RSS

MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP KESETIMBANGAN KIMIA YANG TERINTEGRASI NILAI MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN INKUIRI

20 Jun

ABSTRACT

 

The Classroom Action Research is oriented to increase the mastery of chemial balancing concept that has integrated value by using inquiry learning approach. The research method, which is used, is the classroom action research. The method consist of two cycle and every cycle consist of four activities. They are planning, action, observation, and reflection. Cycle I is done twice and cycle II is done four times meeting.

Instrument which is used in this research is learning result test. The learning result test is classified into the level of items. The structured interview instrument is concerned with students’ respon to studying, observation paper for knowing how students’ inquiry skill and questioner paper for knowing student’ attitude after the take part in the study of chemical balancing concept that is integrated into religious and practical values.

Based on result of quantitative and qualitative analysis, it’s know that:1) data analysis uses N-Gain which is found N-Gain for cycle I 0,6 classified into medium and 70,4% of the students get the standard score, and students’ inquiry skill for discussing activities 75,5% and for demonstration activities 59,4%. The score of cycle II N-Gain is better than cycle I that is 0,8 high category, and 100% of students get the standard score, inquiry skill in discussing activities with inquiry approah, 88,5% and practical work with inquiry approach 77,8%. t-test average calculation result of N-Gain cycle I and II is obtained thitung 4,17 and ttable 2,05 significant standard 95%, so, thitung 4,17>ttable 2,05. It can be concluded that Ha accepted and Ho rejected. This indicate that there is significant difference to increase students’ result of study in ycle I and II. 2) Learning process of chemistry by using inquiry approach can increase sientific work ability and scientific attitude. 3) Students’ response to studying by using inquiry approach considered as good category. 4) Students’ attitude after studyingchemial balancing concept which is an integrated value that can considered a good category.

Key word: Classroom Action Research (CAR), chemical balancing, concept mastery, value approach, inqury learning approach.

 A.    PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan salah satu pokok bahasan paling penting dan aktual sepanjang zaman, karena dengan pendidikan orang menjadi maju dan mampu mengelola alam yang dikaruniakan Allah SWT kepadanya. Melalui pendidikan manusia memperoleh ilmu pengetahuan yang dapat dijadikan tuntunan dalam mengembangkan dirinya, yaitu mengembangkan semua potensi, kecakapan serta karakteristik pribadinya ke arah yang lebih positif, baik bagi dirinya maupun lingkungan sekitarnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Jhon Dewey, pendidikan merupakan proses pembentukan kemampuan dasar dan fundamental, baik menyangkut daya pikir atau daya intelektual, maupun daya emosional atau perasaan yang diarahkan kepada tabiat manusia dan kepada sesamanya.

Adapun Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang dapat dijadikan sebagai salah satu alat pendidikan yang dapat menumbuhkan pengalaman belajar secara optimal. Hal ini dikarenakan belajar IPA pada hakikatnya mempunyai tiga aspek, yaitu sebagai produk, proses, dan sikap yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu diperlukan suatu model pendekatan pembelajaran penemuan (inkuiry) di kelas.

Pembelajaran IPA yang optimal dapat mengantarkan siswa untuk memperoleh hasil belajar yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sekaligus. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sampai saat ini banyak guru yang masih menggunakan metode ceramah tradisional dalam penyajian materi dan keberhasilan pembelajaran kimia sering kali hanya dilihat dari aspek kognitif saja dan mengesampingkan aspek psikomotor serta guru sangat jarang mengaitkan materi pelajaran dengan nilai yang terkandung di dalamnya. Sehingga orientasi guru adalah berusaha agar siswa mendapat nilai yang tinggi saat ujian, tanpa memberikan perhatian lebih bahwa perlunya pengalaman langsung dalam pembelajaran kimia. Pada akhirnya siswa hanya dilatih untuk lebih banyak mengerjakan berbagai soal yang mungkin akan diujikan dan untuk memperdalam pemahaman biasanya guru menganjurkan  siswa untuk mengikuti les di luar sekolah.

Berdasarkan tujuan pendidikan di Indonesia tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada BAB II pasal 3 yang berbunyi:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Salah satu upaya agar terwujudnya generasi bangsa yang beriman dan bertakwa sesuai tujuan pendidikan nasional maka perlu diberikan sistem pengajaran yang bernuansa nilai. Karena dengan pengajaran berpikir yang bernuansa religi, budi pekerti luhur, dan budaya bangsa yang melekat pada setiap bidang studi, khususnya pengajaran sains yang bernuansa Iptek dan Imtaq dapat menciptakan kondisi sistem pendidikan religius, edukatif, dan ilmiah.

Pembelajaran sains bernuansa Imtaq diarahkan kepada sistem pendidikan nilai dan berdampak kepada pencarian kebenaran yang menghilangkan dikotomi antara kebenaran agama dan kebenaran sains (Suroso, A. 2005:30). Hal ini disebabkan karena agama bersifat memayungi kebenaran sains, dan kebenaran sains menambah keyakinan beragama. Dengan paradigma pendidikan sains yang diintegrasikan dengan nilai ini diharapkan menghasilkan manusia cerdas, kreatif inovatif, terampil, dan memiliki pribadi dengan budi pekerti luhur, serta sikap moral sesuai dengan tuntunan agama dan masyarakat yang berlaku.

Berdasarkan uraian dan latar belakang di atas, penerapan nuansa nilai ke dalam pembelajaran sains-kimia diharapkan dapat membuka cakrawala berpikir peserta didik agar lebih bersemangat untuk memotivasi diri dalam belajar sains-kimia dalam memahami dan menguasai Iptek, juga meningkatkan Imtaq untuk senantiasa belajar dari hukum alam dan ayat-ayat Allah SWT yang tersurat/tersirat dalam Al-qu’ran, agar ia senantiasa berusaha menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

Dari latar belakang itulah maka dengan digunakannya pendekatan pembelajaran inkuiri diharapkan dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa pada konsep kesetimbangan kimia yang diintegrasikan dengan nilai.

Identifikasi Area dan Fokus Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah di atas, maka ada beberapa hal yang dapat diidentifikasi antara lain:

a.       Adanya dampak negatif dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendorong bergesernya nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat khususnya pelajar.

b.      Perlunya upaya internalisasi nilai-nilai religi dan nilai-nilai praktis dalam pembelajaran sains-kimia guna mencegah bergesernya nilai moral dan dikhotomi agama dan sains.

c.       Pendekatan pembelajaran seperti apakah yang dapat meningkatkan dan memperbaiki proses pembelajaran sains-kimia yang lebih mengedepankan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang?

d.      Apakah pendekatan pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa terhadap konsep kesetimbangan kimia yang terintegrasi nilai?

Perumusan Masalah Penelitian

Adapun perumusan masalah berdasarkan pembatasan masalah di atas yaitu “Apakah penerapan pendekatan pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa pada konsep kesetimbangan kimia yang terintegrasi nilai?”

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan penguasaan konsep siswa pada konsep kesetimbangan kimia yang terintegrasi nilai setelah diterapkannya pendekatan pembelajaran inkuiri serta untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran yang memperhatikan aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif.

B.     DESKRIPSI TEORITIS

1.      Pendekatan Pembelajaran Inkuiri (Inquiry Based Learning)

Inkuiri berasal dari bahasa Inggris inquiry yang dapat diartikan sebagai proses bertanya dan mencari tahu jawaban terhadap pertanyaan ilmiah yang diajukan. Pertanyaan ilmiah ini adalah pertanyaan yang dapat mengarahkan pada kegiatan penyelidikan terhadap objek pertanyaan. Dengan kata lain, inkuiri adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan atau eksperimen untuk  mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis  (Ibrahim, M, 2008).

Menurut Ratna Wilis Dahar, “metode inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri”. Melakukan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri berarti membelajarkan siswa untuk mengendalikan situasi yang dihadapi ketika berhadapan dengan dunia fisik yaitu dengan menggunakan teknik yang digunakan oleh para ahli penelitian seperti dalam merumuskan masalah, mengajukan pertanyaan, menentukan langkah-langkah penelitian, membuat ramalan, dan menjelaskan hasil penelitian.

Menurut Sund pengajaran dengan inkuiri mempunyai proses mental yang lebih kompleks misalnya merumuskan masalah, merancang eksperimen, menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Dalam pelaksanaan inkuiri dibutuhkan sikap-sikap objektif, jujur, terbuka, penuh dorongan ingin tahu, dan tangguh dalam pengajaran.

Menurut Hamalik (1991), pengajaran berdasarkan inkuiri adalah “suatu strategi yang berpusat pada siswa dimana kelompok-kelompok siswa dihadapkan pada suatu persoalan atau mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di dalam suatu prosedur dan struktur kelompok yang digariskan secara jelas”. Menurut Darmodjo dan Kaligis (1992), “pendekatan inkuiri mendambakan aktivitas siswa untuk memperoleh dan mengolah informasi sampai menemukan konsep-konsep IPA”. Informasi dapat diperoleh melalui berbagai sumber misalnya dari observasi, eksperimen narasumber di luar sekolah, alam sekitar, dan sebagainya. Pada prinsipnya proses inkuiri ini adalah identifikasi dan pernyataan masalah, mengembangkan hipotesis, pengumpulan data, pengujian hipotesis dan perumusan keterampilan (Dewey dan Maxim, 1983).

Kuslan dan Stone memberikan definisi operasional tentang metode inkuiri sebagai berikut: pengajaran inkuiri merupakan pengajaran dimana guru dan anak-anak mempelajari peristiwa-peristiwa ilmiah dengan pendekatan dan jiwa para ilmuwan atau para scientist. Pendekatan inkuiri penemuan merupakan pendekatan yang mementingkan pembelajaran melalui pengalaman.

Menurut NRC (1996) pembelajaran berbasis inkuiri meliputi kegiatan: observasi, mengajukan pertanyaan, memeriksa buku-buku dan sumber-sumber lain untuk melihat informasi yang ada, merencanakan penyelidikan, merangkum apa yang sudah diketahui dalam bukti eksperimen, menggunakan alat untuk mengumpulkan, menganalisa, dan menginterpretasikan data, mengajukan jawaban, penjelasan, dan prediksi serta mengkomunikasikan hasil.

Standar ini lebih dari apa yang disebut sains sebagai proses, yang dipelajari oleh siswa dengan keterampilan yang terputus-putus seperti mengamati, menginferensi, dan bereksperimen. Ketika inkuiri diberlakukan, siswa mampu mendeskripsikan objek dan peristiwa, mengajukan pertanyaan, merancang penjelasan, menguji penjelasannya, melawan pengetahuan ilmiah yang ada saat ini, dan mengkomunikasikan gagasan mereka satu sama lain. Mereka menentukan asumsi, berpikir kritis dan logis, dan mempertimbangkan penjelasan alternatif (KSECWC. 1999). Esensi inkuiri bukan terletak dari elaborasi atau latihan menggunakan alat lab tapi lebih menekankan pada interaksi antar siswa dengan materi sebagaimana interaksi guru dengan siswa atau siswa dengan siswa (NRC, 2000).

Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan inkuiri adalah pendekatan yang ditujukan untuk membantu siswa mengembangkan disiplin intelektual dan keahlian yang diperlukan untuk memunculkan masalah dan menemukan pemecahan masalah tersebut (konsep-konsep, prinsip-rinsip, hukum-hukum, dan teori-teori baru) oleh siswa itu sendiri, sehingga siswa menjadi penemu pemecahan masalah yang independen (independent problem solver).

Adapun tahapan pembelajaran inkuiri adalah

Tabel 1. Tahapan Pembelajaran Inkuiri

Inkuiri Terstruktur

 

Inkuiri Terbimbing

 

Inkuiri

Bebas

Siswa mengikuti dengan tepat instruksi dari guru untuk menyelesaikan kegiatan hands-on dengan sempurna

 Siswa mengembangkan cara kerja untuk menyelidiki pertanyaan yang dipilih atau diberikan guru. Siswa mengajukan pertanyaan tentang topik yang dipilih guru dan merencanakan sendiri proses penyelidikannya.

Bonnstetter (1998) menggambarkan tingkatan inkuiri sebagai sebuah proses evolusioner sebagaimana tercantum pada gambar 1. Untuk setiap tingkatan inkuiri Bonnstetter menunjukkan perubahan peran guru dalam pembelajaran, yaitu peran guru akan semakin berkurang dan lebih menuju pada peningkatan peran siswa sebagaimana tercantum pada tabel berikut ini:

Tabel 2. Rangkaian Tingkatan Inkuiri

Traditional Hands-on

Terstruktur (Structured)

Terbimbing (Guided)

Student Directed/

Student Research

Topik

Guru

Guru

Guru

Guru

Guru/siswa

Pertanyaan

Guru

Guru

Guru

Guru/siswa

Siswa

Alat dan bahan

Guru

Guru

Guru

Siswa

Siswa

Prosedur/desain

Guru

Guru

Guru/siswa

Siswa

Siswa

Hasil/analisis

Guru

Guru/siswa

Siswa

Siswa

Siswa

Kesimpulan

Guru

Siswa

Siswa

Siswa

Siswa

Traditional Hands-on

Structured

Guided

Student Directed

Student Research

Diatur Guru ———————Pengaturan———————-   > Siswa

Exogenous ————>Perkembangan Kognitif >————- Endogenous

Fokus pada mengajar ———Pembelajaran————>Fokus pada belajar

 

Gambar 1. Evolusi Inkuiri: Sebuah Cara untuk Mencapai Tujuan

Bonnstetter mengungkapkan bahwa setidaknya perubahan dari praktikum tradisional menuju inkuiri terbimbing dapat menciptakan hasil akhir yang cukup menggembirakan. Perubahan tersebut akan mengubah peranan guru, perkembangan intelektual siswa dan bahkan suasana pembelajaran. Gambar 1 menunjukkan bagaimana inkuiri digunakan untuk mengubah kelas menjadi berpusat pada siswa dan menciptakan kelas menjadi lebih fokus pada belajar bukan pada guru yang mengajar.

2.    Hakikat Nilai

Menurut A. Kosasih Djahiri yang dikutip oleh Syaeful Anwar menyatakan bahwa ”nilai merupakan ide atau konsep mengenai apa yang penting dan bertautan dengan etika dan estetika”. Nilai adalah tuntunan mengenai apa yang baik, benar, adil, dan indah. Nilai merupakan standar untuk mempertimbangkan dan mamilih prilaku apa yang pantas dan tidak pantas atau tidak baik dilakukan. Sebagai standar, nilai membantu seseorang menentukan apakah ia suka terhadap sesuatu atau tidak. Dalam hal  yang lebih kompleks, nilai akan membantu orang menentukan apakah sesuatu itu baik atau buruk tentang objek, orang, ide, gaya perilaku dan yang lainnya.

Menurut Einstein nilai merupakan emosi yang paling indah dan mendalam, yang dapat kita alami ialah kesadaran akan perkara-perkara yang sifatnya spiritual/mistik. Kesadaran itu merupakan kekuatan segala ilmu pengetahuan yang sejati (Suroso, 2007).

Menurut Djahiri dalam Al Rasyidin, beliau memaknai nilai dalam dua arti, yakni: (1) nilai merupakan harga yang diberikan seseorang atau sekelompok orang terhadap sesuatu yang didasarkan pada tatanan nilai (value system) dan tatanan keyakinan (belief system) yang ada dalam diri atau kelompok manusia yang bersangkutan. Harga yang dimaksud dalam hal ini adalah harga afektual, yakni harga yang menyangkut dunia afektif manusia; (2) nilai merupakan isi pesan, semangat atau jiwa, kebermaknaan (fungsi peran) yang tersirat atau dibawakan sesuatu(Al-Rasyid, 2007).

Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka penulis menyimpulkan bahwa nilai merupakan segala sesuatu yang menjadi tuntunan yang dipandang baik atau tidak baik terhadap sesuatu immaterial, personal, kondisional atau harga yang dibawakan oleh suatu objek dan sangat berarti bagi kehidupan manusia.

Macam-macam Nilai

Pengklasifikasian nilai bermacam-macam tergantung dari sudut pandang yang berbeda. Menurut Damodjo dalam Yudianto ilmu pengetahuan alam memiliki nilai sosial (etika, estetika, moral atau humaniora), nilai ekonomi, dan nilai psikologis atau paedagogis. Sedangkan menurut Spranger nilai terbagi menjadi enam, yaitu: nilai ekonomi, nilai ilmiah, nilai sosial, nilai kekuasaan, nilai estetika, dan nilai religius. Hal tersebut berbeda pula dengan pendapat Einstein yang menyatakan bahwa sains memiliki lima nilai, yaitu sebagai berikut:

1)      Nilai praktis; adalah nilai kemanfaatan suatu bahan ajar yang dikaitkan dengan segi-segi praktis bagi kehidupan manusia.

2)      Nilai intelektual; adalah kandungan nilai yang mengajarkan kecerdasan seseorang dalam menggunakan akalnya untuk memahami sesuatu dengan tidak mempercayai tahayul atau kebenaran mitos, tetapi agar lebih kritis, analitis, dan kreatif terhadap pemecahan suatu masalah yang lebih efektif dan efisien.

3)      Nilai sosial-politik-ekonomi; Nilai sosial suatu bahan ajar menunjukkan satu kesatuan faktor-faktor yang berinteraksi sehingga menimbulkan fenomena dalam suatu bahan ajar sains itu yang berupa konsep, prinsip-prinsip, teori dalam sains.

4)      Nilai pendidikan; adalah kandungan nilai yang dapat memberi inspirasi atau ide untuk pemenuhan kebutuhan manusia dengan belajar dari prinsip-prinsip atau aturan-aturan yang berlaku dalam sains.

5)      Nilai religius; adalah kandungan nilai yang dapat membangkitkan rasa percaya atau keyakinan bahwa sesuatu yang ada mesti ada yang menciptakannya atau yang mengaturnya, yang pada akhirnya timbul kesadaran akan adanya Tuhan yang Maha Esa sehingga dapat bertindak sesuai dengan perintah-Nya dan dapat berlaku bijak dengan alam sekitarnya.

Kerangka Berpikir

Dalam deskripsi teori telah ditelusuri bahwa metode inkuiri telah lama diperkenalkan oleh para ahli, namun dalam pelaksanaanya masih banyak guru yang belum menerapkan metode ini dalam proses belajar mengajar kepada muridnya. Hal ini disebabkan karena adanya beberapa kendala dan kurangnya motivasi guru untuk melaksanakannya di samping dari pihak siswanya sendiri, karena metode inkuiri cenderung akan sesuai apabila diterapkan pada siswa yang memiliki daya kreatif yang tinggi dan secara aktif mau terlibat dalam proses belajar mengajar.

Dalam kegiatan inkuiri siswa dituntut untuk mampu mengembangkan dan menggunakan mentalnya untuk menemukan sendiri prinsip-prinsip dari masalah yang dihadapinya. Mereka akan bersikap seperti ilmuwan dalam memperoleh suatu teori atau membuktikan teori, sehingga keterlibatan langsung dalam proses belajar mengajar yang aktif adalah salah satu indikator keberhasilan untuk mendapat hasil yang optimal. Melalui metode inkuiri ini siswa dimotivasi untuk berbuat, melibatkan diri dengan aktivitas sendiri. Diusahakan kadar keterlibatan siswa semaksimal mungkin, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna, khususnya untuk mata pelajaran kimia. Hal itu dikarenakan ilmu kimia merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang memiliki konsep abstrak  dan sulit dicerna oleh siswa

Belajar merupakan suatu proses psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif subyek dengan lingkungannya dan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap yang bersifat konstan. Sedangkan untuk mengukur berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran mencapai tujuan belajar yang diharapkan dapat dilihat dari hasil belajarnya.

Ilmu kimia merupakan salah satu mata pelajaran yang bersifat abstrak yang sangat sulit untuk dipahami oleh siswa. Adapun kesetimbangan kimia adalah salah satu materi kimia yang memiliki konsep yang abstrak dan sulit untuk dipahami oleh siswa, apalagi oleh siswa yang baru mendapat pelajaran tentang kesetimbangan kimia. Untuk itu diperlukan metode dan strategi penyampaian yang menarik dan menyenangkan  agar materi yang disampaikan mudah dipahami, pembelajaran lebih bermakna, serta membuat siswa menjadi lebih aktif dan bersemangat dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Pengintegrasian nilai-nilai religi dan praktis terhadap konsep pembelajaran kimia merupakan salah satu bentuk internalisasi perwujudan tujuan pendidikan nasional yang ingin menciptakan insan kamil. Pengintegrasian ini diharapkan dapat berpengaruh positif terhadap pembentukan sikap siswa yang senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta dapat mewujudkan pribadi yang beriman dan bertaqwa sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh norma agama dan masyarakat. Sehingga dapat menciptakan insan kamil yang memiliki pribadi yang seimbang antara jasmani dan rohaninya.

 C.    METODOLOGI PENELITIAN

1.      Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMA Muhammadiyah 3 Jakarta, pada semester ganjil tahun ajaran 2007/2008. Waktu penelitian dari tanggal 20 Oktober-25 November 2008.

2.      Metode Penelitian dan Desain Intervensi Tindakan

Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang dilakukan dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan, dan  melakukan refleksi. Pada siklus kedua dapat dibuat revisi tindakan untuk tujuan yang belum tercapai pada siklus pertama dan seterusnya.

3.      Subjek Partisipan yang Terlibat dalam Penelitian

Pihak yang terkait dalam penelitian ini adalah guru kimia, observer, dan siswa kelas XI IPA1 yang berjumlah 27 orang. Guru kimia dalam penelitian ini terlibat sebagai peneliti. Sedangkan siswa kelas XI IPA1 sebagai subjek dari penelitian ini.

4.      Instrumen Penelitian

Data dan sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh baik dari siswa maupun guru kelas. Data untuk analisis kebutuhan terhadap proses pembelajaran diambil dari hasil wawancara dengan guru, kuesioner siswa, dan laporan hasil belajar siswa. Data saat proses pembelajaran berlangsung diambil dari lembar observasi, lembar kerja siswa, wawancara bebas dengan siswa, dan hasil kuesioner siswa tiap akhir siklus, serta catatan lapangan. Sedangkan sumber data hasil belajar diperoleh dari hasil tes siswa yang diberikan setiap awal dan akhir siklus.

5.      Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel dberikut ini:

Tabel 2. Teknik Pengumpulan Data

No

Kegiatan

Teknik Pengumpulan Data

1. Penelitian pendahuluan Wawancara dengan guru dan siswa, dan angket siswa.
2. Proses pembelajaran Catatan lapangan guru kimia

Lembar observasi kegiatan belajar siswa3.Evalusi tiap siklus

Mengerjakan soal tes

Mengisi kuesioner

Wawancara

Tes hasil belajar tiap awal dan akhir siklus

Kuesioner siswa mengenai tanggapan dan sikap siswa terhadap pembelajaran yang telah dilakukan yang diberikan pada akhir siklus

Wawancara dengan siswa pada akhir siklus

6.      Teknik Pemeriksaan Keterpercayaan (Trustwortines) Studi

Adapun teknik  keterpercayaan studi yang digunakan adalah statistik deskriptif kuantitatif. Dalam pengumpulan data diperlukan instrumen yang reliabel, maka perlu mendeskripsikan reliabilitas dan validitas.

7.      Analisis Data dan Intervensi Hasil Analisis

1)    Skor Gain (Gain N)

Gain adalah selisih antara nilai postest dan pretest, gain menunjukkan peningkatan pemahaman atau penguasaan konsep siswa setelah pembelajaran dilakukan guru. Gain skor ternormalisasi menunjukkan tingkat efektivitas perlakuan daripada perolehan skor atau postest (Hake, 1999).

Rumus gain menurut Meltzer (2002) adalah:

Indeks Gain = (postes-pretes)/skor max

Terdapat tiga kategorisasi perolehan skor gain ternormalisasi: g-tinggi: Nilai g>0,7; g-sedang: Nilai 0,7≥g≥0,3; g-rendah: Nilai g<0,3. Setelah didapatkan nilai rata-rata N-Gain siklus I dan siklus II kemudian dilakukan pengujian dua sampel dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan peningkatan hasil belajar siswa pada kedua siklus. Pengujian dua sampel dilakukan dengan uji-t (Pair Sampel T Test).

2)   Analisis Sikap dan Respon Siswa Setelah Mempelajari Konsep Kesetimbangan Kimia yang Terintegrasi Nilai Religi dan Praktis

Nilai yang menunjukkan sikap siswa setelah mempelajari konsep kesetimbangan kimia yang terintegrasi nilai diperoleh dengan mencari persentase (frekuensi relatif) dari setiap pernyataan pada lembar kuesioner, yaitu menggunakan rumus (Sudjiono, ):

Persentase = A/B

A= frekuensi kategori yang muncul, B= frekuensi kategori seluruhnya

 D.    HASIL DAN PEMBAHASAN

a.      Analisis Penguasaan Konsep Berdasarkan Nilai Rata-rata N-Gain

Skor rata-rata pretest, postest, dan nilai N-Gain pada siklus I dan siklus II dapat di lihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 3. Skor Rata-rata Pretest, Postest, dan N-Gain Siklus I dan II

SIKLUS I

SIKLUS II

Pretest

postest

N-Gain

Pretest

Postest

N-Gain

20,1

66,4

0,6

21,3

83,3

0,8

SD

13,2

18,2

0,2

9,6

9,7

0,1

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa pada siklus I sebelum dilakukan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inkuiri diperoleh rata-rata skor pretest siswa tentang subkonsep kesetimbangan dinamis, kesetimbangan homogen dan heterogen, serta tetapan kesetimbangan (Kp dan Kc) adalah 20,1 termasuk kedalam kategori kurang. Namun setelah kegiatan pembelajaran pada siklus I, rata- rata skor postest siswa menjadi 66,4 dan termasuk dalam kategori cukup. Selanjutnya pada siklus II, rata-rata skor pretest siswa tentang subkonsep faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran kesetimbangan, perhitungan tetapan kesetimbangan (Kp, Kc, dan hubungannya), serta penerapan kesetimbangan dalam industri dan alam adalah 21,3 dan termasuk pada kategori kurang. Namun setelah kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inkuiri pada siklus II, rata-rata skor postest siswa meningkat menjadi 83,3 dan termasuk dalam kategori sangat baik.

Dengan menghitung selisih antara nilai pretest dan postest maka diperoleh nilai N-Gain pada tiap siklusnya. Nilai rata-rata N-Gain pada siklus I  adalah 0,6. Berdasarkan kategori perolehan skor gain ternormalisasi maka hal ini menunjukkan bahwa g-sedang (nilai 0,7≥g≥0,3). Sedang pada siklus II nilai rata-rata N-Gain meningkat menjadi 0,8 dan berdasarkan kategorisasi skor gain ternormalisasi maka hal ini menunjukkan bahwa g-tinggi (nilai g>0,7).

Skor nilai siswa yang berupa nilai postest kemudian dikonversikan dengan nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran kimia yang ditetapkan disekolah tersebut yaitu ≥65. Adapun kriteria ketuntasan minimal ideal yang ditargetkan peneliti adalah sebesar 100%. Adapun persentase jumlah siswa yang sudah mencapai KKM dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4. Persentase Siswa Mencapai KKM

Siklus

% siswa mencapai KKM

I

70,4

II

100

Berdasarkan tabel di atas, persentase jumlah siswa yang mencapai nilai KKM mengalami peningkatan pada siklus II yaitu menjadi 100% dari siklus I yaitu 70,4%. Berarti pada siklus II seluruh siswa sudah mencapai KKM dalam pembelajaran kimia pada konsep kesetimbangan kimia.

b.      Hasil Analisis Penguasaan Konsep Siswa Tiap Indikator

Setelah diketahui data-data hasil pretest dan postest siklus I dan siklus II, maka dapat dilihat penguasaan konsep siswa tiap indikatornya. Data-data hasil pretes dan postest kemudian dianalisis untuk melihat penguasaan konsep siswa kelompok atas, tengah, dan bawah tiap indikator. Kelompok atas, tengah, dan bawah diketahui berdasarkan nilai midtest siswa pada semester ganjil. Data penguasaan konsep siswa disajikan dalam bentuk persentase yang dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 5. Persentase Rata-rata Penguasaan Konsep Hasil Pretest dan Postest Siswa Tiap Indikator pada Siklus I

Indikator

Rata-rata Kelompok (Pretest)

Rata-rata Kelompok (Postest)

Atas

Tengah

Bawah

Atas

Tengah

Bawah

1

62,5%

50,0%

38,4%

87,5%

75,0%

78,6%

2

38,0%

14,0%

24,0%

96,0%

83,0%

71,4%

3

19,0%

12,0%

13,0%

63,8%

58,0%

53,0%

Keterangan:  Indikator: dapat menjelaskan (1) Kesetimbangan dinamis; (2) Kesetimbangan homogen dan heterogen; (3) Menjelaskan tetapan kesetimbangan.

Tabel 6. Persentase Rata-rata Penguasaan Konsep Hasil Pretest dan Postest Siswa tiap Indikator pada Siklus II

Indikator

Rata-rata Kelompok (Pretest)

Rata-rata Kelompok (Postest)

Atas

Tengah

Bawah

Atas

Tengah

Bawah

1

23,0%

33,0%

31,0%

93,0%

98,0%

91,0%

2

12,5%

27,1%

14,3%

100,0%

100,0%

93,0%

3

9,0%

8,0%

11,0%

91,0%

85,0%

96,0%

4

12,5%

14,6%

35,8%

75,0%

70,8%

57,2%

5

13,0%

31,0%

14,0%

79,0%

81,0%

76,0%

6

8,3%

19,5%

23,8%

58,3%

61,1%

42,9%

7

50,0%

37,5%

42,9%

100,0%

100,0%

92,9%

Keterangan:  Indikator: siswa mampu (1) Meramalkan arah pergeseran kesetimbangan dengan menggunakan azas Le Chatelier; (2) Menyimpulkan pengaruh perubahan suhu, tekanan, dan volume pada pergeseran kesetimbangan melalui percobaan; (3) Menafsirkan data percobaan mengenai konsentrasi pereaksi dan hasil reaksi pada keadaan setimbang untuk menentukan derajat disosiasi dan tetapan kesetimbanagan; (4) Menghitung harga Kc berdasarkan konsentrasi; (5) Menghitung harga Kp berdasarkan tekanan parsial gas pereaksi dan hasil reaksi pada keadaan kesetimbangan; (6) Menghitung harga Kc berdasarkan harga Kp atau sebaliknya; (7) Menjelaskan kondisi optimum untuk memproduksi bahan-bahan kimia di industri yang didasarkan pada reaksi kesetimbangan.

Dari tabel persentase di atas, dalam kaitannya dengan penguasaan konsep kesetimbangan kimia terdapat perbedaan antara siswa kelompok atas, tengah, dan bawah pada tiap indikator setiap siklusnya. Pada siklus I persentase nilai rata-rata pretest terbesar diperoleh oleh kelompok atas pada indikator 1 yaitu 62,5% dan persentase nilai rata-rata terkecil diperoleh oleh kelompok tengah pada indikator 3 yaitu 12%. Sedangkan persentase nilai rata-rata postest terbesar pada siklus I  diperoleh kelompok atas pada indikator 2 yaitu 96% dan persentase nilai rata-rata terkecil diperoleh oleh kelompok bawah pada indikator 3 yaitu 53%.

Adapun pada siklus II persentase nilai rata-rata pretest terbesar diperoleh oleh kelompok atas pada indikator 7 yaitu 50,0% dan persentase nilai rata-rata terkecil diperoleh oleh kelompok tengah pada indikator 3 yaitu 8%. Sedangkan persentase nilai rata-rata postest terbesar pada siklus II  diperoleh kelompok atas dan tengah pada indikator 2 dan 7 yaitu 100% dan persentase nilai rata-rata terkecil diperoleh oleh kelompok bawah pada indikator 6 yaitu 42,9%. Namun pada umumnya pada semua kelompok nilai rata-rata persentasenya mengalami kenaikan tiap indikatornya. Data-data di atas dapat juga dilihat dalam gambar berikut ini:

Gambar 3.  Persentase Rata-rata Penguasaan Konsep Siswa tiap Indikator pada Siklus I

Gambar 3.  Persentase Rata-rata Penguasaan Konsep Siswa tiap    Indikator pada Siklus II

Berdasarkan data histogram di atas dapat terlihat bahwa dalam kaitannya dengan penguasaan konsep kesetimbangan kimia terdapat perbedaan antara siswa kelompok atas, tengah, dan bawah pada tiap indikatornya. Namun secara umum nilai rata-rata penguasaan konsep tiap indikator mengalami peningkatan baik pada kelompok atas, tengah, dan bawah. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa pada setiap indikator.

c.       Hasil Uji Persyaratan Analisis Data dengan Uji-t

Setelah didapatkan nilai rata-rata N-Gain siklus I dan siklus II kemudian dilakukan pengujian dua sampel dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan peningkatan hasil belajar siswa pada kedua siklus. Pengujian dua sampel dilakukan dengan uji-t (Pair Sampel T Test). Berdasarkan hasil pengujian dua sampel uji-t diperoleh thitung sebesar 4,17 dengan derajat kebebasan 26 pada taraf kesalahan 5% atau keterpercayaan 95%. Pengujian apakah hipotesis tindakan diterima atau ditolak. Harga thitung dibandingkan dengan ttabel. Berdasarkan tabel distribusi ”t” untuk taraf kesalahan 5% dengan derajat kebebasan (df) yang besarnya n-1, (df = n-1=27-1=26) diperoleh ttabel 2,05.

Nilai thitung lebih besar dari ttabel (4,17>2,05), maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak. Artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara peningkatan hasil belajar pada siklus I dan siklus II.

1.    Sikap Siswa setelah Mempelajari Konsep Kesetimbangan yang Terintegrasi Nilai Religi dan Praktis

Berdasarkan lembar angket yang disebarkan pada akhir siklus II maka didapatkan sikap siswa setelah mempelajari konsep kesetimbangan kimia yang terintegrasi nilai religi dan praktis adalah positif dengan rata-rata persentase siswa yang menunjukkan sikap positif sebesar 88,9% dan rata-rata persentase siswa yang menunjukkan sikap negatif sebesar 11,9%.

2.    Respon Siswa terhadap Kegiatan Pembelajaran yang telah Dilakukan

Berdasarkan lembar wawancara terstruktur yang disebarkan pada akhir siklus kedua maka didapatkan respon siswa terhadap pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inkuiri dan respon siswa terhadap dampak pembelajaran yang diintegrasikan dengan nilai religi dan praktis pada konsep kesetimbangan kimia menunjukkan bahwa hampir seluruh siswa memberikan respon yang positif terhadap tindakan pembelajaran yang telah diterapkan. Siswa merasa sangat senang melakukan kegiatan praktikum di laboratorium. Siswa juga menilai bahwa pembelajaran kimia dengan kegiatan inkuiri dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar memahami konsep kesetimbangan kimia. Hal ini terjadi karena dengan kegiatan inkuiri siswa dapat menemukan dan membuktikan sendiri konsep yang dipelajari sehingga daya retensi mereka terhadap konsep yang diajarkan lebih lama dan lebih bermakna serta dapat meningkatkan sikap ilmiah meskipun masih ada siswa merasa kesulitan dalam memahami konsep kesetimbangan kimia.

Adapun respon siswa terhadap materi pelajaran yang terintegrasi nilai juga memberikan respon yang positif. Siswa merasa akan pentingnya materi pelajaran yang diitegrasikan dengan nilai religi dan praktis. Hal itu dikarenakan untuk meminimalisir adanya dikhotomi antara agama dan sains sehingga siswa  sebagai makhluk Allah SWT dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya serta selalu bersyukur terhadap semua yang dikarunikan-Nya kepada mereka.

2.      Pembahasan Hasil Temuan

Penguasaan konsep yang diperoleh pada siklus I tentang kesetimbangan dinamis, kesetimbangan homogen dan heterogen, serta tetapan kesetimbangan belum mencapai kriteria yang diharapkan (ketuntasan belajar 100%). Jumlah siswa yang sudah mencapai nilai KKM dalam pembelajaran IPA kimia baru 19 siswa (70,4%). Disamping itu, berdasarkan penguasaan konsep siswa tiap indikator menunjukkan bahwa persentase nilai rata-rata pretest terbesar diperoleh oleh kelompok atas pada indikator 1 (konsep kesetimbangan kimia) sebesar 62,5% dan persentase nilai rata-rata terkecil diperoleh oleh kelompok tengah pada indikator 3 (tetapan kesetimbangan kimia) sebesar 12,0%. Sedangkan persentase nilai rata-rata postest terbesar pada siklus I  diperoleh kelompok atas pada indikator 2 (kesetimbangan homogen dan heterogen) yaitu 96% dan persentase nilai rata-rata terkecil diperoleh oleh kelompok bawah pada indikator 3 (tetapan kesetimbangan kimia) yaitu sebesar 53%.

Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang belum memahami konsep yang diberikan. Begitu juga aktivitas belajar yang menunjukkan kemampuan inkuiri siswa belum tercapai dengan optimal. Dalam diskusi kelompok maupun demonstrasi masih banyak siswa yang sibuk mengobrol, bercanda, menggangu kelompok lain, tidak serius dalam mengikuti prosedur yang dicantumkan dalam Lembar Kerja Siswa (LKS). Pada kegiatan diskusi kelas jumlah siswa yang bertanya maupun yang menanggapi pertanyaan masih sedikit dan terbatas hanya pada siswa yang berkemampuan lebih dan memiliki keberanian. Hal ini disebabkan oleh kebiasan siswa sebelumnya yaitu siswa lebih banyak mendengarkan dan mencatat informasi yang disampaikan oleh guru dan sering menunggu penjelasan guru. Kebiasaan ini masih terbawa ketika mereka sedang mengikuti pembelajaran inkuiri dengan metode demonstrasi dan diskusi. Hal ini menunjukkan bahwa siswa belum bisa bekerjasama dalam memecahkan masalah dan menumbuhkan rasa rasa tanggung jawab dalam dirinya masing-masing. Sehingga pembelajaran pada siklus ini masih perlu ditingkatkan lagi guna mencapai pembelajaran yang optimal.

Setelah dilanjutkan dengan tindakan pembelajaran pada siklus II ternyata hasil belajar siswa melebihi nilai yang diharapkan, jumlah siswa yang sudah mencapai KKM sebanyak 100%. Adapun persentase penguasaan konsep siswa berdasarkan tiap indikator, persentase nilai rata-rata pretest terbesar diperoleh oleh kelompok atas pada indikator 7 (menjelaskan kondisi optimum untuk memproduksi bahan-bahan kimia di industri yang didasarkan pada reaksi kesetimbangan) sebesar 50,0% dan persentase nilai rata-rata terkecil diperoleh oleh kelompok tengah pada indikator 3 (menafsirkan data percobaan mengenai konsentrasi pereaksi dan hasil reaksi pada keadaan setimbang untuk menentukan derajat disosiasi dan tetapan kesetimbangan) sebesar 8%. Sedangkan persentase nilai rata-rata postest terbesar pada siklus II  diperoleh kelompok atas dan tengah pada indikator 2 (Menyimpulkan pengaruh perubahan suhu, tekanan, dan volume pada pergeseran kesetimbangan melalui percobaan) dan indikator 7 (menjelaskan kondisi optimum untuk memproduksi bahan-bahan kimia di industri yang didasarkan pada reaksi kesetimbangan) yaitu 100% dan persentase nilai rata-rata terkecil diperoleh oleh kelompok bawah pada indikator 6 (Menghitung harga Kc berdasarkan harga Kp atau sebaliknya) yaitu 42,9%.

Hal ini menunjukkan bahwa semua siswa sudah memahami konsep kesetimbangan kimia. Disamping itu juga kemampuan inkuiri siswa mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat pada rata-rata skor keseluruhan jenis kemampuan inkuiri siswa pada siklus II. Rata-rata kemampuan inkuiri siswa sudah mencapai 77,8% dalam kegiatan praktikum dan 88,5% dalam kegiatan diskusi kelompok. Hal ini dapat ditunjukkan dengan kemampuan siswa dalam menyampaikan hasil temuan mereka dalam kegiatan praktikum dan diskusi.

Adapun sikap siswa setelah diberikan penjelasan tentang konsep kesetimbangan kimia yang terintegrasi nilai religi dan praktis menunjukkan respon yang positif. Hal ini menunjukkan bahwa hampir seluruh siswa telah menilai bahwa pembelajaran kimia yang terintegrasi nilai sangat penting untuk dipelajari dengan harapan meningkatkan rasa syukur, keimanan, dan ketakwaan kita kepada sang Maha Esa dan mengetahui seberapa besar peranan konsep kesetimbangan kimia dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu,  penerapan nuansa nilai ke dalam pembelajaran sains-kimia diharapkan dapat membuka cakrawala berpikir peserta didik agar lebih bersemangat untuk memotivasi diri dalam belajar sains-kimia dalam memahami dan menguasai Iptek, juga meningkatkan Imtaq untuk senantiasa belajar dari hukum alam dan ayat-ayat Allah SWT yang tersurat/tersirat dalam Al-qu’ran, agar ia senantiasa berusaha menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

Melalui pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inkuiri siswa dapat membuktikan dan menemukan sendiri konsep kesetimbangan kimia. Siswa mulai dikenalkan mengenai keterampilan-keterampilan dasar dalam kerja ilmiah. Di samping itu, dengan metode praktikum dan diskusi ini siswa dapat terlatih untuk menganalisis suatu permasalahan dengan cermat sehingga siswa dengan sendirinya dapat mengembangkan daya kreativitas siswa untuk menemukan hubungan baru mengenai konsep yang dimiliki dengan permasalahan yang dihadapi. Serta mengembangkan kemampuan kerja ilmiah yang mereka miliki.

Hal ini sejalan dengan pendapat Sund yang menyatakan bahwa pengajaran dengan inkuiri mempunyai proses mental yang lebih kompleks misalnya merumuskan masalah, merancang eksperimen, menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Dalam pelaksanaan inkuiri dibutuhkan sikap-sikap objektif, jujur, terbuka, penuh dorongan ingin tahu, dan tangguh dalam pengajaran. Sejalan pula dengan yang dikatakan Roestiyah bahwa penggunakan metode praktikum ini mempunyai tujuan agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atas persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Siswa juga dapat terlatih dalam cara berpikir yang ilmiah (scientific thinking). Dalam praktikum siswa menemukan bukti kebenaran dari teori sesuatu yang sedang dipelajarinya.

Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri merangsang keaktifan siswa dalam berpikir ilmiah sehingga siswa dapat mengemukakan berbagai ide atau gagasan mengenai pemecahan permasalahan. Dengan kerjasama yang baik siswa dapat bertukar ide atau gagasan dari setiap alternatif pemecahan masalah dengan sesama rekan kelompoknya. Hal ini tentu saja dapat menyatukan berbagai pendapat yang berbeda sehingga dapat diperoleh satu gagasan yang tepat mengenai pemecahan masalah yang dihadapi.

Kembali lagi pada hakikat pembelajaran IPA sebagai aspek produk dan proses maka untuk mencapai tujuan dalam pembelajaran kimia yang merupakan bagian dari IPA tidak dapat dipisahkan dari kedua kegiatan tersebut. Dalam memahami dan menguasai konsep-konsep kimia, siswa tidak hanya cukup diberikan penjelasan verbal dari suatu konsep tersebut akan tetapi siswa perlu diberikan pemahaman lebih lanjut melalui pengalaman langsung untuk membuktikan kebenaran dari sebuah konsep. Karena dengan melakukan sendiri siswa akan lebih memahami apa yang mereka pelajari (learning by doing) dan mereka memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna sehingga retensi mereka terhadap suatu konsep akan lebih lama. Hal ini sejalan dengan pendapat Ellis dalam Budi Eko yang menyatakan bahwa dalam pendekatan inkuiri siswa dapat terlibat dalam kesempatan belajar dengan derajat self-direction yang lebih besar, siswa dapat mengembangkan sikap yang baik untuk kegiatan belajar, dan siswa dapat menjaga dan menggunakan informasi untuk periode yang lebih lama (dalam Frederick, 1991).

Penerapan pendekatan pembelajaran inkuiri selama tindakan pembelajaran berlangsung dapat meningkatkan kualitas penguasan konsep siswa. Hal itu dikarenakan dengan keterampilan inkuiri yang dimilikinya, dapat membantu siswa dalam menemukan dan membuktikan suatu jawaban dari suatu permasalahan yang mereka hadapi. Keberhasilan siswa dalam mengatasi masalah dalam diskusi maupun praktikum mengantarkan mereka dalam memahami dan meningkatkan penguasan konsep. Tingkat penguasan konsep siswa dapat dilihat dari hasil belajar mereka selama tindakaan pembelajaran. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian dalam 2 siklus bahwa hasil belajar siswa terus meningkat sampai pada kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan inkuiri melalui kegiatan pembelajaran diskusi dan praktikum dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa pada konsep kesetimbangan kimia.

Dalam mempelajari IPA, seorang guru dapat menggunakan media apa saja sebagai sumber belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran. Seperti dengan halnya dengan praktikum di laboratorium yang merupakan salah satu tempat untuk menemukan dan memecahkan masalah. Dengan kegiatan praktikum mengajak siswa untuk belajar IPA dengan menyenangkan. Lingkungan belajar yang menyenangkan dapat membantu siswa untuk lebih termotivasi dalam proses belajar. Sebelumnya mereka menganggap pelajaran IPA khusunya kimia adalah pelajaran yang membosankan dan memusingkan karena terlalu banyak hafalan dan rumus-rumus. Namun setelah kegiatan inkuiri (diskusi dan praktikum) ini siswa terlihat lebih aktif dalam proses belajar mengajar dan siswa lebih termotivasi lagi untuk belajar.

Berdasarkan pernyataan di atas, seorang guru dituntut untuk memiliki kemampuan untuk memilih dan menentukan metode pembelajaran yang bervariasi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Hal tersebut diantaranya pemilihan metode dan pendekatan yang tepat untuk suatu konsep yang akan disampaikan.

 E.     PENUTU

KESIMPULAN

Setelah dilakukan tindakan pembelajaran berupa kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inkuiri, hasil penguasaan konsep siswa pada konsep kesetimbangan kimia yang terintegrasi nilai setiap siklusnya mengalami peningkatan. Pada siklus I rata-rata skor pretest siswa mencapai 20,1 dan rata-rata skor postest sudah mencapai 66,4 dengan nilai N-Gain 0,6 pada kategori sedang. Namun dilihat dari hasil persentase jumlah siswa yang sudah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dalam pembelajaran kimia (≥65), belum mencapai kriteria yang diharapkan (rata-rata 70,4%). Setelah dilakukan perbaikan pada siklus II hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan dengan rata-rata skor pretest mencapai 21,3 dan rata-rata skor postest sebesar 83,3 dengan nilai N-Gain 0,8 pada kategori tinggi.

Setelah dilakukan pembelajaran yang diintegrasikan dengan nilai religi dan praktis secara umum sikap siswa menunjukkan ke arah yang positif yaitu dengan jumlah persentase siswa yang menunjukkan sikap positif 88,9% dan sikap negatif (11,1%).

SARAN

Penerapan pendekatan pembelajaran inkuiri ini hendaknya digunakan untuk pembahasan konsep kesetimbangan kimia dan konsep lain secara kontinyu, lebih kreatif, dan inovatif.

Perlunya intensifikasi kegiatan pembelajaran inkuiri (praktikum) dalam pembelajaran IPA khususnya kimia, karena dengan learning by doing siswa akan  memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mempelajari IPA yang mengandung hakikat produk, proses dan sikap.

Guru hendaknya lebih memahami konsep, karakteristik, langkah-langkah, dan evaluasi dari pendekatan pembelajaran inkuiri agar hasil yang diperoleh setelah pembelajaran lebih baik.

Guru hendaknya menggunakan variasi pendekatan dan metode pembelajaran agar siswa dapat lebih memahami materi yang dipelajari serta menciptakan suasana pembelajaran yang tidak membosankan dan monoton. Guru juga hendaknya mengintegrasikan nilai dalam penyampaian materi pelajaran agar siswa mengetahui dan memahami hubungan nilai dengan sains.

Guru dan pihak sekolah harus terus meningkatkan upaya dalam pengoptimalan laboratorium sebagai salah satu sumber belajar dalam pembelajaran IPA.

 
Leave a comment

Posted by on June 20, 2011 in ISUE KEPENDIDIKAN

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: