyakan siswa tentang persetujuannya dengan pernyataan khusus, seberapa penting mereka memilih suatu hal, bagaimana mereka mampu memutuskan seberapa bagus suatu objek yang menarik atau seberapa sering suatu hal terjadi.

Contoh:

Apakah kita setuju atau tidak setuju dengan pemyataan berikut sebagai pandangan terhadap pembelajaran;

Kerja kelompok yang dilaksanakan menolong saya untuk belajar lebih tentang keterampilan kepeinimpinan saya:

a. Sangat setuju

b. Setuju

c. Ragu-ragu

d. Tidaksetuju

e. Sangat tidak setuju

Atau penilaian interes partisipasi siswa dalam kegiatan yang berlangsung:

Apakah anda suka mengerjakan tugas kolaborasi di waktu mendatang? Berapa penting tugas tersebut bagi anda?

a. sangat penting

b. Penting

c. Tanpa keputuasn

d. Tidak penting

e. Sangat tidak penting

 Contoh lain format skala selected response untuk menilai persepsi siswa tentang beberapa objek:

Seberapa baik anda menyusun pola pikir anda dalam menyiapkan laporan team anda:

a. Luar biasa

b. Bagus

c. Sedangsaja

d. Jelek

e. Sangat jelek

Beberapa cara untuk menanyakan persepsi frekuensi suatu kejadian tertentu:

Seberapa sering anda merasa memahaini dan dapat mengerjakan PR seperti yang telah dutuliskan:

a. selalu

b. Sering

c. Kadang-kadang

d. jarang

e. tidakpemah

Salah satu bentuk paling umum format item angket selected response adalah pertanyannya meminta siswa untuk memilih jawaban diantara pilihan yang kuat. Contoh berikut ditujukan untuk memahami locus of control siswanya:

Jika kita mengerjakan tes dengan baik, hal ini secara tipical karena:

a. guru saya mengajar dengan baik

b. Keberuntungan saya

c. Saya belajar dengan keras

Atau

Saya gagal mendapat gelar sarjana karena:

a. Saya tidak mencoba dengan baik

b.Guru saya tidak memperlihatnya kepada kaini bagaimana belajar

Bentuk lain dan pilihan terbatas (selected response ) adalah dengan skala anchor pada masing-masing ujung dengan diantaranya terdapat kutub sifat dan kecenderungan pilihan arah dan intensitas. Berikut adalah contoh angket yang difokuskan pada interes dan motivasi siswa.

Gunakan skala yang tersedia di bawah ini untuk menjelaskan perasaan anda tentang keterlibatan (partisipasi) anda di dalam tujuan sekolah seperti berikut:

Matematika

sangat tertarik          ______ ______ _______ _______ sangat tidak tertarik

sangat termotivasi   ______ ______ _______ _______ sangat tidak termotivasi

 

Sains

tertarik                     ______ ______ _______ _______ sangat tidak tertarik

sangat termotivasi   ______ ______ _______ _______ sangat tidak termotivasi

Format respon terbatas (selected response) yang sangat relevan untuk anak kecil dapat ditampilkan dalam bentuk yang lebih menarik seperti berikut:

Gambar tersebut diberikan dan menunjukkan perasaan mereka dengan cara melingkarinya. Sebagai contoh, siswa harus memberikan tanda lingkaran pada gambar pilihannya sesuai perasaan tentang sesuatu objek tertentu.

Jika kita fokus pada jenis – jenis penilaian respon terbatas tentang objek yang berhubungan dengan sekolah seperti tertulis di atas, maka siswa dapat meiniliki waktu yang realtif mudah untuk menyatakan sikapnya, interesnya, nilai terhadap sekolah, preperance, acadeinic self concept dan rasa sukanya. Lebih jauh lagi, hal tersebut lebih mudah untuk menyimpulkan hasilnya. Untuk melihat kecenderungan perasaan kelompok, dapat dilakukan dengan men-talli jumlah dan persentase siswa yang meinilih masing-masing pilihan respon.

 

b. Respon tertulis

Jenis lain angket yang dapat ditampilkan adalah jenis angket essay, sehingga responden bebas mengisi sesuai perasaannya secara total. Kita juga boleh menggabungkan beberapa jenis penilaian affektif didalam mengevaluasi pemahaman.

 

c. Angket

Sangat sering seorang pengembang angket menggabungkan format jenis respon terbatas dengan format jeris open ended. Jika kita mencari komentar responden terhadap suatu masalah, tanyakan hal ini dengan konteks khusus yang jelas. Atau dengan kata lain, jika dasar pertanyaannya kurang jelas bagi kita, jangan ditanyakan. Disarankan untuk menepati janji yang sudah kita sampaikan kepada siswa, jangan sampai dilanggar, kepercayaan siswa perlu dijaga.

 

d. Menilai Afektif melalui Penilaian Kinerja

Dalam suatu pengertian, penggunaan pengamatan dan pendapat sebagai dasar untuk mengevaluasi affektif merupakan praktek yang sama tuanya dengan umat manusia. Pengertian bahwa performans assessment dapat dijadikan sebagai indikator standar dalam membuat kesimpulan ketika kita melihat siswa melakukan sesuatu. Menerapkannya di kelas, misalnya sering disebutkan sebagai fakta dan dan sikap positif, atau kelambatan (tardiness) sebagai bukti ketiadaan nilai atau kurangnya rasa tanggung jawab. Kadang diamati dan direfleksikan dengan interaksi dengan siswa, seperti ketika mereka tampak tidak berusaha atau tidak peduli, dan kita menyimpulkan bahwa mereka meiniliki motivasi dan kepercayaan akademik yang rendah.

Dalam beberapa masalah kesimpulan ini mungkin benar, tapi juga dapat salah. Akibatnya bagaimana jika pengamatan kita menyebabkan kita salah dalam menarik kesimpulan? Bagaimana mengurangi resiko kesalahan tersebut, karena sangat dimungkinkan bahwa kelemahan siswa berkaitan dengan beberapa faktor di luar kendali siswa, atau rendahnya motivasi bukan karena rendahnya kepercayaan diri tapi indikator yang tidak jelas bagi siswa untuk menyelesaikan tugasnya? Jika kesimpulan kita salah, kita mungkin dapat membuat perencanaan yang baik dan bisa mendapatkan tanggapan yang sebelumnya tidak diperoleh.

 Ketika kita berusaha membuat gambaran atau kesimpulan tentang sikap siswa, nilai-nilai, minat, dan semacamnya, sering direfleksikan kelemahan kita dalam prinsip dasar penilaian suara (sound assessment). Fakta dalam pengamatan dan pengambilan keputusan tidak dapat merubahnya karena perubahan hasil secara alamiah. Target yang tidak jelas, menyebabkan pemilihan metode yang salah, sehingga gagal dalam pelaksanaan dan pengendalian penyimpangan dalam kesalahan penilaian yang mendorong pada kesimpulan yang salah tentang prestasi. Ketentuan dan fakta untuk sound assessment tidak pernah dapat diatasi. Karena alasan ini, perlu dikembangkan performans assessmen untuk afektif dengan bentuk dan desain dasar yang sama dengan yang digunakan dalam performans assessment untuk prestasi. Kita menetapkan performans apa yang akan dievaluasi, metode dan konteks apa yang digunakan, dan apa yang digunakan untuk merekam dan menyimpan hasil. ini tidak berarti pertimbangan dan pengamatan secara spontan tentang afektif tak dapat diterima. Tetapi penilai harus tetap waspada karena bisa terjadi banyak peyimpangan dalam penilaian spontan tersebut. Kesadaran untuk memberikan pelayanan harus membuat kita berhati-hati dalam melakukan penilaian afektif.

 2. Aplikasi  di Kelas

Berikut ini contoh performans assessment untuk afektif yang produktif di dalam kelas : coba katakan bahwa kita ingin menilai kecenderungan motivasi siswa dengan menerapkan keterampilan berpikir kritis yang mereka perlukan. Ingat ketika kita mengucapkan konsep semangat kritis (critical spirit) seperti yang digambarkan oleh Norris dan Ennis (1989). Perlu direncanakan untuk menilai petunjuk dan intensitas dan karakteristik afektif ini. Untuk melakukan penilaian ini kita merencakan untuk fokus pada performans individu siswa dalam suatu kelompok dengan konteks pemecahan masalah. Untuk membuat penilaian seefisien mungkin, kita meinilih secara acak siswa untuk diamati setiap hari. Selanjutnya kita akan dapat mengetahui dan penilaian utama bahwa siswa meiniliki keterampilan berpikir kritis dan kita dapat memverifikasi dengan mengetahui bagaimana dan kapan mereka membawa keterampilan tersebut dalam konteks kerja kelompok. Jadi prosedur esensial pengetahuan adalah pada tempatnya. Pertanyaannya sekarang adalah, akankah mereka menggunakan keterampilan yang sesuai ketika diamati?

3. Komunikasi Personal Sebagai Wadah Mengetahui Perasaan Siswa

Untuk mengetahui alur perasaan siswa tentang topik yang terkait dengan sekolahnya (school related topics) kita dapat mewawancarai mereka secara pribadi ataupun kelompok, berdiskusi dengan mereka, atau diskusi tentang suatu peristiwa untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam tentang sikap, nilai-nilai, pilihan, dan semacamnya.

Banyak metode yang bisa ditawarkan. Tidak seperti kuesioner, kita dapat melakukan kontak pribadi dengan responden, dan dapat memberikan pertanyaan lanjutan. Hal ini memungkinkan kita untuk mengetahui lebih jauh tentang perasaan siswa. Kita juga dapat mengumpulkan informasi langsung, menghindari kemungkinan kesalahan dalam penarikan kesimpulan. ini memberikan tingkat kepercayaan dan ketelitian yang lebih tinggi dalam hasil penilaian kita.

Kunci Sukses. Salah satu kunci sukses dalam mengetahui perasaan siswa yang sebenarnya adalah kepercayaan. Kita tidak dapat memaksakan kepercayaan. Responden harus nyaman dalam menyatakan arah dan intensitas persaannya dengan jujur. Responden yang kurang percaya akan menutup dirinya. Banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mengkomunikasikan perasaannya dengan jujur ketika diwawancara karena suatu kekhawatiran akan resiko dibocorkan, sehingga kita perlu menginformasikan bahwa informasi yang dikumpulkan tanpa nama. Kunci ke sukses yang lain adalah keluangan waktu untuk merencanakan dan melakukan penilaian bermutu tinggi. ini merupakan suatu pekerjaan intensif dalam mengumpulkan informasi.

Beberapa hal lain yang merupakan kunci sukses dalam mengatur wawancara adalah sebagai berikut:

  • Menyiapkannya dengan hati-hati
  • Memfokuskan pertanyaan, jelas, singkat, sesuai arah dan intensitas sekitar topik yang spesifik
  • Meyakinkan responden tentang alasan kita mengumpulkan informasi ini.
  • Dapatkan hasil dengan cara membangkitkan ininat terbaik siswa

Dengan kata lain, format penilaian ini memberikan tantangan yang unik.

4. Penyusunan Instrumen Afektif dan Teknik Penskorannya Penyusunan   Instrumen Afektif

            Komponen afektif ikut menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Paling tidak ada dua komponen affektif yang penting untuk diukur, yaitu sikap dan minat terhadap suatu mata pelajaran. Sikap peserta didik terhadap suatu mata pelajaran bias positif, negatif, ataupun netral. Tetntu diharapkan sikap peserta didik terhadap semua mata pelajaran positif sehingga akan timbul minat untuk belajar atau mempelajarinya. Peserta didik yang memiliki minat pada pelajaran tertentu bias diharapkan prestasi belajarnya akan meningkat secara optimal, bagi yang tidak berminat sulit untuk meningkatkannya. Oleh karena itu, guru memiliki tugas untuk membangkitkan minat peserta didik terhadap mata pelajaran yang diampunya. Dengan demikian, akan terjadi usaha yang sinergi untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran.

            Langkah pembuatan instrument affektif termasuk sikap dan minat adalah sebagai berikut:

  • Memilih ranah kognitif yang akan dinilai
  • Menentukan indikator minat
  • Memilih tipe skala yang akan digunakan
  • Menelaah instrument (oleh teman sejawat)
  • Memperbaiki instrument
  • Menyiapkan kuesioner atau inventori laopran diri
  • Menskor inventori
  • Menganalisis hasil inventori skala minat dan sikap

F. APLIKASI PADA PEMBELAJARAN KIMIA

Instumen afektif yang penting dan akan dibahas adalah sikap, minat, nilai dan konsep diri. Ada beberapa langkah yang harus diikuti dalam mengembangkan instrument afektif, yaitu :

–          Menentukan spesifikasi instrumen

–          Menulis instrumen

–          Menentukan skala pengukuran

–          Menentukan penskoran

–          Mentelaah instrumen

–          Melakukan ujicoba

–          Menganalisis hasil ujicoba

–          Melaksanakan pengukuran

–          Menafsirkan hasil pengukuran

1.      Spesifikasi Instrumen

Spesifikasi instrumen terdiri dari tujuan dan kisi-kisi instrumen. Dalam bidang pendidikan pada dasarnya pengukuran afektif ditinjau dari tujuannya ada empat macam-macam instrumen, yaitu :

  • Instrumen sikap
  • Instrumen minat
  • Instrumen konsep diri
  • Instrumen nilai

Dalam menyusun spesifikasi instrumen, ada empat hal yang harus diperhatikan yaitu :

–          Menentukan tujuan pengukuran

–          Menyusun kisi-kisi instrumen

–          Memilih bentuk dan format instrumen

–          Menentukan panjang instrumen

Instrumen minat bertujuan memperoleh informasi tentang minat siswa terhadap mata pelajaran yang selanjutnya digunakan untuk meningkatkan minat siswa terhadap suatu mata pelajaran.

Instrumen sikap bertujuan untuk mengetahui sikap siswa terhadap suatu objek, misalnya kegiatan sekolah. Sikap ini bisa positif bisa negatif. Hasil pengukuran sikap berguna untuk menentukan program pembelajaran yang tepat untuk siswa.

Instrumen konsep diri bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Insformasi kekuatan dan kelemahan siswa digunakan untuk menentukan program yang sebaiknya ditempuh oleh siswa. Hal ini berdasarkan informasi karakteristik siswa yang diperoleh dari hasil pengukuran.

Instrumen nilai  dan keyakinan bertujuan untuk mengungkap nilai dan keyakinan individu. Informasi yang diperoleh berupa nilai dan keyakinan yang positif dan yang negative. Hal-hal yang positif diperkuat sedang yang negatif diperlemah dan akhirnya dihilangkan.

Setelah tujuan afektif ditetapkan, kegiatan berikutnya adalah menyusun kisi-kisi instrument. Kisi-kisi, juga disebut blue-print, merupakan table matrik yang berisi spesifikasi instrument yang akan ditulis. Kisi-kisi ini pada dasarnya berisi tentang definisi konseptual yang ingin diukur, kemudian ditentukan definisi operasional dan selanjutnya diuraikan menjadi sejumlah indikator. Indikator ini merupakan acuan untuk menulis instrumen. Jadi pertanyaan atau pernyataan ditulis berdasarkan indikator.

 Tabel 4. Kisi-kisi instrumen Afektif

Definisi  Afektif : ……………………………………………..

No.

Indikator

Jumlah Butir

Pertanyaan/ Pernyataan

Skala

1.        
2.        
3.        
4.        
5.        

 Langkah pertama dalam pembuatan kisi-kisi adalah menentukan definisi objek yang ingin diukur. Definisi ini dilanjutkan dijabarkan menjadi sejumlah indikator. Ini merupakan pedoman dalam menulis instrumen. Tiap indikator bisa ditulis dua atau lebih butir instrument. Indikator ini menjadi acuan penulis instrumen. Salah satu format kisi-kisi dapat dilihat pada Tabel 4.

  2.      Penulisan Instrumen

Ada empat aspek dari ranah afektif yang bisa dinilai di sekolah, yaitu sikap, minat, percaya diri dan nilai.

a.      Instrumen Sikap

Definisi : Sikap, Sikap adalah perasaan positif atau negatif terhadap suatu objek. Objek ini bisa berupa kegiatan atau mata pelajaran.

Cara yang mudah untuk mengetahui sikap siswa adalah melalui kuesioner. Pertanyaan tentang sikap meminta responden menunjukkan perasaan yang positif atau negatif terhadap suatu objek, atau satu kebijakan. Kata-kata yang digunakan pada pertanyaan sikap menyatakan arah perasaan seseorang; menerima-menolak, menyenangi-tidak menyenangi, baik-buruk, diingini-tidak diingini.

Indikator sikap terhadap mata pelajaran kimia misalnya adalah :

1)      Membaca buku

2)      Interaksi dengan guru

3)      Mengerjakan tugas

4)      Diskusi tentang bahasan kimia

Contoh kuesioner :

1)      Saya senang membaca buku pelajaran kimia

2)      Saya senang belajar pelajaran kimia

3)      Saya sering bertanya pada guru tentang pelajaran Kimia

4)      Saya senang mengerjakan soal Kimia

5)      Saya selalu mencari soal-soal Kimia

6)      Dan sebagainya.

b.      Instrumen Minat

Instrumen minat bertujuan untuk memperoleh informasi tentang minat siswa terhadap suatu mata pelajaran yang selanjutnya digunakan untuk meningkatkan minat siswa terhadap suatu mata pelajaran.

Definisi : Minat adalah keingintahuan seseorang tentang keadaan suatu objek. Indikator minat, misalnya minat terhadap kimia :

1)      Manfaat belajar kimia

2)      Usaha memahami kimia

3)      Membaca buku kimia

4)      Bertanya di kelas tentang materi kimia

Contoh kuesioner :

1)      Kimia bermanfaat untuk menuju kesuksesan belajar

2)      Saya berusaha memahami mata pelajaran kimia

3)      Saya senang membaca buku yang berkaitan dengan kimia

4)      Saya selalu bertanya di kelas pada pelajaran kimia.

c.       Instrumen Konsep Diri

Instrumen konsep diri bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Informasi kekuatan dan kelemahan siswa digunakan untuk menentukan program yang sebaiknya ditempuh oleh siswa. Hal ini berdasarkan informasi karakteristik siswa yang diperoleh dari hasil pengukuran.

Definisi konsep diri adalah pernyataan tentang kemampuan diri sendiri yang menyangkut mata pelajaran. Indikator konsep diri adalah :

1)      Kekuatan diri baik aspek kognitif, psikomotor dan afektif

2)      Pelajaran yang dirasa sulit

3)      Pelajaran yang dirasa mudah

Contoh Instrumen :

1)      Saya sulit memecahkan masalah matemaika

2)      Mata pelajaran kimia mudah saya pahami

3)      Saya mampu membuat karangan yang baik

4)      Saya merasa sulit mengikuti pelajaran fisika

5)      Saya bisa bermain sepak bola dengan baik

Selain melalui kuesioner, minat siswa terhadap suatu pelajaran dapat dilihat melalui pengamatan dan dokumentasi. Melalui pengamatan dapat dilihat pada kegiatan di kelas, apakah ia sering bertanya atau tidak. Melalui dokumentasi dapat dilihat pada kelengkapan catatannya. Catatan yang baik adalah yang lengkap dan ada coretan-cpretan yang menunjukkan bahwa catatan tersebut dipelajari siswa.

d.     Instrumen Nilai

Nilai merupakan konsep penting dalam pembentukan kompetensi siswa. Pencapaian kemampuan kognitif dan psikomotorik tidak akan member manfaat bagi masyarakat, apabila tidak diikuti dengan kompetensi nilai. Kemampuan lulusan suatu jenjang pendidikan bisa baik, bila digunakan membantu orang lain, namun bisa tidak baik bila kemampuan tersebut digunakan untuk merugikan orang lain. Hal inilah letak pentingnya kemampuan afektif.

Nilai seseorang pada dasarnya terungkap melalui bagaimana ia berbuat atau keinginan berbuat. Hermin dan Simon memasukkan pada bagian nilai seperti keyakinan, sikap, aktivitas atau perasaan yang memuaskan kriteria, aktivitas atau tindakan seseorang. Tindakan merupakan refleksi dari nilai yang dianutnya.

Definisi : nilai adalah keyakinan seseorang tentang keadaan suatu objek atau kegiatan. Misalnya keyakinan akan kemampuan siswa, keyakinan tentang kinerja guru. Kemungkinan ada yang berkeyakinan bahwa prestasi siswa sulit untuk ditingkatkan. Atau ada yang berkeyakinan bahwa guru sulit untuk melakukan perubahan.

Instrumen nilai bertujuan untuk mengungkap nilai individu. Informasi yang diperoleh berupa nilai yang positif dan yang negatif. Nilai yang bersifat positif diperkuat sedang yang negatif diperlemah dan akhirnya dihilangkan.

Indikator nilai adalah :

1)      Keyakinan tentang prestasi belajar siswa

2)      Keyakinan atas keberhasilan siswa

3)      Keyakinan atas harapan orang tua

4)      Keyakinan atas dukungan masyarakat

5)      Keyakinan atas peran sekolah

Contoh kuesioner tentang nilai siswa :

1)      Saya berkeyakinan bahwa prestasi belajar siswa sulit untuk ditingkatkan

2)      Saya berkeyakinan bahwa kinerja guru sudah maksimum

3)      Saya berkeyakinan bahwa siswa yang ikut bimbingan tes cenderung akan diterima di perguruan tinggi.

4)      Saya berkeyakinan sekolah tidak akam mampu mengubah tingkat kesejahteraan masyarakat

5)      Saya berkeyakinan bahwa perubahan selalu membawa masalah

6)      Saya berkeyakinan bahwa hasil yang dicapai siswa adalah karena usahanya semata.

Selain melalui kuisioner ranah afektif siswa, sikap, minat, konsep diri dan nilai dapat digali melalui pengamatan. Pengamatan karakteristik afektif siswa dilakukan di tempat terjadinya kegiatan belajar dan mengajar. Untuk mengetahui keadaan aspek afektif siswa, guru harus menyiapkan diri untuk mencatat setiap tindakan yang muncul dari siswa yang berkaitan dengan indikator aspek afektif siswa. Untuk itu perlu ditentukan dulu indikator substansi yang akan diukur.

 3.      Skala Pengukuran

Secara garis besar skala instrumen yang sering digunakan dalam penelitian, yaitu Skala Thurstone, Skala Likert, dan Skala Beda semantic. Skala Thurstone terdiri dari 7 kategori, yang paling banyak bernilai 7 dan yang paling kecil bernilai 1. Jawaban terhadap kuesioner Skala Thustone adalah dengan member tanda v yang sesuai atau yang dipilih. Demikian pula untuk skala Likert dan skala Beda semantik.

 Tabel 5. Contoh Skala Thurstone, Minat terhadap pelajaran Kimia

No.

Pernyataan

7

6

5

4

3

2

1

1. Saya senang belajar Kimia              
2. Pelajaran Kimia bermanfaat              
3. Saya berusaha hadir tiap pelajaran Kimia              
4. Saya berusaha memiliki buku pelajaran Kimia              

 

Tabel 6. Contoh Skala Likert, Sikap terhadap pelajaran Kimia

No.

Pernyataan

5

4

3

2

1

1. Pelajaran Kimia bermanfaat          
2. Pelajaran kimia sulit          
3. Tidak semua siswa harus belajar kimia          
4. Pelajaran kimia menyenangkan          

Contoh Skala Beda Semantik :

Pelajaran Kimia

Menyenangkan !…….!…….!…….!…….!……..!……..!……..!……..!    Membosankan

Sulit                  !…….!…….!…….!…….!……..!……..!……..!……..!    Mudah

Bermanfaat      !…….!…….!…….!…….!……..!……..!……..!……..!    Sia-sia

Menantang       !…….!…….!…….!…….!……..!……..!……..!……..!    Menjemukan

Panjang instrumen berhubungan dengan masalah lama waktu responden secara umum membaca dan menjawab kuesioner. Bila waktunya lama, bisa terjadi responden tidak membaca peryataan atau pernyataan namun ia menjawab, sehingga timbul masalah validitas data. Lama pengisian instrumen sebaiknya tidak lebih dari 30 menit, apabila terpaksa dari 30 menit sebaiknya dicari waktu yang tepat bukan ketika akan pulang sekolah, tetapi di pagi hari.

Langkah pertama dalam menulis suatu pertanyaan atau peryataan adalah informasi apa yang ingin diperoleh, struktur pertanyaan, dan penilaian kata-kata. Apa yang ingin diperoleh berkaitan dengan indikator, struktur pertanyaan berkaitan dengan urutan pertanyaan dan skala yang digunakan. Pemilihan kata-kata bertujuan untuk memudahkan responden menafsirkan maksud pertanyaan atau pertanyaan, sehingga semua responden memiliki penafsiran yang sama terhadap pernyataan.

 4.      Penskoran Instrumen

Sistem penskoran yang digunakan tergantung pada skala pengukuran. Apabila digunakan skala Thurstone, maka skor tertinggi untuk tiap butir adalah 7 dan yang terkecil adalah 1. Demikian pula untuk instrumen dengan skala beda semantik, tertinggi 7 terendah 1. Untuk skala likert, skor tertinggi tiap butir adalah 4 dan yang terendah adalah 1.

Dalam pengukuran sering terjadi kecenderungan responden memilih jawaban pada kategori tiga 3 (tiga) untuk skala Likert. Untuk mengatasi hal tersebut skala Likert hanya menggunakan 4 (empat) pilihan, agar jelas sikap atau minat responden. Bila memilih 3 atau 4 tergolong positip, sedang bila memilih 1 atau 2 tergolong negatif. Contoh skala Likert dengan 4 (empat skala) adalah sebagai berikut :

Sangat setuju – setuju – tidak setuju – dan sangat tidak setuju

          4                   3                2                                 1

Hasil isian responden dalam hali ini siswa selanjutnya analisis untuk tingkat siswa dan tingkat klas, yaitu dengan mencari rerata dan simpangan baku skor. Hasil analisis selanjutnya ditafsirkan untuk mengetahui minat siswa dan minat kelas terhadap mata pelajaran kimia, maka guru dapat menyusun program peningkatan minat siswa.

 5.      Telaah Instrumen

Kegiatan pada telaah instrumen adalah meneliti tentang :

a)      Bahasa yang digunakan apa sudah komunikatif dan menggunakan tata bahasa yang benar;

b)            Apakah butir pertanyaan atau pernyataan sesuai dengan indikator;

c)            Apakah butir pertanyaan atau pertanyataan tidak bisa;

d)           Apakah format instrumen menarik untuk dibaca

e)            Apakah jumlah butir sudah tepat agar tidak menjemukan menjawabnya.

Telaah dilaksanakan oleh pakar dalam bidang yang diukur dan akan lebih baik bila disertai dengan pakar pengukuran. Telaah bisa juga dilakukan oleh teman sejawat bila yang diinginkan adalah masukan tentang bahasa dan format instrumen.

Hal penting selama melakukan telaah pertanyaan atau pernyataan yang diajukan jangan sampai bisa, yaitu mengarahkan jawaban responden pada arah tertentu, positif atau negatif.

Contoh pertanyaan yang bisa :

      Siswa yang rajin menonton televisi kreatifitasnya tinggi. Apakah saudara sering menonton televisi?

Pertanyaan yang tidak bisa :

Sebagian siswa membaca Koran tiap hari, dan sebagian lain menonton TV untuk meningkatkan kreativitasnya. Untuk meningkatkan kreativitas kegiatan apa yang dilakukan ?

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan kata-kata untuk suatu kusioner, yaitu :

  1. Gunakan kata-kata yang sederhana sesuai dengan tingkat pendidikan.
  2. Jangan samar-samar pertanyaannya.
  3. Hindari bisa pertanyaan
  4. Hindari pertanyaan hipotetikal.

Hasil telaah instrumen digunakan untuk memperbaiki instrumen. Perakitan instrumen berkaitan dengan urutan pertanyaan atau pernyataan, dimulai dari butir yang mudah dijawab. Selanjutnya ditentukan formatnya, dibuat tampilan yang menarik untuk dibaca. Sebaiknya pertanyaan dikelompokkan dengan masalah yang ditanya, dan disarankan tiap sepuluh pertanyaan dibuat kotak sendiri, sehingga mudah dibaca. Setelah dirakit instrumen selanjutnya diujicoba.

 6.      Ujicoba Instrumen

Setelah dirakit instrumen diujicobakan kepada responden, sesuai dengan tujuan penilaian apakah kepada peserta didik, kepada guru atau orang tua peserta didik. Untuk dipilih sampel yang karakteristiknya mewakili populasi yang ingin dinilai. Bila yang ingin dinilai adalah siswa SMA, maka sampelnya juga siswa SMA. Ukuran sampel yang diperlukan adalah minimal 30 siswa, biasa berasal dari satu sekolah atau lebih.

Pada saat ujicoba yang perlu dicatat adalah saran-saran dari responden atas kejelasan kalimat yang digunakan, waktu yang diperlukan mengisi instrumen. Waktu yang digunakan disarankan bukan waktu yang saat responden sudah lelah. Selain itu sebaiknya responden juga diberi minuman agar tidak lelah. Perlu diingat bahwa pengisian instrument bukan merupakan tes, sehingga walau ada batasan waktu namun tidak terlalu ketat.

Agar responden mengisi instrumen dengan akurat sesuai dengan harapan, maka sebaiknya instrumen dirancang sedemikian rupa sehingga waktu yang diperlukan mengisi instrumen tidak terlalu lama. Berdasarkan pengalaman, waktu yang diperlukan agar tidak jenuh adalah sekitar 30 menit atau kurang.

 7.      Analisis Hasil Ujicoba

Analisis hasil ujicoba meliputi variasi jawaban tiap butir pertanyaan atau pernyataan. Apabila skala instrumen 1 sampai 5, maka bila jawaban responden bervariasi dari 1 sampai 5, maka instrumen ini bisa diharapkan menjadi instrumen yang baik. Namun apabila jawabannya hanya pada satu pilihan jawaban saja, misalnya pada pilihan nomor 3, maka butir instrument ini tergolong tidak baik. Indikator yang digunakan adalah besarnya daya beda. Bila daya beda butir instrumen lebih dari 0,30, yaitu korelasi antara skor butir dengan skor total, maka butir instrumen tergolong baik.

Hasil ujicoba selanjutnya digunakan untuk perbaikan. Perbaikan dilakukan terhadap butir-butir yang tidak baik, berdasarkan hasil analisis hasil ujicoba. Bila saja hasil telaah instrumen tampak baik, namun hasil ujicoba empirik tampak tidak baik. Untuk itu butir instrument harus diperbaiki. Perbaikan termasuk pada semua saran-saran dari responden ujicoba. Instrumen harus dilengkapi dengan pertanyaan terbuka tentang saran-saran responden secara tertulis tentang instrumen tersebut.

Indikator lain yang diperhatikan indeks keandalan yang dikenal indeks reabilitas. Besarnya indeks ini adalah minimum 0,70. Bila indeks ini lebih kecil dari 0,70. Kesalahan pengukuran akan melebihi batas. Oleh karena itu diusahakan agar indeks keandalan instrumen minimum 0,70.

 8.      Penafsiran Hasil Pengukuran

Hasil pengukuran berupa skor atau angka. Menafsirkan hasil pengukuran juga disebut dengan penilaian. Untuk menafsirkan hasil pengukuran diperlukan suatu kriteria. Kriteria yang digunakan tergantung pada skala dan jumlah butir yang digunakan. Misalkan digunakan skala Likert dengan 5 (lima pilihan) untuk mengukur sikap siswa yaitu :

Sangat setuju SetujuSama SajaTidak  SetujuSangat tidak setuju

(5)                   (4)            (3)                     (2)                           (1)

Instrumen yang telah diisi dicari skor keseluruhannya, sehingga tiap siswa memiliki skor. Selanjutnya dicari rerata skor keseluruhan siswa dalam satu kelas dan simpangan bakunya. Kategorisasi hasil pengukuran menggunakan distribusi normal, dan untuk skala Likert  dengan ketentuan seperti tabel. 2 untuk minat siswa dan Tabel. 3 untuk minat kelas.

Ada 4 (empat) kategori hasil pengukuran sikap atau minat, yaitu sangat tinggi, tinggi, rendah dan sangat rendah. Penentuan skor tiap kategori ini dapat dilihat pada tabel 2. Berdasarkan kategori ini dapat ditentukan minat atau sikap peserta didik. Selanjutnya dapat dicari sikap dan minat kelas terhadap mata pelajaran tertentu. Caranya dapat dilihat pada tabel 3.

Misalkan ada 10 butir pertanyaan pada kuesioner tentang sikap atau minat seseorang terhadap pelajaran pendidikan jasmani dengan menggunakan skala Likert dengan 5 (lima) pilihan. Skor paling tinggi adalah bila peserta didik memilih sangat setuju, yaitu 5, dan skor paling rendah adalah bila peserta didik memilih jawaban sangat tidak setuju, yaitu1. Jadi skor tertinggi adalah 10 butir x 5 = 50, dan skor terendah adalah : 10 butir x 1 = 10.

Pada tabel 7 dapat diketahui minat atau sikap tiap peserta didik terhadap tiap mata pelajaran. Bila sikap peserta didik tergolong negatif atau minat peserta didik tergolong rendah, maka guru harus berusaha meningkatkan sikap dan minat peserta didik. Sedang bila sikap atau minat peserta didik tergolong positip atau tinggi, guru harus mempertahankannya.

Tabel 7. Kategori Sikap atau Minat Peserta Didik untuk 10 butir pertanyaan

No.

Skor Peserta Didik

Kategori sikap atau Minat

1. Sama atau lebih besar dari 40 Sangat positif / sangat tinggi
2. 30 sampai 39 Tinggi / positif
3. 20 sampai 29 Negatif / rendah
4. Kuarang dari 20 Sangat negative / sangat rendah

Penentuan Skor :

  1. Skor batas bawah kategori sangat positif atau sangat tinggi adalah : 0,80 x 50 = 40, dan batas atasnya 50.
  2. Skor batas bawah pada kategori tinggi atau positif adalah 0,60 x 50 = 30, dan skor batas atasnya adalah 39
  3. Skor batas bawah pada kategori negatif atau rendah adalah : 0,40 x 50 = 20, dan skor batas atasnya adalah 29
  4. Skor yang tergolong pada kategori sangat negatif atau sangat rendah adalah : kurang dari 20.

Tabel 8. Kategorisasi Sikap atau Minat Kelas

No.

Skor Peserta Didik

Kategori Sikap atau Minat

1.

Sama atau lebih besar dari 40 Sangat Positif / sangat tinggi

2.

30 sampai 39 Tinggi / positif

3.

20 sampai 29 Negatif / rendah

4.

Kurang dari 20 Sangat negatif / sangat rendah

Keterangan :

  1. Cari rerata skor kelas, yaitu jumlahkan skor semua peserta didik dibagi jumlah peserta didik
  2. Skor batas bawah kategori sangat positif atau sangat tinggi adalah : 0,80 x 50 = 40, dan batas atasnya 50
  3. Skor batas bawah pada kategori tinggi atau positif adalah 0,60 x 50 = 30, dan skor batas atasnya adalah 39
  4. Skor batas bawah pada kategori negative atau rendah adalah : 0,40 x 50 = 20, dan skor batas atasnya adalah 29.
  5. Skor yang tergolong pada kategori sangat negatif atau sangat rendah adalah : Kurang dari 20.

Melalui Tabel 8 dapat diketahui minat atau sikap kelas terhadap tiap mata pelajaran. Bila sikap siswa tergolong negatif  minat siswa tergolong rendah, maka guru harus berusaha meningkatkan sikap atau minat siswa. Bila sikap atau minat tergolong positif atau tinggi, guru harus mempertahankannya.

Tabel 8 menunjukkan minat atau sikap kelas terhadap suatu mata pelajaran. Jadi dalam pengukuran sikap atau minat diperlukan informasi tentang minat atau sikap tiap siswa dan sikap kelas terhadap mata pelajaran. Informasi ini sangat diperlukan untuk membuar program perbaikan. Bila sikap kelas cenderung positif, maka dapat disimpilkan cara mengajar guru cukup menarik perhatian siswa, sebaiknya bila sikap atau minat kelas negative, maka dapat disimpulkan bahwa kemungkinan cara mengajar guru tidak menarik. Untuk itu perlu ada usaha perbaikan dari guru.

RUJUKAN:

Direktorat Pembinaan SMA. (2004). Pedoman Pengembangan Instrumen dan Penilain Ranah Afektif. Tersedia: http://www.dikmenum.go.id  [20 April 2009].

Direktorat Pembinaan SMA. (2004). Penilaian Afektif.  Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah. Departemen Pendidikan Nasional. Tersedia: http://www.dikmenum.go.id. [15 Mei 2009].

Stiggins, R.J. (1994). Student – Centered Classroom Assessment. New York: Macmillan College Publishing Company.

Sudrajat, Akhmad. (2004). Penilaian Ranah Afektif. Tersedia: http://www.wordpress.com/2008/08/15/penilaian-ranah-afektif. [15 Mei 2009].

 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: